
Tanpa
pikir panjang lagi, Agatha segera memukul mundur pria itu. Membuatnya
menyingkir. Yang tadi itu nyaris tidak ada jarak. Agatha tentu tidak akan
merasa nyaman jika terjebak dalam situasi demikian.
Dengan
segenap sisa nergi yang masih ia miliki hingga saat ini, Agatha berusaha untuk
memberontak. Siku tangannya ia gunakan sebagai senjata utama untuk menyerang
Aaron. Serangannya tepat mengenai sasaran. Bagian perut selalu menjadi titik
lemah setiap orang. Mereka tidak akan bisa berkutik jika sudah diserang pada
bagian tersebut. Bisa dipastikan.
“Arghh!!!”
Aaron
spontan mengerang kesakitan setelahnya. Ia sama sekali tidak menyangka jika
Agatha akan menyerangnya dengan begitu brutal. Sebelumnya tidak ada aba-aba
sama sekali. Bahkan pergerakan gadis ini terlalu cepat untuk ditebak. Sehingga
Aaron harus berakhir seperti ini karena tidak bisa berbuat apa-apa.
Tapi,
tidak masalah sama sekali. Serangan ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan
dengan serangan lain yang pernah diterimanya. Beberapa tahun yang lalu,
pergelangan tangannya pernah terkena timah panas. Lalu jarak beberapa bulan
setelahnya, ia mendapatkan beberapa luka tusukan di bagian perut.
Jika
ingin mengadu nasib, maka Aaron lah yang akan menjadi pihak paling menderita di
sini. Memang karena dunia tidak pernah adil kepadanya. Dia selalu tersiksa
selama masih berpijak di muka bumi. Tapi, tidak ada pilihan lagi. Ini adalah
jalan yang harus ia lalui. Siapa yang tahu jika ternyata melalui cara yang sama
juga ia akan menemui Tuhan jauh lebih cepat dari apa yang pernah dia bayangkan
sebelumnya.
“Jangan
berani macam-macam denganku!” peringati Agatha sekali lagi.
Napas
gadis itu tampak memburu. Tidak. Kali ini bukan karena ia melakukan aktivitas
fisik yang tergolong berat. Tidak sama sekali. Melainkan akibat jantungnya yang
bekerja terlalu cepat. Perasaan panik dan takut berhasil menguasainya dalam
waktu yang bersamaan. Sungguh sulit untuk dipercaya. Namun, itulah
kenyataannya.
Sementara
itu, di sisi lain Aaron hanya bisa kembali menyeringai. Salau satu sudut
bibirnya terangkat. Sepertinya menyeringai sudah menjadi salah satu kebiasaan
barunya sekarang.
“Gerakan
refleksmu bagus juga,” puji Aaron.
Kali
ini ia berkata jujur. Apa adanya. Tidak ada yang dilebih-lebihkan atau bahkan
dikurang-kurangi. Semua tatanan kata yang ia miliki sudah sesuai dengan
porsinya masing-masing.
“Berhenti
mengatakan omong kosong!” balas gadis itu dengan ketus. Satu detik setelahnya
ia berdecak sebal.
Entah
mimpi buruk macam apa yang menghampirinya kemarin malam. Sampai-sampai gadis
itu terpaksa bertemu dengan orang seperti Aaron. Dan yang lebih parahnya lagi
adalah, ia tidak bisa menghindar sama sekali dari situasi seperti ini. Pasti semesta
sudah merencanakan segalanya dengan sedemikian rupa.
Tak
ingin ambil pusing soal masalah yang tadi, Agatha lantas segera melanjutkan
kegiatannya. Cacing-cacing yang menghuni rongga perutnya sudah tidak bisa
bertahan lebih lama lagi. Mereka kelaparan. Butuh asupan dengan segera. Selain
itu, Agatha juga memerlukan tambahan energi ekstra.
Hari
ini adalah hari yang melelahkan. Gadis itu tidak pernah membayangkan akan jadi
seperti apa setiap harinya.
“Ada
yang bisa aku bantu?” tanya Aaron sembari menawarkan bantuan secara tidak
langsung.
“Tidak
ada!” jawab Agatha dengan nada ketus.
“Cukup
duduk tenang saja. Hal itu akan sangat membantuku,” jelas gadis itu kemudian.
Sepertinya
orang lain. Lagipula sejak hidup sendirian di apartmentnya, gadis ini sudah
terbiasa untuk mengerjakan semuanya sendiri
Jangan terlalu mengharapkan orang
lain. Manusia hanya terlalu bergantung kepada manusia lainnya. Padahal mereka
tahu jika dirinya sama-sama payah. Tidak ada bedanya sama sekali.
“Baiklah
kalau begitu,” ujar Aaron.
Alih-alih
mencari masalah, pria itu malah terlihat menuruti setiap permintaan Agatha.
Tidak ada penolakan sama sekali. Untuk pertama kalinya Aaron terlihat lebih
penurut daripada biasanya. Jika orang yang sudah mengenalnya lama mendadak
melihat Aaron di masa sekarang, pasti ia terkejut bukan main.
Entah
bagaimana seseorang bisa berubah drastis di hadapan orang lain. seolah memiliki
dua kepribadian dalam satu raga. Terdengar konyol. Namun, siapa yang bisa
memastikan jika asumsi tersebut salah.
“Kau
tidak akan aman jika berada di sekitar Agatha,” batinnya dalam hati.
Mendadak
pria itu tersadar jika berada di sekitar gadis itu bukanlah pilihan yang tepat.
Apalagi sekarang ini ia sudah melangkah terlalu jauh. Lebih tepatnya sudah
memasuki daerah territorial gadis itu.
Mengingat
dan menimbang kembali sebuah fakta jika Agatha adalah seorang anggota dari tim
kepolisian. Bagaimanapun juga memang tidak dibenarkan bagi seorang pelaku
kriminal seperti dirinya berada di sekitar pihak berwajib. Aaron psati sudah
tahu apa kemungkinan terburuk yang akan ia terima nantinya. Namun, untuk
sekarang hal tersebut seolah tidak menjadi permasalahan sama sekali baginya.
Alih-allih
menyerang, posisi Agatha kali ini dirasa akan jauh lebih menguntungkan bagi
pihak Aaron. Secara tidak langsung, saat ini ia sedang berlindung kepada gadis
itu. Selama Agatha belum menyadari apa pun tentang Aaron, tidak akan ada hal
yang perlu dipermasalahkan. Termasuk statusnya sebagai pelaku kriminal. Dan itu
adalah rahasia terbesar yang harus tetap ia jaga jika ingin terus hidup di
bawah perlindungan Agatha. Saat ini posisinya begitu lemah. Sementara tidak ada
satu pun pihak yang menaunginya, membuat posisi Aaron semakin mudah untuk
ditindas pihak lain. Ia membutuhkan sumber kekuatan untuk tetap bertahan hidup.
Setidaknya sampai semua urusannya selesai.
Untuk
sementara waktu ia bisa memanfaatkan gadis itu demi keselamatannya. Jika ia
berhasil membuat cara pandang Agatha kepadanya berubah, maka tidak menutup
kemungkinan sama sekali jika Agatha akan membelanya.
“Aku
memang manipulatif, tapi mau bagaimana lagi memangnya?” batin Aaron dalam hati
sembari menggidikkan kedua bahunya.
Sementara
itu di sisi lain, tampaknya Agatha sama sekali belum menyadari hal tersebut.
Jika dirinya akan dimanfaatkan oleh Aaron demi kepentingan pribadinya. Tapi,
cepat atau lambat hal tersebut pasti akan terungkap juga.
“Kemarilah!”
teriak Agatha dari dapur.
Aaron
sontak langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Tanpa pikir
panjang, ia segera beranjak dari tempat duduknya. Aaron sangat yakin jika gadis
itu sedang berbicara dengan dirinya. Memangnya ada siapa lagi orang di sini
selain Aaron.
“Duduklah
dan makan!” titah Agatha tanpa menatap manik mata Aaron.
“Terima
kasih,” ucap Aaron dengan tulus.
Entah
tercipta dari apa hati gadis ini. Aaron sama sekali tidak habis pikir. Setelah
menculik dan memperlakukan Agatha dengan kasar, gadis itu malah bersikap
sebaliknya kepada Aaron. Ia tahu benar bagaimana cara membuat Aaron menderita
karena rasa bersalahnya.
Mereka berdua menikmat makan malam
dengan khidmat. Tidak ada satu pun yang berniat untuk buka suara atau
semacamnya. Sunyi. Senyap. Hanya ada suara sendok dan piring yang saling
beradu. Suaranya menggema di seluruh penjuru ruangan.