The Riot

The Riot
Avoid



07.30


Sinar matahari menerobos masuk begitu saja melalui celah-celah kain gorden yang menutupi ruangan. Sepertinya matahari sudah naik sepenuhnya. Gadis itu terbangun karena suara berisik di sekitarnya. Orang-orang sudah kembali memulai aktivitasnya seperti biasa.


Dengan mata yang masih segaris, Agatha membenarkan posisi tubuhnya. Sejak tadi malam, ia tertidur di samping ranjang pria itu dengan salah satu tangan yang digenggam erat oleh Arjuna. Tampaknya perkataannya yang kemarin itu benar adanya. Arjuna tak ingin gadis ini pergi terlalu jauh darinya. Padahal selama ini Arjuna juga sudah biasa melakukan segalanya sendirian. Ia bahkan sudah hidup sendirian sejak pertama kali memulai kariernya di kota ini.


Ternyata benar apa kata orang-orang. Sebagian manusia yang selama ini terlihat paling kuat sekali pun akan menjadi begitu manja pada saat-saat tertentu. Bukan hanya itu saja. Mereka juga akan lebih manja di hadapan orang-orang tertentu juga. Apakah Agatha salah satunya? Entahlah, dia sedang tidak ingin memikirkan hal yang terlalu berat seperti itu pagi-pagi begini.


Setelah nyawanya terkumpul seutuhnya, gadis itu segera beranjak dari tempat duduknya. Kemudian beralih menuju jendela untuk membuka gorden. Membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam dan memenuhi seisi ruangan dengan sinar kejinggaannya.


Sama sekali tidak ada tanda-tanda jika Arjuna akan segera bangun. Mungkin sebentar lagi. Hari ini ia bisa beristirahat dengan sepuasnya. Tidak perlu mencemaskan soal tugas yang ada di kantor. Orang-orang pasti bisa memaklumi kondisinya seperti apa sekarang.


Agatha kini beralih ke kamar mandi. Dia perlu membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar. Poin utamanya di sini adalah untuk mengusir rasa kantuk.


Gadis itu mungkin akan tetap di sini sampai beberapa menit lagi. Sebelum pada akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Hari ini ia sama sekali tidak berencana untuk pergi ke markas. Meski seharusnya Agatha melakukan yang satu itu. Tapi, sejak ia melanggar peraturan untuk pertama kalinya, Agatha jadi berpikir dua kali untuk kembali ke sana.


Kemarin malam ia melewatkan undangan untuk perjamuan makan malam begitu saja. Sejak pergi dari markas kemarin siang, Agatha tidak pernah lagi menunjukkan batang hidungnya di hadapan mereka. Bahkan dihubungi saja tidak bisa. Sudah lebih dari lima puluh panggilan masuk tercatat dari berbagai sumber. Yang paling mendominasi di sana adalah Immanuel.


Sebenarnya mereka bisa aja melacak lokasi terkini gadis itu. Atau mungkin sekarang mereka tengah melakukannya. Itu berarti dia harus segera kembali ke rumah. Tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Atau jika tidak, Agatha mungkin akan membahayakan Arjuna lagi untuk yang ke sekian kalinya.


"Sepertinya dia tidur terlalu nyenyak," gumam Agatha sambil memandangi wajah pria itu dari ambang pintu.


Dia sudah bersiap untuk pergi. Menjaga jarak dengan Arjuna untuk beberapa saat mungkin adalah pilihan terbaik. Agatha mungkin akan terluka. Tapi tidak dengan pria itu. Jika mereka berdua tidak saling berdekatan antara satu sama lain, maka kemungkinan besar salah satunya pasti akan selamat. Dan orang itu adalah Arjuna.


"Sampai bertemu lagi," pamitnya.


Kebetulan sekali sedang ada lift kosong. Jadi, gadis itu buru-buru masuk ke dalamnya. Setelah pintu lift tertutup, barulah ia bisa bernapas dengan lega. Sungguh bukan sesuatu yang menyenangkan. Ia bahkan terpaksa harus melakukan segala sesuatu dengan mengendap-endap seperti seorang pencuri. Padahal mereka adalah rekan satu timnya di kantor. Namun, karena satu dan lain hal dia terpaksa menghindari mereka semua dengan dalih keamanan.


"Kenapa mereka semua datang ke sini pagi-pagi sekali?" gumam gadis itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sungguh, ia sedang tak habis pikir. Untuk pertama kalinya Agataha mendapati seseorang menjenguk pasien pada pukul segini. Bahkan Arjuna saja belum bangun. Entah memang mereka tidak memiliki pekerjaan lain atau hanya terlalu bersemangat. Agatha juga tahu kalau mereka pasti diam-diam sedang mencemaskan kondisi pria itu. Tidak jauh berbeda dengan Agatha kemarin. Tapi, tidak sepagi ini juga.


***


Terlepas dari semua itu, ia memutuskan untuk tidak terlalu ambil pusing. Terserah mereka saja. Lagipula itu bukan urusannya sama sekali.


"Karena hari ini aku tidak berencana untuk pergi ke markas, lantas apa yang harus kulakukan sekarang?" gumamnya sambil berbaring di atas kasur.


Ia baru saja selesai mandi. Rasanya jauh lebih baik dan segar ketimbang sebelumnya. Dengan begitu, Agatha berharap agar otaknya dapat bekerja dengan maksimal. Ia lelah dikecewakan berulang kali oleh organ yang satu itu. Terkadang Agatha jadi tampak seperti manusia paling bodoh di muka bumi ini.


Agatha hanya ingin menikmati sisa harinya untuk hari ini. Padahal hari baru, baru saja akan dimulai.


Saat ini ponselnya sedang melakukan isi ulang daya. Benda yang satu itu jadi mati total setelah kemarin ia membiarkannya menyala selama satu hari satu malam. Ditambah dengan panggilan non stop dari Immanuel dan teman-temannya yang lain. Tunggu dulu, rival lebih tepatnya. Ia bahkan tidak sudi untuk menyebut mereka sebagai teman lagi setelah apa yang mereka lakukan terhadap Arjuna. Lagi pula tujuan awalnya datang kemari bukan untuk mencari teman. Melainkan sebagai mata-mata.


Sepertinya Agatha akan tetap mematikan ponselnya selama satu hari penuh. Alasan utamanya adalah demi ketenangan. Bagaimana bisa ia bersikap tenang saat orang-orang tak jelas itu terus berusaha untuk meneleponnya. Agatha merasa seperti sedang diteror. Alasan kedua adalah demi keamanan. Mereka tidak akan bisa memantau lokasi terbaru Agatha jika ponselnya mati.


Untuk urusan tempat tinggal, tidak perlu cemas. Karena semua hal yang tercantum di kartu identitas palsu itu jelas saja tidak benar. Dari judulnya saja sudah bisa ditebak kalau semua itu palsu. Penyamarannya sebagai mata-mata utusan kepolisian akan segera terungkap. Cepat atau lambat, semua orang pasti akan segera mengetahui kebenarannya.


Kejutan yang bahkan tidak lagi terasa mengejutkan bagi sebagian orang. Sebab mereka sudah menduganya sejak awal. Agatha sudah siap untuk apa pun itu. Bahkan jika kemungkinan terburuknya adalah harus meninggalkan dunia ini jauh lebih cepat dari apa yang ia bayangkan. Tidak masalah. Sebab, itu memang sudah menjadi konsekuensinya sejak awal. Agatha menerima segala risikonya dalam keadaan sadar. Ia siap untuk apa pun itu.