The Riot

The Riot
On The Table



Karena mereka berangkat


pada jam dua siang, itu berarti sekarang jam makan siang sudah usai. Kebanyakan


pekerja kantoran sudah kembali ke kantornya masing-masing untuk kembali


bekerja. Jadi, jalanan sudah sedikit lebih lengang dari pada sebelumnya. Masih


tetap ramai memang, tapi tidak seburuk yang tadi. Paling tidak mobil yang


mereka tumpangi masih bisa melaju dengan lancar. Tanpa ada hambatan sama


sekali. Nyaris tidak ada kemacetan sejauh ini.


“Maafkan soal yang


tadi,” ucap Agatha secara tiba-tiba.


“Aku sama sekali tidak


bermaksud untuk membuat suasana hatimu jadi buruk,” jelasnya kemudian.


“Tidak masalah,” balas


Arjuna tanpa mengalihkan pandangannya.


Pria itu sama sekali


tidak marah kepada Agatha. Lagi pula untuk apa marah. Bukankah mereka sudah


sering bertengkar karena hal sepele seperti ini. Jadi tenang saja, Arjuna sudah


cukup terbiasa dengan situasi demikian.


“Memangnya kenapa kau


tiba-tiba minta maaf begitu kepadaku?” tanya Arjuna.


“Memangnya apa yang


salah kalau aku ingin melakukannya? Tidak boleh?!” tanya gadis itu balik dengan


nada bicara yang sedikit lebih tinggi dari pada biasanya.


“Baru sekarang kau


merasa bersalah?” tanya pria itu lagi.


“Sudahlah! Sebaiknya


kau fokus saja terhadap jalanan di depanmu sana!” balas Agatha dengan ketus.


Arjuna terlihat


mengacuhkan perkataan gadis itu begitu saja. Ia sama sekali tidak berminat


untuk membalasnya. Atau hanya sekedar untuk mengiyakan hal tersebut.


***


Setelah menempuh


sekitar dua puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di tempat


tujuan. Arjuna menepi dari jalanan. Mengarahkan mobilnya untuk masuk ke dalam


parkiran. Arjuna cukup handal dalam memarkirkan mobil. Jadi tidak perlu


khawatir kalau bepergian dengannya.


Agatha langsung melepas


sabuk pengamannya begitu selesai. Sama halnya dengan Arjuna. Pria itu turun


lebih dulu dari mobil. Tapi ia tidak akan masuk lebih dulu juga. Mereka akan


masuk bersama-sama nanti.


Hari ini mereka akan


makan siang sekaligus merayakan kesuksesannya di salah satu restoran daging


yang cukup terkenal. Ada banyak menu olahan daging yang tersedia dari berbagai


daerah. Dari berbagai negara lebih tepatnya. Sejujurnya gadis itu belum pernah


datang kemari sebelumnya. Meski restorannya bukan baru buka lagi.


“Ayo!” ajak Arjuna


sambil menarik tangan gadis itu.


Tunggu dulu! Sebenarnya


ada apa dengan Arjuna? Apa ada yang salah dengan pria itu? Atau malah Agatha


yang sebenarnya sedang tidak benar di sini.


Sejak mereka berangkat


dari apartment tadi, Arjuna menarik tangan gadis itu dan terus menggenggamnya


sampai mereka tiba di mobil. Dan sekarang lihat apa yang terjadi. Bahkan di


saat mereka sudah berjalan dalam posisi yang sejajar pun, Arjuna masih tidak


ingin melepaskan untaian tangannya. Padahal Agatha juga tidak akan kabur


kemana-mana. Memangnya dia ini kenapa sampai harus kabur.


Tidak biasanya Arjuna


bersikap seperti ini. Kalau boleh jujur, sebenarnya Agatha merasa sedikit


kurang nyaman. Tidak pernah-pernahnya Arjuna menggenggam tangannya dalam kurun


waktu yang cukup lama seperti ini.


“Hai!” sahut Robi yang


ternyata sudah berada di sana lebih dulu.


Tidak hanya Robi saja


sebenarnya. Melainkan yang lainnya juga. Sepertinya Arjuna dan Agatha adalah


orang terakhir yang sampai ke tempat ini. Agatha langsung merasa tidak enak


kepada yang lainnya. Seperti yang kalian tahu jika gadis itu tidak suka membuat


orang lain menunggu. Karena Agatha pun pada dasarnya memang tidak suka jika


harus dibuat untuk menunggu.


“Akhirnya kalian sampai


juga,” ujar Jeff.


“Apa kami membuat


kalian menunggu terlalu lama?” tanya Agatha untuk memastikan.


“Tidak juga, kami baru


saja sampai beberapa menit lalu,” jelas pria itu.


“Cepat duduk!”


persilahkan Thomas.


Gadis itu mengangguk


untuk mengiyakan perkataannya. Tanpa pikir panjang lagi ia segera mengambil


tempat duduk tepat di samping Jeff. Hanya itu kursi kosong yang paling dekat


dengan tempat ia berdiri sebelumnya. Sementara itu Arjuna duduk tepat di


hadapannya.


“Permisi, mbak!” sahut


Jeff untuk memanggil salah satu pelayan.


Karena kebetulan mereka


semua sudah berada di sana, tidak ada salahnya untuk langsung memesan hidangan.


Memangnya apalagi yang perlu ditunggu. Tidak ada.


Semua orang menyebutkan


pesanannya secara satu-persatu. Karena menu yang dipesan cukup banyak, jadi


pasti prosesnya tidak akan sebentar. Mau tak mau mereka memang harus menunggu. Tapi


kali ini sepertinya Agatha sama sekali tidak masalah kalau harus dibuat


menunggu. Selama ia tidak merasa bosan tidak apa-apa.


Sambil menunggu makanannya


siap dihidangkan, mereka berbincang-bincang ringan. Membicarakan berbagai hal. Tidak


harus berpatok pada satu topik tertentu.


“Jadi alasan kenapa kau


tidak masuk ke kantor selama ini karena sedang menjalankan misi rahasia itu ya?”


tanya Jeff .


“Ya, kurang lebih


begitulah,” balas Agatha sambil menggidikkan bahunya.


Entah kenapa pria itu


mendadak membuka topik pembicaraan tersebut. Sebenarnya tidak apa-apa. Sama


sekali bukan sebuah masalah. Agatha yakin kalau mereka pasti penasaran tentang


hal yang satu itu.


“Kenapa hanya


melakukannya misi itu berdua saja dengan Arjuna?” tanya Thomas.


“Padahal kami juga bisa


membantu banyak hal,” timpalnya.


“Benar! Apa kami tidak


bisa diandalkan?” sambung Robi.


“Tidak, sama sekali


tidak begitu!” tepis Agatha.


Ia tidak ingin


teman-temannya salah paham dengan kejadian yang satu ini. Baik Arjuna maupun


Agatha sama sekali tidak memiliki niat untuk meremehkan mereka seperti itu.


“Bukannya kalian tidak


bisa diandalkan. Tapi, rasanya kalian jauh lebih hebat untuk aksi penyergapan


kemarin malam,” jelas gadis itu dengan hati-hati.


Ia tidak mau kalau


sampai ada seseorang yang merasa sakit hati karena kata-katanya. Agatha


berusaha semaksimal mungkin untuk meenjelaskan dengan cara yang baik.


“Sungguh?” tanya Robi


sambil menaikkan salah satu alisnya.


Dengan cepat Agatha


mengangguk, mengiyakan perkataan pria tersebut.


“Apa kau tidak merasa


takut sama sekali ketika berurusan dengan orang seperti mereka?” tanya Jeff.


“Mau bagaimana lagi.


Itu adalah tugasku,” jawab Agatha dengan apa adanya.


Dia tidak mau


berbohong. Lagi pula untuk apa. Agatha mengaku pada hari ini jika ia juga


manusia biasa yang wajar untuk merasa takut pada situasi tertentu. Meski sudah


sering berhadapan dengan pada penjahat kelas kakap, tetap saja musuh mereka


yang kali ini berbeda dengan yang lainnya. Sulit untuk dijelaskan dengan


kata-kata. Tapi, kalian akan paham saat berhadapan dengan mereka secara


langsung. Orang-orang bilang jika kau tidak akan pernah benar-benar paham


sebelum berada  pada posisi yang


dimaksud.


“Lagi pula kenapa kau


harus mengutus seorang gadis sepertinya untuk pergi ke tempat berbahaya seperti


itu?” tanya Jeff lagi. Namun, kali ini pertanyaannya ditujukan kepada Arjuna.


“Tidak ada pilihan


lain,” kata pria itu secara gamblang.


Bagaimana


bisa ia bersikap begitu santai. Padahal selama ini ia sudah membuat hidup


Agatha jadi tak tenang. Pasti ada saja yang ketakutan yang menghantuinya setiap


waktu.