
Untuk diawal, mereka hanya membicarakan tentang keseharian
mereka. Itu bukan topik yang terlalu berat untuk membuka suatu pembicaraan.
“Lalu bagaimana harimu tadi?” tanya Agatha tanpa mengurangi
rasa sopan.
“Pasien yang kutangani tidak terlalu banyak. Oleh sebab itu
aku bisa datang lebih awal dari waktu yang sudah kita sepakati bersama,” beber
Dokter Viona.
“Pantas saja tadi sudah sampai lebih dulu,” balas gadis itu.
“Bagaimana kalau kita mengabadikan satu foto?” tawar Dokter
Viona.
Agatha tidak bisa berkutik untuk beberapa saat. Lebih
tepatnya, dia tidak tahu harus berbuat apa. Menyadari jika lawan bicaranya saat
ini butuh jawaban dengan segera, Agatha pun lantas mengangguk pelan. Ia bahkan
melakukannya tanpa pikir panjang. Sebuah jawaban spontan yang bahkan tidak
pernah ia rencanakan sebelumnya.
Mendapatkan jawaban yang sesuai dengan harapannya, Dokter
Viona lantas buru-buru mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia tampak begitu
antusias. Tidak sabar untuk memotret gambar dirinya dengan Agatha. Sepertinya
Agatha sudah lebih dari sekedar pasien baginya. Buktinya, mereka jadi sedekat
ini sekarang. Dan semua itu adalah keinginan Dokter Viona sendiri. Bukan
Agatha.
Mereka berdua mulai berpose. Agatha yang terbilang cukup
jarang berfoto sempat beberapa kali mati gaya. Dia tidak tahu harus berpose
seperti apa lagi. Namun, Dokter Viona segera membantunya.
“Kau sungguh cantik!” puji Dokter Viona sambil melihat-lihat
foto hasil jepretannya.
“Tapi, anda jauh lebih cantik lagi!” puji Agatha.
Pada intinya mereka berdua sama-sama cantik.
“Aku akan mengirimkannya kepadamu nanti,” kata Dokter Viona
yang kemudian segera diangguki oleh gadis itu.
Baik itu Agatha maupun Dokter Viona, keduanya sama-sama
salling terbawa suasana. Mereka menghabiskan waktu dengan bercerita hal acak,
sambil menghabiskan makan malamnya. Tampaknya sekarang tidak ada satu pun dari
sudah berada di tempat ini.
“Agatha!” sahut Dokter Viona.
“Ya?” balas gadis itu sambil menegakkan kepalanya.
Kedua netra mereka saling bertemu. Entah kenapa wajah wanita
itu tampak begitu serius. Jauh lebih serius dari yang biasanya.
“Sebenarnya ada hal serius yang ingin kubicarakan denganmu,”
ungkap wanita itu.
Sementara itu, di sisi lain Agatha tampaknya tidak ingin
memberikan tanggapan sama sekali. Ia hanya akan menunggu sampai Dokter Viona
mengatakan yang sebenarnya.
“Soal penawaran yang kemarin, apakah kau sudah
memikirkannya?” tanya Dokter Viona dengan hati-hati.
Agatha berpikir sejenak. Mencoba untuk mengingat-ingat,
penawaran yang mana satu.
“Jadi, maukah kau tinggal bersamaku dan menjadi anak
angkatku?” peringati wanita itu sekali lagi.
Oh, benar! Sekarang ia sudah mengingatnya. Tapi, perihal
yang kedua sama sekali belum sempat mereka bicarakan. Soal rencana Dokter Viona
untuk mengangkat gadis itu sebagai anaknya. Jelas Agatha merasa sedikit
terkejut mendengar hal tersebut.
“Apa maksudnya?” tanya Agatha untuk memastikan.
“Jadi, dari awal ketika pertama kali melihatmu, aku langsung
teringat akan anak perempuanku yang semata wayang itu,” ungkapnya secara
terang-terangan.
“Mustahil jika kau benar-benar mirip dengannya. Tapi, anehnya
semua itu terjadi secara nyata,” tambah wanita itu.
“Kalau dia masih berada di sini sekarang, pasti sudah
sebesar ini. Dan kalau kalian saling bertemu, pasti orang-orang akan mengira kalau
kalian adalah anak kembar,” finalnya.
Tunggu dulu, anak kembar? Apa inii ada hubungannya dengan rekaman di kamera pengawas mall itu. Ah, tapi tidak mungkin. Tapi, di sisi lain juga bisa saja terjadi sebenarnya.
***