The Riot

The Riot
Attack



Agatha menyugar rambutnya. Sesekali juga memijat pelipisnya pelan. Sungguh dia tidak bisa tenang jika begini caranya. Tidak sampai mengetahui bagaimana keadaan pria itu sekarang.


“Kenapa aku tidak bisa bersikap biasa saja?” batinnya di dalam hati.


“Aku harus mengendalikan diriku sendiri. Tidak boleh begini terus,” timpalnya.


Perlahan namun pasti, ia mulai berangsur untuk melupakan segala kecemasan yang ada di dalam dirinya. Untuk apa mencemaskan sesuatu yang bahkan belum tentu akan terjadi. Beban pikirannya hanya akan bertambah tanpa ia sadari.


Belakangan ini selalu ada saja hal-hal yang membuatnya merasa cemas. Tidak tenang. Memangnya sejak kapan hidup Agatha bisa tenang. Tidak pernah. Jadi, sebenarnya dunia yang memang tidak adil atau manusia saja yang kurang merasa bersyukur.


Agatha sudah bertekad di dalam hatinya untuk menyelesaikan misi ini sendirian. Itu pun kalau terjadi sesuatu yang buruk kepada Arjuna, sehingga menyebabkan pria itu tidak bisa melanjutkan misi mereka bersama. Tidak masalah. Berhadapan dengan para pelaku kriminal sudah menjadi makanan sehari-harinya. Agatha yakin betul kalau kali ini dia juga pasti bisa melaluinya. Meski tidak mudah, tapi dia tahu kalau itu pasti bisa berlalu.


“Mau ikut bersamaku?” tanya Zean.


“Kemana?” tanya gadis itu balik.


Padahal ia baru saja kembali beberapa saat yang lalu. Tapi, sekarang malah ingin pergi lagi. Kenapa urusannya tidak selesai-selesai. Hal tersebut jadi membuat Agatha bertanya-tanya apakah mereka ternyata sesibuk itu.


“Tidak ada, hanya berkendara keliling kota. Bagaimana?” tanya pria itu lagi di akhir.


“Tidak dulu,” tolak Agatha dengan mentah-mentah tanpa mengurangi rasa kesopanan.


Padahal dia perlu sesuatu untuk mengalihkan rasa cemasnya. Tapi, sepertinya pergi ke jalanan bukan sesuatu yang tepat. Masih ada tempat lain untuk mengalihkan perhatiannya. Tidak harus jalanan. Agatha tidak ingin kembali mengulang masa lalunya.


“Sebaiknya aku tetap di sini saja,” ungkap gadis itu secara terang-terangan kepada Zean.


“Baiklah, kalau begitu tidak masalah,” balasnya.


Kedua sudut bibir Agatha kemudian terangkat tanpa ia sadari. Sehingga membentuk seutas senyum tipis. Tidak terlalu tampak jelas kalau ia sedang tersenyum. Namun, orang yang sudah memperhatikannya sejak tadi pasti tahu perubahan emosi pada gadis itu. Terlihat cukup jelas sejauh ini.


Entah kemana pria itu akan pergi. Dia sama sekali tidak peduli. Ada beberapa hal yang mungkin tidak akan terlalu ia pusingkan sampai saat ini.


“Kemana?” tanya Immanuel dengan cepat. Hampir saja ia akan mencegah gadis itu untuk pergi. Tapi, Agatha tetap akan melakukannya. Semua orang tahu betapa keras kepalanya dirinya. Tidak ada yang bisa menhentikan gadis itu. Bahkan orang seperti Immanuel pun tak akan mampu.


“Ada beberapa hal penting yang perlu ku urus,” ujar gadis itu dengan santai.


Tanpa menunggu persetujuan dari pria itu sama sekali, Agatha langsung meraih jaket yang sempat ia sampirkan pada sandaran kursi. Kemudian merogoh sau celananya untuk menemukan kunci sepeda motor. Immanuel pun tampaknya sudah mengurungkan niatnya untuk mencegah gadis itu. Entah hal apa yang membuatnya mendadak berubah pikiran.


Dan yang benar saja. Immanuel sama sekali tidak berusaha untuk menhentikan gadis itu atau bahkan mencegahnya pergi. Ia telah memberikan kebebasan sekaligus kepercayaan di saat yang bersamaan pada Agatha.


Tak lama setelah Zean pergi, ia juga pergi, Mereka berdua menempuh jalanan yang berbeda arah. Jadi, tidak mungkin jika Zean dan Agatha sedang merencanakan sesuatu secara diam-diam di belakang teman-temannya yang lain. Tidak masuk akal. Bisa-bisa ia dihabisi oleh Immanuel karena telah berani berkhianat.


Sebenarnya, urusan pentin yang dimaksud oleh gadis itu tadi adalah Arjuna. Memangnya hal apa lagi yang jauh lebih penting ketimbang pria itu. Sepertinya tidak ada. Setiap orang tentu memiliki skala prioritasnya masing-masing. Termasuk Agatha lah salah satunya. Saat ini Arjuna sedang menempati nomer urut pertama pada skala prioritasnya.


Sejauh ini Agatha masih berkendara pada kecepatan yang direkomendasikan saat berkendara. Tidak lebih dari yang sudah ditetapkan. Meski sebenarnya ia sedang ingin memacuk kendaraannya jauh lebih cepat. Kalau bisa sekarang Agatha rasanya ingin berkendara dengan kecepatan penuh. Tentu agar bisa sampai di tempat tujuan dengan lebih cepat.


Belum sempat memarkirkan sepeda motornya di halaman kantor, Agatha sudah dikejutkan dengan sebuah pemandangan mengerikan. Dugaannya benar. Zean dan Mike pasti tidak akan meminta dengan cara yang baik-baik. Sebab, percuma saja. Dari awal Agatha sudah curiga kalau akan terjadi penyerangan. Tidak diragukan lagi memang. Intuisinya benar. Kantor polisi tempatnya biasa bekerja telah diserang oleh dua orang itu atau bahkan lebih.


Agatha menepikan sepeda motornya di ujung jalan. Dia memilih untuk tetap menjaga jarak dengan memantau dari seberang sana. Bukannya tidak berani mendekat ke tempat kejadian, ia hanya tidak ingin rencana yang sudah mereka susun dengan sedemikian rupa selama ini malah berantakan.


Terdapat satu mobil ambulans yang terparkir di halaman kantor. Beberapa rekan kerjanya yang masih selamat berusaha untuk berjaga. Membentuk formasi yang tidak terlalu lengkap memang, tapi setidaknya masih bisa untuk mengamankan tempat ini. Untuk berjaga-jaga kalau ada serangan susulan lagi.


Intuisi gadis itu dengan kuat mengatakan kalau ada satu atau dua orang yang terluka akibat serangan tadi. Ia tak tahu pasti dengan apa Zean dan Mike menyerang tempat ini sampai kondisinya jadi begitu kacau. Sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata seperti apa situasinya sekarang. Yang jelas sangat berantakan. Kacau.


Nyaris semua jendela pecah. Tidak ada jendela yang utuh. Bahkan pintu masuk utama beserta gerbang utama ikut penyok. Sekuat itukah tenaga mereka. Agatha tidak yakin. Mereka pasti menggunakan alat bantu untuk melancarkan aksinya yang satu ini. Mereka benar-benar sudah keterlaluan. Agatha tidak bisa memaafkan tindakan yang kali ini.


Gadis itu mengepal tangannya kuat-kuat karena kesal. Amarahnya mulai memuncak. Bahkan sekarang rasanya ubun-ubunnya sudah mendidih. Hampir saja ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Tapi, beruntung hal itu tak terjadi. Agatha masih berusaha untuk tetap terlihat waras.


Mendadak perhatian sekaligus emosinya berhasil teralihkan dengan sebuah pemandangan baru di sana. Tampak para petugas medis sedang membawa seseorang dari dalam kantor. Yang diyakini jika itu adalah Arjuna. Pria itu tergeletak lemah. Bahkan mungkin sudah tak sadarkan diri. Darah segar bercucuran dari bagian kepalanya. Tak tahu apa penyebab pastinya, yang jelas ia pasti terluka parah.


Kedua bola mata Agatha memanas seketika. Ia tak bisa membendung emosinya lagi. Sedih, marah, kesal dan dendam. Semuanya bercampur aduk menjadi satu. Tidak, sekarang sudah tidak bisa lagi. Ia nyaris kehilangan akal sehatnya.