
Agatha sama sekali tidak tertarik untuk mencari tahu
lebih lanjut dengan cara bertanya langsung. Menurutnya tidak perlu ikut campur
terlalu jauh tentang kehidupan orang lain. Kembali lagi kepada prinsip awalnya,
jika semua orang pasti memiliki privasinya masing-masing. Tidak sopan untuk
menanyakan hal yang tidak seharusnya ditanyakan.
Sebenarnya gadis itu juga diam-diam penasaran. Kemana
Aaron pergi dan kenapa ia selalu pergi pada jam segini. Kalau dibilang soal
urusan pekerjaan, tidak mungkin. Sebab, menurut penuturan pria itu mereka masih
menerapkan sistem bekerja dari rumah.
Aaron sendiri menempati posisi yang cukup penting di
tempatnya bekerja. Tidak tanggung-tanggung, ia merupakan pimpinan perusahaan
tersebut. Sebenarnya itu adalah perusahaan ayahnya. Namun, kini telah dialihkan
kepada Aaron.
Agatha bahkan tidak ingin bertanya sama sekali
perusahaan macam apa yang ia pimpin. Setahunya, perusahaan tersebut bergerak di
bidang supplier.
Tapi kembali lagi ke prinsip awalnya. Agatha tidak
ingin mencari tahu lebih banyak. Berbeda halnya jika Aaron yang bercerita lebih
dulu. Tidak perlu memaksa. Setiap hal punya porsinya masing-masing. Jangan
sampai melewati batas-batas yang sudah ditentukan.
Tak ingin ambil pusing soal kehidupan pria itu,
Agatha lantas segera masuk tepat setelah pria itu pergi. Mau kemanap pun ia
pergi. Apa pun yang ia lakukan, itu bukanlah urusannya sama sekali. Tidak penting
baginya. Lagipula juga tidak ada sangkut pautnya dengan gadis itu. Selama tidak
merugikan dirinya, Agatha tidak akan ikut campur.
“Tadi sepertinya aku memesan ayam bakar. Tapi,
kenapa yang datang malah ayam geprek?” gumam gadis itu sambil menggaruk
kepalanya yang tidak gatal.
Untuk memastikan hal tersebut, Agatha lantas
berallih mengecek ponselnya. Rincian soal pesanan yang barusaja ia buat tadi
seharusnya masih tersimpan di dalam benda persegi panjang itu. Dugaannya benar.
Agatha tadi memesan menu ayam bakar. Seharusnya yang datang adalah ayam bakar
juga. Tapi, kenapa malah berbeda.
Setelah dipikir-pikir, sepertinya tidak masalah.
Agatha juga masih bisa memakan ayam geprek. Tidak ada bedanya dengan ayam
bakar. Sama-sama ayam, tapi hanya berbeda rasa dan cara pengolahannya saja. Bukan
masalah yang terlalu serius. Lagipula percuma jika ia meminta pihak restoran
untuk menukar makanannya. Prosesnya terlalu lama.
Gadis itu sudah terlalu lapar. Ia tidak bisa
menunggu lebih lama lagi. Sebenarnya bisa saja. Tapi, cacing-cacing yang
menghuni perutnya sudah menuntut untuk diberikan makan. Mau tak mau ia harus
menurutinya. Semua orang juga tahu betapa menyiksanya jika kau berada dalam
posisi kelaparan.
Belakangan ini Agatha memang selalu memesan makanan
siap saji. Sehingga tidak perlu repot-repot untuk memasak lagi. Padahal ia bisa
menekan jauh lebih banyak pengeluaran bulanannya jika masak sendiri.
“Entah kenapa aku selalu tidak memiliki cukup
motivasi untuk memasak sendiri.”
“Padahal jika dipikir-pikir lagi, rasa dari
masakanku tidak buruk-buruk amat. Jika untuk diriku sendiri, aku pasti masih
akan memakannya sampai habis.”
Agatha bergumam kepada dirinya sendiri. Menyatakan
jika rasa dari masakannya selama ini tidak terlalu enak memang, namun juga tak
terlalu buruk. Masih cukup layak untuk dimakan.
Ini adalah permasalahan orang yang tinggal dan hidup
sendirian. Tidak ada siapa-siapa yang bisa ia jadikan sebagai lawan bicara
ketika sedang bosan. Beberapa bulan yang lalu, gadis itu sempat tinggal bersama
dalam satu unit apartment yang sedikit lebih besar dari tempat tinggalnya yang
sekarang. Cukup untuk menampung mereka berdua di dalamnya.
Namun, karena satu dan lain hal, Agatha memutuskan
untuk pidah ke unit apartment lain. Pindah gedung lebih tepatnya. Sementara
itu, Zura masih tinggal di unit yang lama dengan temannya yang juga bekerja di
rumah sakit yang sama dengannya.
“Sebaiknya aku besok tetap masuk kerja saja seperti
biasanya,” uungkap Agatha kepada dirinya sendiri.
“Meski terasa melelahkan, tapi sejauh ini hanya
pekerjaan tersebut yang bisa membuatku bertahan hidup,” katanya.
Ternyata benar juga apa kata Arjuna tadi siang.
Tidak mudah memang untuk bertahan hidup. Terlebih di kota besar seperti ini.
Mencari pekerjaan baru juga bukan sesuatu yang mudah. Jika Agatha memiliki
keyakinan serta ambisi yang besar, sebenanya ia bisa saja tetap hidup seperti
biasanya merski sudah keluar dari kantor. Sebab, banyak orang berkata jika
keberuntungan selalu menyertai mereka yang pemberani.
***
Selepas makan, ia tidak pergi kemana-mana. Hanya
bersantai di dalam kamarnya saja, sambil berkutat dengan benda persegi panjang
mungil itu. Sesekali ia juga melempar pandangannya keluar dari jendela kamar.
Memandangi langit sore kala itu. Warna jingganya mulai pudar, sebab sebentar
lagi sang penguasa kegelapan akan segera mengambil alih angkasa.
Dia selalu suka memandangi langit seperti ini. Baik
itu ketika pagi, siang, sore atau bahkan malam. Semua suasana terasa begitu
indah dan menenangkan baginya. Mungkin, itu pula sebabnya kenapa ada begitu
banyak orang yang menyukai langit. Agatha yakin, jika setidaknya pasti ada satu
atau dua orang yang memiliki kesamaan dengannya.
Mendadak, ia jadi teringat akan sesuatu. Hal yang
hampir terlewatkan. Entah kenapa selalu ada saja hal yang nyaris ia lupakan,
dan malah baru mengingatnya ketika sedang melamun. Dari tadi ia belum sempat
untuk membaca buku harian Arjuna. Entah atas dasar apa pria itu memberikan hak
kepadanya untuk membaca isi buku hariannya.
Dari yang awalnya ia tidak merasa penasaran sama
sekali, sekarang malah terjadi sebaliknya. Jika dipikir-pikir, tidak ada
salahnya kalau Agatha membaca buku tersebut. Toh sang empunya juga sudah
memberikan izin. Jadi, tidak akan ada masalah yang serius.
Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu lantas segera
mengambil buku harian milik Arjuna. Tadinya ia menyimpan benda mungil itu di
dalam nakasnya. Agatha terbiasa menyimpan benda berukuran kecil di dalam tempat
khusus seperti nakas, agar tidak tercecer dan hilang. Sebab, pasti sulit untuk
menemukannya kembali. Kalau itu bukan benda penting tidak masalah. Tapi,
bagaimana jika sebaliknya.
Dimulai dari halaman pertama yang diyakini sebagai
tulisan Arjuna sendiri. Semua tulisan tangan yang ada di buku ini memang
bernar-benar mirip seperti tulisan pria itu. Jadi, tidak ada kecurigaan sama sekali.
“10
September 2019”
“Ini sudah sekitar tiga tahun yang lalu, bukan?”
gumam gadis itu.
Kertasnya memang sudah tampak usang. Meski Agatha
yakin jika buku hariannya pasti dirawat dengan baik dan tidak diletakkan pada sembarang
tempat. Tapi, tetap saja kelihatan mana kertas yang barusaja di tulis dan yang
mana yang sudah lama. Bukan pekara yang sulit untuk membedakannya.
Awal kisah Arjuna pada
buku hariannya dimulai pada tiga tahun lalu. Sesuai dengan tanggal yang
tercantum di halaman pertama buku itu.