
Semua orang mendadak
diminta untuk berkumpul di markas utama. Tidak diberikan banyak waktu sejak
pengumuman disebar luaskan. Mereka semua hanya diberi kesempatan sekitar lima
belas menit. Kurang dari waktu yang sudah ditentukan, semuanya harus sudah
sampai di markas.
Agatha bahkan
menggerutu sebal karena dibangunkan tengah malam seperti ini. Memangnya ada
perlu apa sampai harus memanfaatkan waktu pergantian hari. Seperti tidak ada
hari lain saja. Padahal mereka masih bisa melakukan diskusi besok. Lagi pula
besok belum kiamat. Setidaknya masih tersisa beberapa haris ebelum hari itu
benar-benar terjadi.
Tanpa pikir panjang,
Agatha buru-buru bangkit dari tempat tidurnya dan lekas bersiap. Meski ia tidak
suka dengan cara mereka membangunkannya di tengah malam seperti ini, Agatha
tetap saja tidak bisa menolak. Dia harus sampai di sana tepat waktu. Tidak boleh
sampai terlambat, apalagi tidak datang. Bisa-bisa ia terkena masalah lagi.
Bukan dengan anggota lain. Tapi, langsung menghadapi Hiraeth.
Karena tak memiliki
banyak waktu untuk bersiap, gadis itu langsung mengambil jaket dan kunci sepeda
motornya. Bahkan ia tidak bisa berjalan dengan tenang selama menuju ke
parkiran. Matanya selalu saja tertuju ke arah penunjuk waktu yang berada di
pergelangan tangannya. Memastikan kalau benda itu menunjukkan waktu yang tepat.
“Aish! Kenapa lift ini
terasa begitu lambat!” sarkasnya sambil menghentakkan kaki. Berharap agar benda
yang satu ini bisa bergerak dengan lebih cepat.
Padahal Agatha memang
sengaja menggunakan lift agar lebih cepat sampai ke parkiran. Tapi, ya seperti
yang semua orang tahu jika kecepatananya juga terbatas. Setidaknya kau bisa
sampai jauh lebih cepat jika menggunakan lift dari pada harus berjalan melalui
tangga.
Agatha hanya perlu
sedikit bersabar. Sebentar lagi ia akan sampai di parkiran. Begitu pintu
liftnya terbuka, Agatha langsung berjalan dengan kecepatan penuh. Ini bukan
lagi berjalan. Berlari-lari kecil namanya. Apa pun itu akan ia lakukan, selama
bisa mencapai sepeda motornya dengan cepat.
Saat gadis itu melihat
kembali jam tangannya, hanya tersisa waktu sekitar tiga belas menit. Perjalanan
dari lantai atas ke parkiran berhasil memakan waktu sekitar dua menit sendiri.
Seharusnya perjalanan kedua, dari tempat tinggalnya ke markas utama tidak akan
berlangsung lama. Agahta bisa memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi di
jalanan. Sekarang pasti sudah banyak ruas jalan yang lengang, atau bahkan
kosong karena tidak ada kendaraan yang melintas di sana sama sekali.
Dugaannya memang tepat
sekali, tidak pernah meleset. Jalanan pada saat tengah malam hingga pukul tiga
dini hari nanti memang selalu sepi. Ini bukan pertama kalinya gadis itu pergi
ke jalanan dan berkendara pada pukul segitu. Sudah cukup sering. Jadi, Agatha
sduah hapal betul ruas jalan mana saja yang seharusnya sepi.
Agatha memacu
kendaraannya di atas kecepatan rata-rata yang dianjurkan. Sebenarnya, ia sudah
melanggar salah satu peaturan lalu lintas yang ada. Tapi, gadis itu bahkan
tidak peduli sama sekali. Ia bersikap acuh tak acuh. Saat ini dirinya merupakan
salah stu bagian dari kelompok mafia ternama, bukan lagi staff kepolisian. Jadi,
rasanya tisak masalah jika Agatha berbuat demikian. Gadis itu juga memang bukan
termasuk tipikal orang yang akan memusingkan sesuatu yang belum pasti.
‘TIIINN!!!’
Suara klakson mobil
tersebut mendadak muncul dengan nyaring di tengah kesunyian malam. Itu sebab
Agatha menyelonong masuk begitu saja di persimpangan jalan. Padahal di saat
yang bersamaan mobil pribadi itu juga akan melaju. Beruntung Agatha memiliki
gerakan refleks yang cepat. Jadi ia bisa menghindari kecelakaan yang mungkin
“Hei! Perhatikan jalanmu!”
seru si pengendara mobil. Namun, Agatha sama sekali tidak menghiraukannya. Ia terus
melaju dan meninggalkan tempat tersebut tanpa perasaan bersalah sama sekali. Sekarang
ia sedang buru-buru. Tidak ada waktu untuk melayani orang sepertinya.
Agatha berhasil sampai
di parkiran gedung sekitar sepuluh menit. Perjalanannya termasuk lebih cepat
dari pada biasanya. Itu pun karena Agatha memacu kendaraannya. Kalau tidak,
mungkin bisa memakan waktu sekitar lima belas menit jika berkendara dengan
kecepatan normal. Itu belum termasuk dengan waktu untuk naik turun lift dan
sitasu-situasi tambahan lainnya. Tapi karena mengebut, Agatha jadi bisa
menghemat sekitar lima menit.
Sejauh ini ia hanya
memiliki sisa waktu sekitar tiga menit. Tidak sampai lima menit. Sebab, dua
menitnya lagi sudah digunakan untuk turun ke parkiran. Sekarang yang harus ia
lakukan adalah naik ke lantai paling atas. Lebih tepatnya lantai nomer tiga
dari lantai teratas. Sekarang tidak perlu menunggu orang lain untuk naik ke
atas. Agatha sudah memiliki kartu akses dan bisa menggunakannya sekarang.
Selama berada di dalam
lift, ia jadi lebih sering mengecek jam tangannya. Entah kenapa waktu terasa
begitu memburu. Ia harus berpacu dengan waktu. Padahal waktu berjalan dengan
normal seperti biasanya. Namun, entah kenapa jadi terasa dua kali lebih cepat
jika kau sedang ditempatkan pada posisi yang terburu-buru.
‘CEKLEK!’
Semua mata kini tertuju
kepadanya. Tepat setelah gadis itu membuka pintu utama di ruang rapat.
Tampaknya semua orang sudah berada di tempat duduknya masing-masing. Hanya ada
satu kursi kosong di sana. Sepertinya itu memang milik Agatha.
“Masih tersisa empat
puluh lima detik lagi. Jadi, aku belum terlambat,” kata gadis itu dengan
gamblang.
“Baiklah, silahkan
masuk Nona Rienna,” persilahkan Hiraeth.
Tanpa pikir panjang, ia
segera mengiyakan perkatana pria itu. Kemudian pergi ke tempat duduk yang dimaksud.
“Sepertinya sudah
lengkap. Semua orang sudah berada di sini, dan waktunya juga sudah tiba. Jadi, lebih baik jika kita mulai dengan segera,” ujar
Hiraeth.
Sudah bisa ditebak jika
pria itu yang akan memimpin jalannya diskusi kali ini. Sejak awal hanya dia
saja yang berbicara. Sementara itu, yang lainnya tidak akan bicara kalau tidak
di suruh atau belum gilirannya. Meski terlihat berandalan dan sering melanggar
aturan yang sudah dibuat dengan sedemikian rupa, namun ternyata mereka tidak
selamanya bersikap buruk. Mereka cukup patuh dan disiplin. Apalagi kalau itu
soal waktu.
“Jadi begini, kita akan
melakukan penyerangan terhadap markas Hato tepat pukul empat pagi nanti,” ungkap
Hiraeth.
“Apa? Kenapa terlalu
cepat?” batin Agatha.
Tidak bisa dipungkiri. Gadis
itu memang cukup terkejut sekarang. Bagaimana bisa Hiraeth sudah menjadwalkan
penyerangannya. Padahal Agatha sama sekali tidak tahu apa yang harus ia
lakukan. Jangan bilang kalau hanya gadis itu saja satu-satunya orang yang tidak
tahu apa-apa di sini.
“Pasti bukan hanya aku
saja yang merasa terkejut kan?” batinnya lagi dalam hati.
Tapi,
sepertinya raut wakah mereka berhasil mematahkan asumsi gadis ini. Tebakannya salah.