
Arjuna memutuskan untuk
menunggu di lobi saja. Lagi pula Agatha pasti tetap akan turun ke bawah juga
walau pria itu tidak naik ke atas sekali pun. Sembari menunggu, ia sama sekali
tidak memainkan ponselnya. Ada banyak hal yang bisa ia lihat di sini, alih-alih
memandangi ponselnya.
Orang-orang tampak
berlalu lalang di lantai pertama. Namun, begitu kau naik ke lantai selanjutnya
seperti tidak ada kehidupan sama sekali. Tidak perlu merasa terkejut. Karena memang
begitulah kenyataannya. Hidup di apartment memang seaneh itu.
Dari sekian banyak
orang yang berlalu lalang sejak tadi, mendadak panfangan Arjuna tertuju pada
seorang pria berjaket hitam yang sedang melintas tepat di hadapannya saat ini. Mereka
hanya berjarak sekitar sepuluh meter saja. Indera pengelihatan Arjuna masih
cukup jelas untuk menangkap objek dalam jangkauan jarak tersebut. Setidaknya
kedua bola matanya masih berfungsi dengan baik.
Ia terus menyoroti pria
itu sampai sosoknya menghilang di balik pintu lift. Dia pergi menuju lantai
tujuh. Terlihat dari layar digital yang berada di atas pintu lift.
“Bukankah itu lantai
yang sama dengan tempat tinggal Agatha?” tanya pria itu kepada dirinya sendiri.
Entahlah, ia tidak tahu
apa yang sedang terjadi kepada dirinya sekarang ini. Pasti yang tadi itu hanya
penghuni salah satu unit apartment di sini juga. Kebetulan lantainya memang
sama dengan Agatha. Tapi, Arjuna merasa ada sesuatu yang aneh. Janggal. Tidak masuk
akal, tapi ia tidak tahu apa.
“Ah, sudahlah!” ucap
Arjuna.
Pria itu memutuskan
untuk tidak ambil pusing sama sekali soal hal tersebut. Lagi pula ia yakin
kalau hanya perasaannya saja yang salah. Tidak ada yang salah dengan orang
tadi. Itu hanya orang asing yang baru ia temui hari ini. Dia tidak berhak menaruh
rasa curiga kepada orang yang tidak dikenal. Apalagi jika tanpa landasan yang
jelas. Terlebih kalau tidak punya bukti.
“Hei!” sahut seseorang
Arjuna spontan menoleh
ke arah sumber suara. Walaupun sebenarnya belum tentu ia orang yang dipanggil. Tapi,
memangnya salah memastikan. Ternyata itu adalah Agatha. Pasti memang Arjuna lah
yang ia maksud tadi.
“Kenapa kau tidak naik
ke atas?” interupsi Agatha.
“Kau bilang akan
menjemputku ke atas,” lanjutnya.
“Maaf, mendadak aku
lupa dengan nomer apartmentmu,” kata pria itu sambil menggaruk kepalanya yang
tidak gatal.
“Ck! Alasan,” balas
Agatha acuh tak acuh.
“Sungguh!” protes
Arjuna untuk membela dirinya sendiri.
“Aku sudah mencoba
untuk menghubungimu tadi. Tapi kau tidak mengangkatnya,” celoteh pria itu
kemudian.
“Aku juga sudah
menghubungimu balik sebanyak dua kali. Tapi, kau juga tidak mengangkatnya,”
balas Agatha yang tak mau kalah.
Mendengar perkataan
tersebut pria itu lantas menghela napasnya dengan kasar. Ia sama sekali sedang
tidak berminat untuk melayani hal semacam ini. Lebih tepatnya Arjuna tidak
punya waktu untuk bertengkar lagi hanya karena hal sepele. Lagi pula ia datang
kemari untuk mengajak gadis itu pergi makan bersama. Bukan mencari masalah.
“Sudahlah! Lupakan
saja!” ucap Arjuna.
“Ayo kita pergi!”
ajaknya.
Kemudian
tanpa basa-basi, Arjuna menarik tangan gadis itu untuk ikut bersamanya. Mereka
tidak akan pergi dari sini kalau perselisihan ini tak segera diakhiri. Agatha pun memilih untuk tdak banyak bicara. Sekarang ini ia tak mau memperkeruh suasana. Ia sadar kalau ini salahnya. Tak seharusnya ia mempermasalahkan hal kecil seperti itu. Sekarang suasana hati Arjuna pasti tidak sama seperti sebelumnya.