The Riot

The Riot
Dinner



Tanpa


pikir panjang lagi, Agatha segera memukul mundur pria itu. Membuatnya


menyingkir. Yang tadi itu nyaris tidak ada jarak. Agatha tentu tidak akan


merasa nyaman jika terjebak dalam situasi demikian.


Dengan


segenap sisa nergi yang masih ia miliki hingga saat ini, Agatha berusaha untuk


memberontak. Siku tangannya ia gunakan sebagai senjata utama untuk menyerang


Aaron. Serangannya tepat mengenai sasaran. Bagian perut selalu menjadi titik


lemah setiap orang. Mereka tidak akan bisa berkutik jika sudah diserang pada


bagian tersebut. Bisa dipastikan.


“Arghh!!!”


Aaron


spontan mengerang kesakitan setelahnya. Ia sama sekali tidak menyangka jika


Agatha akan menyerangnya dengan begitu brutal. Sebelumnya tidak ada aba-aba


sama sekali. Bahkan pergerakan gadis ini terlalu cepat untuk ditebak. Sehingga


Aaron harus berakhir seperti ini karena tidak bisa berbuat apa-apa.


Tapi,


tidak masalah sama sekali. Serangan ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan


dengan serangan lain yang pernah diterimanya. Beberapa tahun yang lalu,


pergelangan tangannya pernah terkena timah panas. Lalu jarak beberapa bulan


setelahnya, ia mendapatkan beberapa luka tusukan di bagian perut.


Jika


ingin mengadu nasib, maka Aaron lah yang akan menjadi pihak paling menderita di


sini. Memang karena dunia tidak pernah adil kepadanya. Dia selalu tersiksa


selama masih berpijak di muka bumi. Tapi, tidak ada pilihan lagi. Ini adalah


jalan yang harus ia lalui. Siapa yang tahu jika ternyata melalui cara yang sama


juga ia akan menemui Tuhan jauh lebih cepat dari apa yang pernah dia bayangkan


sebelumnya.


“Jangan


berani macam-macam denganku!” peringati Agatha sekali lagi.


Napas


gadis itu tampak memburu. Tidak. Kali ini bukan karena ia melakukan aktivitas


fisik yang tergolong berat. Tidak sama sekali. Melainkan akibat jantungnya yang


bekerja terlalu cepat. Perasaan panik dan takut berhasil menguasainya dalam


waktu yang bersamaan. Sungguh sulit untuk dipercaya. Namun, itulah


kenyataannya.


Sementara


itu, di sisi lain Aaron hanya bisa kembali menyeringai. Salau satu sudut


bibirnya terangkat. Sepertinya menyeringai sudah menjadi salah satu kebiasaan


barunya sekarang.


“Gerakan


refleksmu bagus juga,” puji Aaron.


Kali


ini ia berkata jujur. Apa adanya. Tidak ada yang dilebih-lebihkan atau bahkan


dikurang-kurangi. Semua tatanan kata yang ia miliki sudah sesuai dengan


porsinya masing-masing.


“Berhenti


mengatakan omong kosong!” balas gadis itu dengan ketus. Satu detik setelahnya


ia berdecak sebal.


Entah


mimpi buruk macam apa yang menghampirinya kemarin malam. Sampai-sampai gadis


itu terpaksa bertemu dengan orang seperti Aaron. Dan yang lebih parahnya lagi


adalah, ia tidak bisa menghindar sama sekali dari situasi seperti ini. Pasti semesta


sudah merencanakan segalanya dengan sedemikian rupa.


Tak


ingin ambil pusing soal masalah yang tadi, Agatha lantas segera melanjutkan


kegiatannya. Cacing-cacing yang menghuni rongga perutnya sudah tidak bisa


bertahan lebih lama lagi. Mereka kelaparan. Butuh asupan dengan segera. Selain


itu, Agatha juga memerlukan tambahan energi ekstra.


Hari


ini adalah hari yang melelahkan. Gadis itu tidak pernah membayangkan akan jadi


seperti apa setiap harinya.


“Ada


yang bisa aku bantu?” tanya Aaron sembari menawarkan bantuan secara tidak


langsung.


“Tidak


ada!” jawab Agatha dengan nada ketus.


“Cukup


duduk tenang saja. Hal itu akan sangat membantuku,” jelas gadis itu kemudian.


Sepertinya


orang lain. Lagipula sejak hidup sendirian di apartmentnya, gadis ini sudah


terbiasa untuk mengerjakan semuanya sendiri


Jangan terlalu mengharapkan orang


lain. Manusia hanya terlalu bergantung kepada manusia lainnya. Padahal mereka


tahu jika dirinya sama-sama payah. Tidak ada bedanya sama sekali.


“Baiklah


kalau begitu,” ujar Aaron.


Alih-alih


mencari masalah, pria itu malah terlihat menuruti setiap permintaan Agatha.


Tidak ada penolakan sama sekali. Untuk pertama kalinya Aaron terlihat lebih


penurut daripada biasanya. Jika orang yang sudah mengenalnya lama mendadak


melihat Aaron di masa sekarang, pasti ia terkejut bukan main.


Entah


bagaimana seseorang bisa berubah drastis di hadapan orang lain. seolah memiliki


dua kepribadian dalam satu raga. Terdengar konyol. Namun, siapa yang bisa


memastikan jika asumsi tersebut salah.


“Kau


tidak akan aman jika berada di sekitar Agatha,” batinnya dalam hati.


Mendadak


pria itu tersadar jika berada di sekitar gadis itu bukanlah pilihan yang tepat.


Apalagi sekarang ini ia sudah melangkah terlalu jauh. Lebih tepatnya sudah


memasuki daerah territorial gadis itu.


Mengingat


dan menimbang kembali sebuah fakta jika Agatha adalah seorang anggota dari tim


kepolisian. Bagaimanapun juga memang tidak dibenarkan bagi seorang pelaku


kriminal seperti dirinya berada di sekitar pihak berwajib. Aaron psati sudah


tahu apa kemungkinan terburuk yang akan ia terima nantinya. Namun, untuk


sekarang hal tersebut seolah tidak menjadi permasalahan sama sekali baginya.


Alih-allih


menyerang, posisi Agatha kali ini dirasa akan jauh lebih menguntungkan bagi


pihak Aaron. Secara tidak langsung, saat ini ia sedang berlindung kepada gadis


itu. Selama Agatha belum menyadari apa pun tentang Aaron, tidak akan ada hal


yang perlu dipermasalahkan. Termasuk statusnya sebagai pelaku kriminal. Dan itu


adalah rahasia terbesar yang harus tetap ia jaga jika ingin terus hidup di


bawah perlindungan Agatha. Saat ini posisinya begitu lemah. Sementara tidak ada


satu pun pihak yang menaunginya, membuat posisi Aaron semakin mudah untuk


ditindas pihak lain. Ia membutuhkan sumber kekuatan untuk tetap bertahan hidup.


Setidaknya sampai semua urusannya selesai.


Untuk


sementara waktu ia bisa memanfaatkan gadis itu demi keselamatannya. Jika ia


berhasil membuat cara pandang Agatha kepadanya berubah, maka tidak menutup


kemungkinan sama sekali jika Agatha akan membelanya.


“Aku


memang manipulatif, tapi mau bagaimana lagi memangnya?” batin Aaron dalam hati


sembari menggidikkan kedua bahunya.


Sementara


itu di sisi lain, tampaknya Agatha sama sekali belum menyadari hal tersebut.


Jika dirinya akan dimanfaatkan oleh Aaron demi kepentingan pribadinya. Tapi,


cepat atau lambat hal tersebut pasti akan terungkap juga.


“Kemarilah!”


teriak Agatha dari dapur.


Aaron


sontak langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Tanpa pikir


panjang, ia segera beranjak dari tempat duduknya. Aaron sangat yakin jika gadis


itu sedang berbicara dengan dirinya. Memangnya ada siapa lagi orang di sini


selain Aaron.


“Duduklah


dan makan!” titah Agatha tanpa menatap manik mata Aaron.


“Terima


kasih,” ucap Aaron dengan tulus.


Entah


tercipta dari apa hati gadis ini. Aaron sama sekali tidak habis pikir. Setelah


menculik dan memperlakukan Agatha dengan kasar, gadis itu malah bersikap


sebaliknya kepada Aaron. Ia tahu benar bagaimana cara membuat Aaron menderita


karena rasa bersalahnya.


Mereka berdua menikmat makan malam


dengan khidmat. Tidak ada satu pun yang berniat untuk buka suara atau


semacamnya. Sunyi. Senyap. Hanya ada suara sendok dan piring yang saling


beradu. Suaranya menggema di seluruh penjuru ruangan.