The Riot

The Riot
Wake Up From Your Dream



06.12


Agatha baru saja terbangun dari tidurnya. Kemari


malam setelah Aaron pergi, ia langsung tidur. Bahkan kali ini jam tidurnya


termasuk lebih awal dari pada biasanya. Mengingat jika hari ini ia harus


kembali ke kantor untuk bekerja, jadi Agatha perlu mengisi ulang tenaganya


dengan cara memenuhi kebutuhan istirahatnya. Jam tidur yang cukup tentu akan


sangat berpengaruh bagi kondisi kesehatannya.


Begitu bel alaramnya berbunyi, ia tidka langsung


bangun. Apalagi beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi.


Rutinitas pagi gadis itu tidak seindah yang kalian bayangkan. Meski telinganya


sudah muak mendengar suara nyaring dari ponsel yang terus mengusiknya sejak


tadi itu, ia tetap tidak bisa bangun atau bahkan bergerak sama sekali.


Pertama-tama, Agatha perlu mengumpulkan niat serta nyawanya kembali. Lalu


setelahnya ia akan menggeliat. Meregangkan beberapa otot tubuhnya yang terasa


tegang. Lalu langkah terakhir adalah membuka kedua kelopak matanya.


Namun meski semua hal yang disebutkan tadi sudah


dilakukan semua, tetap saja gadis itu masih bermalas-malasan di atas kasurnya. Persis


seperti apa yang sedang ia lakukan saat ini. Gadis itu masih berbaring di atas


kasur. Lengkap dengan selimut dan kaos kakinya yang masih terpasang rapih.


Rasanya enggan untuk meninggalkan tempat paling nyaman di dunia. Tapi, setelah


diingat-ingat lagi Agatha tetap harus bangun jika ingin hidup lebih lama.


Orang dewasa diharuskan untuk mencari uang dan


memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Mereka bukan lagi tanggungan kedua orang


tuanya. Mereka harus bersikap mandiri mau tak mau. Meski tak jarang dijumpai


jika beberapa di antaranya belum siap untuk itu. Kenyataan pahit tentang


kehidupan berhasil membuat mereka menyerah lebih dulu sebelum mencoba.


Berbeda dengan Agatha yang siap tidak siap harus


menjalani kehidupannya sendiri. Tidak ada satu pun orang yang bisa ia andalkan.


Sejak kepergian almarhumah ibunya, ia memutuskan untuk angkat kaki dari rumah. Dan


yang terpenting adalah tidak bergantung lagi kepada Narendra. Sekarang ia sadar


jika keputusan yang pernah dibuatnya beberapa saat lalu adalah sebuah keputusan


yang tepat.


“Aargghh!” gerutu Agatha sambil mengacak-acak


rambutnya.


“Mimpi konyol macam apa itu?” gumam gadis itu.


“Mana mungkin aku memiliki hubungan darah dengan


pria berandalan seperti dirinya. Kami bahkan tidak pernah saling mengenal


sebelumnya. Kalau bukan karena aku yang menolongnya pada saat ia terkapar


sendirian di jalanan, mungkin hubungan kami tidak akan seakrab sekarang,”


celotehnya dengan panjang lebar.


“Seharusnya aku tak perlu menolong Aaron waktu itu,”


sesalnya kemudian.


Sebenarnya, keputusan yang ia buat untuk menolong


pria mabuk malam itu tidak sepenuhnya salah. Tergantung. Kembali lagi kepada


bagaimana cara mereka unttuk menilainya. Agatha hanya perllu memandang sikapnya


sendiri dari sudut pandang yang berbeda untuk mendapatkan pengertian lain.


Terlepas dari itu semua, Agatha tidak ingin


memusingkan dirinya sendiri dengan hal paling tidak penting. Apalagi ini masih


pagi buta. Dia tidak ingin membuat suasana hatinya menjadi buruk sekarang. Lagipula


yang namanya mimpi bisa terjadi karena berbagai faktor. Dan yang terpenting,


mimpi belum tentu akan selalu terjadi di dunia nyata.


“Ah, sudahlah!” sesal gadis itu sambil menyingkirkan


selimutnya.


Dengan perasaan berat hati, ia terpaksa harii


meninggalkan kasurnya dan segera berberes. Ia harus bergegas pergi ke kantor


sebelum terlambat. Atau jika tidak, maka karirnya kemungkinan akan terancam.


Tidak main-main. Sebagai salah satu anggota kepolisian jelas mereka harus


Dengan langkah yang tertatih-tatih, ia bergerak menuju


kamar mandi. Mungkin sedikit cipratan air dingin akan membantunya untuk membuka


mata lebih lebar. Setelah itu bisa dipastikan jika tidak akan ada lagi rasa


kantuk yang menghampiri.


Hari ini Agatha memutuskan untuk pergi ke kantor


dengan menggunakan kendaraan umum. Ia bangun beberapa menit lebih awal pagi


ini. Jadi, sepertinya jalanan belum terlalu ramai. Kebanyakan kendaraan umum


pun pasti belum terlalu padat. Sehingga masih memungkinkan bagi Agatha untuk


mendapatkan tempat duduk. Siapa cepat dia dapat.


“Seharusnya aku tidak akan terlambat,” ucap gadis


itu kepada dirinya sendiri.


Dengan percaya diri ia mengatakan hal tersebut


sambil melirik ke arah jam tangannya. Tidak biasanya ia datang pagi-pagi


seperti ini. Andai saja Agatha bisa melakukan hal yang sama setiap hari. Pasti


akan menyenangkan ketika kau tidak berpacu dengan waktu yang semakin memburu.


“Selamat pagi!” ucap Agatha kepada semua orang yang


berada di kantor.


Hanya ada beberapa yang ia temui saat berjalan


masuk. Mungkin karena ini masih terlalu pagi. Jadi belum semua orang hadir.


Termasuk Arjuna. Bahkan pria itu juga belum datang sampai jam segini. Agatha


memang tidak tahu pasti kapan biasanya pria itu tiba di kantor. Tapi, yang


jelas sedikit lebih cepat dari pada dirinya. Pasalnya, pria itu selalu datang


lebih dulu dan sudah berada di ruangannya ketika Agatha datang. Ini adalah


pertama kalinya bagi Agatha tidak menjumpai keberadaannya.


“Sepertinya banyak yang belum datang,” ungkap Agatha


sambil menggidikkan bahunya.


Gadis itu berniat untuk sarapan lebih dulu sebelum


mulai bekerja. Tadi ia memang sengaja untuk tidak sarapan di rumah agar bisa


berangkat labih cepat. Jadi, Agatha hanya membawa beberapa potong roti untuk


mengganjal perutnya. Setidaknya sampai jam makan siang nanti.


Sembari menikmati sarapan paginya saat ini, Agatha


memutuskan untuk kembali bekerj.a Ia bahkan sudah mulai bekerja beberapa menit


lebih cepat dari pada yang seharusnya. Gadis itu memeriksa lembar laporan yang


sempat ia kerjakan sekitar dua  hari


lalu. Tentang seorang pria yang tega membunuh kekasihnya, jika kalian masih


ingat.


Arjuna sama sekali tidak menggubris permintaan gadis


itu kemarin. Padahal tepat sebelum kembali ke rumah, Agatha sudah membincangkan


hal ini kepadanya. Agatha meminta pria itu untuk menyerahkan tugas ini kepada


orang lain. Terutama pada saat menginterogasi pelaku. Tapi, di sini Arjuna


tidak sepenuhnya bersalah. Sebab pria itu sudah memenuhi salah satu permintaan


Agatha. Yaitu untuk mengalihkan tugas interogasinya kepada yang lain.


Sekarang laporan hasil interogasinya sudah selesai.


Dan Arjuna kembali mempercayakan hal tersebut kepada Agatha. Sepertinya tidak


ada alasan untuk menolaknya lagi. Karena mau bagaimanapun juga, itu tetap


tugasnya. Agatha tidak bisa menghindari yang satu itu.


Agar pekerjaannya tidak terlalu menumpuk, gadis itu


memilih untuk menyicilnya secara perlahan. Sebab, semakin hari pekerjaannya


bukan semakin berkurang. Malah sebaliknya. setiap hari pasti selalu ada saja


pekerjaan baru. Ada saja kasus baru yang diterbitkan.


“Huh! Tidak bisakan mereka tidak buat masalah sekali


saja?”


“Setidaknya biarkan aku menyelesaikan tugasku yang


kemarin dulu sebelum membuat kasus kejahatan lagi.”


“Aku heran kenapa


orang-orang begitu suka membuat dirinya terjebak dalam masalah.”