The Riot

The Riot
Mystery Box



Sesampainya di rumah,


Agatha langsung merobohkan tubuhnya begitu saja di atas sofa ruang tengah. Ia


perlu meluruskan punggunggnya setelah seharian bekerja. Rasanya hampir saja


patah. Bagaimana tidak, ia pernah berhenti untuk bepergian selama satu hari


ini. Satu-satunya kesempatan untuk duduk adalah saat perjalanan. Agatha bisa


memanfaatkan waktu untuk duduk di kendaraan selama itu.


“Huh! Aku sudah


kehabisan tenaga untuk hari ini,” keluh gadis itu sambil.


Agatha memejamkan


matanya sambil berbaring di sofa ruang tengah. Tempat ini benar-benar tenang,


tapi tidak damai. Agatha selalu tinggal sendirian selepas tamat SMA. Oleh sebab


itu suasana tempat tinggalnya selalu terasa sunyi dan tenang. Karena memang


tidak ada orang lain di sana kecuali dirinya sendiri. Namun, meski begitu


Agatha tidak pernah mengeluh karena kesepian. Justru itulah yang sedang ia


cari. Tapi, sebenarnya masih kurang. Ada satu hal lagi yang tidak bisa ia


temukan selama beberapa tahun belakangan ini. Yaitu, kedamaian.


***


Pada dasarnya ini


memang bukan kemauan Agatha. Memangnya siapa yang sudi untuk hidup terpisah


dari anggota keluarganya yang lain. Tapi, situasinya sedang menuntut gadis ini


untuk bersikap begitu. Semesta mengajarkannya untuk membuat sebuah pilihan


besar. Antara yang benar dan sebaliknya. Sepertinya semesta tahu betul kalau


Agatha sudah cukup dewasa untuk hal itu. Dia bisa menentukan hal yang tepat.


“Aku sudah membuat


keputusan yang tepat.”


Mendadak perkataan


tersebut meluncur keluar dari dalam mulutnya begitu saja. Sulit untuk dipercaya


memang.


‘DRRTTTT!!!’


Tak lama setelahnya,


ponsel gadis itu berdering. Isi pikirannya pada waktu itu jadi buyar seketika.


Tapi tidak apa-apa juga. Bukan hal yang terlalu penting sebenarnya.


“Arjuna?” gumam gadis


itu sambil memicingkan matanya.


Tunggu dulu. Ada perlu


apa pria itu menghubunginya malam-malam seperti ini. Tidak biasanya. Kalau pun


itu soal pekerjaan, masih sulit bagi Agatha untuk percaya. Sebab sekarang ia


sudah memutuskan untuk tidak percaya kepada orang itu. Agatha terkenal tetap


pendirian. Ia tidak akan mengkhianati dirinya sendiri. Meski itu bukan janji


kepada orang lain, tapi kurang lebih ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri.


‘1 Panggilan tidak


terjawab’


Agatha terlalu lama


berpikir. Ia merasa kesulitan untuk membedakan maksud dari pria itu. Antara


memang benar urusan pekerjaan, atau hanya ingin mencari masalah. Sampai pada


akhirnya panggilan kedua masuk. Tanpa pikir panjang, ia segera menjawabnya.


Padahal ponselnya baru saja berdering.


“Halo! Ada apa?” interupsi


gadis itu begitu panggilannya tersambung.


“Buka pintunya, aku


sedenga berada di depan,” ungkap Arjuna.


Mereka berdua adalah


tipikal orang yang suka bertele-tele.


“Sepertinya kau salah


tempat,” kata Agatha lalu mematikan ponselnya dengan begitu saja.


Sudah bisa ditebak jika


Arjuna pasti datang ke unit apartmentnya. Sebagian besar dari mereka memang


belum tahu sama sekali kalau gadis itu sudah pindah ke tempat yang baru.


Setidaknya sedikit lebih aman dari pada yang sebelumnya.


Sejauh ini Agatha


memang tidak berniat untuk memberi tahu siapa pun. Hanya Jeff lah satu-satunya


orang yang tahu dimana tempat tinggal terbarunya. Agatha sungguh berharap agar


pria itu tidak membocorkan informasi tersebut kepada siapa pun. Termasuk


Arjuna. Meski Agatha sedang tidak ingin dan memang tidak bisa untuk mempercayai


siapa pun, tapi ia berharap banyak kepada pria itu. Agatha akan berusaha untuk


percaya dengan Jeff. Ia tahu kalau Jeff tidak akan mengkhianatinya seperti yang


‘DRRTTTT!!!!’


Lagi-lagi untuk yang


kedua kalinya teleponnya kemballi berdering. Tapi, kali ini bukan panggilan


dari Arjuna. Melainkan nomer tidak dikenal. Agatha kembali termenung. Sibuk


dengan isi pikirannya sendiri. Ia masih belum bisa memutuskan apakah harus


mengangkat telepon tersebut atau tidak. Siapa tahu memang penting. Namun, tidak


menutup kemungkinan untuk hal buruk terjadi.


Karena penasaran, pada


akhirnya Agatha memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut. Agatha hanya


akan tahu dari mana dan apa tujuan si penelepon menghubunginya malam-malam


begini, kalau ia mengangkat panggilan tersebut. Tidak ada pilihan lain untuk


sekarang. Cuma itu jalannya.


Tanpa merasa ragu sama


sekali, ia memutuskan untuk menyapa lebih dulu, “Halo!”


“Permisi mbak! Saya


dari kurir same day ingin mengantarkan kiriman ke tempat anda. Dan sekarang


kebetulan saya sudah berada di lobi,” jelas si penelepon.


Agatha tidak langsung


memberikan respon. Melainkan termenung lebih dulu. Otaknya perlu sedikit waktu


untuk memproses segala informasi yang baru saja ia terima.


“Maaf, bisa tolong


antarkan ke lantai dua puluh tujuh saja?” tanya Agatha.


“Oh, baik kalau


begitu,” balas si kurir.


“Terima kasih!” ucap


Agatha sebelum menutup panggilannya.


Kejadian beberapa waktu


lalu di basement, berhasil membuatnya mengalami trauma ringan. Buktinya,


sekarang ia jadi tiak berani untuk pergi ke bawah sendirian dan menerima paket


kiriman. Padahal di basement ada begitu banyak orang. Dia tidak perlu takut. Tapi,


sayangnya memori buruk itu sudah berhasil menguasai pikirannya lebih dulu.


Sekarang ia tidak


memiliki keberanian lagi untuk melangkah keluar dari unit aparmentnya. Mendadak


bayangan soal peristiwa mengerikan beberapa waktu lalu mengacaukan pikirannya.


Nyalinya menjadi ciut seketika. Agatha takut kalau hal yang sama akan terjadi lagi.


Selama ini hidupnya selalu berada di dalam ancaman semua orang. Tidak hanya


satu atau dua orang yang membuatnya merasa terancam. Melainkan lebih dari itu.


Kebanyakan dari mereka menyerang dengan diam-diam. Sehingga Agatha harus terus


berhati-hati.


‘TING!’


Tiba-tiba saja bel dari


pintu depan berbunyi. Itu pasti si kurir. Awanya Agatha sempat berpikir kenapa


ia begitu cepat sampai ke sini. Tapi satu detik setelahnya ia baru ingat kalau


zaman sekarang sudah ada teknologi yang dinamakan dengan lift.


Gadis itu buru-buru


menghampiri pintu. Tapi, ia tidak langsung membuka pintunya. Melainkan menyalakan


interkom lebih dulu, untuk memastikan apakah yang datang sungguh kurir


pengantar paket atau malah orang lain. Ternyata benar.


“Apa ada seseorang di


dalam?” tanya si kurir begitu menyadari kalau interkomnya menyala.


“Tolong letakkan sana


paketnya di luar. Nanti akan saya ambil,” ujar Agatha.


“Apa ada biaya lain


yang perlu saya bayar?” tanya gadis itu untuk memastikan.


“Oh, tidak ada. Kalau


begitu barangnya saja letakkan di sini saja ya!” balas si kurir tersebut.


“Terima kasih!” ucap


Agatha yang kemudian diangguki oleh pria itu.


Setelahnya,


Agatha tidak langsung membuka pintu. Ia masih tetap berdiri di depan pintu yang


tertutup rapat sambil memantau interkomnya. Memastikan kalau si kurir tadi itu


sudah benar-benar pergi dari sini. Setelah kurang lebih lima menit berlalu,


barulah ia membuka pintunya. Seharusnya sekarang kurir tersebut sudah sampai di


lantai bawah. Atau sekurang-kurangnya ia sudah berada di dalam lift. Lima menit


terbilang lebih dari cukup.