The Riot

The Riot
Waking Up at Midnight



Semua orang mendadak


diminta untuk berkumpul di markas utama. Tidak diberikan banyak waktu sejak


pengumuman disebar luaskan. Mereka semua hanya diberi kesempatan sekitar lima


belas menit. Kurang dari waktu yang sudah ditentukan, semuanya harus sudah


sampai di markas.


Agatha bahkan


menggerutu sebal karena dibangunkan tengah malam seperti ini. Memangnya ada


perlu apa sampai harus memanfaatkan waktu pergantian hari. Seperti tidak ada


hari lain saja. Padahal mereka masih bisa melakukan diskusi besok. Lagi pula


besok belum kiamat. Setidaknya masih tersisa beberapa haris ebelum hari itu


benar-benar terjadi.


Tanpa pikir panjang,


Agatha buru-buru bangkit dari tempat tidurnya dan lekas bersiap. Meski ia tidak


suka dengan cara mereka membangunkannya di tengah malam seperti ini, Agatha


tetap saja tidak bisa menolak. Dia harus sampai di sana tepat waktu. Tidak boleh


sampai terlambat, apalagi tidak datang. Bisa-bisa ia terkena masalah lagi.


Bukan dengan anggota lain. Tapi, langsung menghadapi Hiraeth.


Karena tak memiliki


banyak waktu untuk bersiap, gadis itu langsung mengambil jaket dan kunci sepeda


motornya. Bahkan ia tidak bisa berjalan dengan tenang selama menuju ke


parkiran. Matanya selalu saja tertuju ke arah penunjuk waktu yang berada di


pergelangan tangannya. Memastikan kalau benda itu menunjukkan waktu yang tepat.


“Aish! Kenapa lift ini


terasa begitu lambat!” sarkasnya sambil menghentakkan kaki. Berharap agar benda


yang satu ini bisa bergerak dengan lebih cepat.


Padahal Agatha memang


sengaja menggunakan lift agar lebih cepat sampai ke parkiran. Tapi, ya seperti


yang semua orang tahu jika kecepatananya juga terbatas. Setidaknya kau bisa


sampai jauh lebih cepat jika menggunakan lift dari pada harus berjalan melalui


tangga.


Agatha hanya perlu


sedikit bersabar. Sebentar lagi ia akan sampai di parkiran. Begitu pintu


liftnya terbuka, Agatha langsung berjalan dengan kecepatan penuh. Ini bukan


lagi berjalan. Berlari-lari kecil namanya. Apa pun itu akan ia lakukan, selama


bisa mencapai sepeda motornya dengan cepat.


Saat gadis itu melihat


kembali jam tangannya, hanya tersisa waktu sekitar tiga belas menit. Perjalanan


dari lantai atas ke parkiran berhasil memakan waktu sekitar dua menit sendiri.


Seharusnya perjalanan kedua, dari tempat tinggalnya ke markas utama tidak akan


berlangsung lama. Agahta bisa memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi di


jalanan. Sekarang pasti sudah banyak ruas jalan yang lengang, atau bahkan


kosong karena tidak ada kendaraan yang melintas di sana sama sekali.


Dugaannya memang tepat


sekali, tidak pernah meleset. Jalanan pada saat tengah malam hingga pukul tiga


dini hari nanti memang selalu sepi. Ini bukan pertama kalinya gadis itu pergi


ke jalanan dan berkendara pada pukul segitu. Sudah cukup sering. Jadi, Agatha


sduah hapal betul ruas jalan mana saja yang seharusnya sepi.


Agatha memacu


kendaraannya di atas kecepatan rata-rata yang dianjurkan. Sebenarnya, ia sudah


melanggar salah satu peaturan lalu lintas yang ada. Tapi, gadis itu bahkan


tidak peduli sama sekali. Ia bersikap acuh tak acuh. Saat ini dirinya merupakan


salah stu bagian dari kelompok mafia ternama, bukan lagi staff kepolisian. Jadi,


rasanya tisak masalah jika Agatha berbuat demikian. Gadis itu juga memang bukan


termasuk tipikal orang yang akan memusingkan sesuatu yang belum pasti.


‘TIIINN!!!’


Suara klakson mobil


tersebut mendadak muncul dengan nyaring di tengah kesunyian malam. Itu sebab


Agatha menyelonong masuk begitu saja di persimpangan jalan. Padahal di saat


yang bersamaan mobil pribadi itu juga akan melaju. Beruntung Agatha memiliki


gerakan refleks yang cepat. Jadi ia bisa menghindari kecelakaan yang mungkin


“Hei! Perhatikan jalanmu!”


seru si pengendara mobil. Namun, Agatha sama sekali tidak menghiraukannya. Ia terus


melaju dan meninggalkan tempat tersebut tanpa perasaan bersalah sama sekali. Sekarang


ia sedang buru-buru. Tidak ada waktu untuk melayani orang sepertinya.


Agatha berhasil sampai


di parkiran gedung sekitar sepuluh menit. Perjalanannya termasuk lebih cepat


dari pada biasanya. Itu pun karena Agatha memacu kendaraannya. Kalau tidak,


mungkin bisa memakan waktu sekitar lima belas menit jika berkendara dengan


kecepatan normal. Itu belum termasuk dengan waktu untuk naik turun lift dan


sitasu-situasi tambahan lainnya. Tapi karena mengebut, Agatha jadi bisa


menghemat sekitar lima menit.


Sejauh ini ia hanya


memiliki sisa waktu sekitar tiga menit. Tidak sampai lima menit. Sebab, dua


menitnya lagi sudah digunakan untuk turun ke parkiran. Sekarang yang harus ia


lakukan adalah naik ke lantai paling atas. Lebih tepatnya lantai nomer tiga


dari lantai teratas. Sekarang tidak perlu menunggu orang lain untuk naik ke


atas. Agatha sudah memiliki kartu akses dan bisa menggunakannya sekarang.


Selama berada di dalam


lift, ia jadi lebih sering mengecek jam tangannya. Entah kenapa waktu terasa


begitu memburu. Ia harus berpacu dengan waktu. Padahal waktu berjalan dengan


normal seperti biasanya. Namun, entah kenapa jadi terasa dua kali lebih cepat


jika kau sedang ditempatkan pada posisi yang terburu-buru.


‘CEKLEK!’


Semua mata kini tertuju


kepadanya. Tepat setelah gadis itu membuka pintu utama di ruang rapat.


Tampaknya semua orang sudah berada di tempat duduknya masing-masing. Hanya ada


satu kursi kosong di sana. Sepertinya itu memang milik Agatha.


“Masih tersisa empat


puluh lima detik lagi. Jadi, aku belum terlambat,” kata gadis itu dengan


gamblang.


“Baiklah, silahkan


masuk Nona Rienna,” persilahkan Hiraeth.


Tanpa pikir panjang, ia


segera mengiyakan perkatana pria itu. Kemudian pergi ke tempat duduk yang dimaksud.


“Sepertinya sudah


lengkap. Semua orang sudah berada di sini, dan waktunya juga sudah tiba. Jadi,  lebih baik jika kita mulai dengan segera,” ujar


Hiraeth.


Sudah bisa ditebak jika


pria itu yang akan memimpin jalannya diskusi kali ini. Sejak awal hanya dia


saja yang berbicara. Sementara itu, yang lainnya tidak akan bicara kalau tidak


di suruh atau belum gilirannya. Meski terlihat berandalan dan sering melanggar


aturan yang sudah dibuat dengan sedemikian rupa, namun ternyata mereka tidak


selamanya bersikap buruk. Mereka cukup patuh dan disiplin. Apalagi kalau itu


soal waktu.


“Jadi begini, kita akan


melakukan penyerangan terhadap markas Hato tepat pukul empat pagi nanti,” ungkap


Hiraeth.


“Apa? Kenapa terlalu


cepat?” batin Agatha.


Tidak bisa dipungkiri. Gadis


itu memang cukup terkejut sekarang. Bagaimana bisa Hiraeth sudah menjadwalkan


penyerangannya. Padahal Agatha sama sekali tidak tahu apa yang harus ia


lakukan. Jangan bilang kalau hanya gadis itu saja satu-satunya orang yang tidak


tahu apa-apa di sini.


“Pasti bukan hanya aku


saja yang merasa terkejut kan?” batinnya lagi dalam hati.


Tapi,


sepertinya raut wakah mereka berhasil mematahkan asumsi gadis ini. Tebakannya salah.