
Gadis
itu masih terbaring dengan lemah di atas brankar. Begitu sampai di rumah sakit
Agatha langsung dilarikan ke unit gawat darurat. Setelah mendapatkan penanganan
oleh tim medis, ia langsung dipindahkan ke kamar perawatan. Sampai sekarang ia
masih belum kunjung sadarkan diri juga.
Dokter
bilang lukanya tidak terlalu parah. Ia tidak akan meninggal hanya karena hal
itu. Beruntung Agatha cepat dibawa ke rumah sakit. Hanya satu luka tusuk yang
berhasil di dapatkan gadis itu. Tidak lebih. Untunglah kalau begitu.
Sekarang
sudah hampir pukul lima sore dan mereka belum kunjung kembali juga ke kantor. Padahal
tadi hanya berpamitan untuk makan siang saja. Sejak tadi ponsel Agatha memang
mati. Sehingga tidak ada panggilan masuk sama sekali. Sementara itu, secara
tiba-tiba ponsel Arjuna bergetar pelan. Tanpa pikir panjang, ia segera merogoh
saku celananya.
“Halo!”
sapa Arjuna begitu panggilannya tersambung.
“Halo!”
sahut sebuah suara dari seberang sana.
Dari
warna suaranya saja Arjuna sudah bisa menebak siapa orang yang saat ini sedang
berbicara dengannya. Yang jelas mereka sudah saling mengenal satu sama lain.
Ini adalah Robi.
“Kemana
saja kalian sebenarnya?!” interupsi pria itu tanpa basa-basi lagi.
“Hari
ini baru saja ada kabar terbaru soal kasus pembunuhan yang sedang ditangani
oleh Agatha,” jelasnya kemudian.
Mendengar
kalimat tersebut, Arjuna lantas langsung mengerutkan dahinya. Kedua alisnya
tampak menyatu satu sama lain. Cukup untuk menggambarkan suasana hatinya saat
ini.
“Ada
kabar penikaman seorang wanita di warung makan langganan kita tadi siang. Laporannya
baru saja masuk. Perkiraan kejadiannya
sekitar pukul setengah dua siang,” papar Robi dengan panjang lebar.
Pria
itu berusaha untuk menjelaskan semuanya dengan detail. Mencegah kesalahpahaman
yang mungkin saja terjadi.
Sementara
berkutik sama sekali. Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Otaknya masih
berusaha keras untuk mencerna segala informasi yang barusaja ia terima. Padahal
tak harus berpikir keras.
“Apa
maksudmu?” tanya Arjuna.
Pria
itu memlih untuk menyerah. Ia tidak ingin menebak lebih jauh lagi. Walaupun
sebenarnya sampai di tahap ini ia sudah mulai mendapatkan jawabannya. Tapi,
Arjuna tidak ingin mengutarakan hal tersebut lebih dulu. Akan jauh lebih baik
jika ia mendengarkan ecara langsung dari Robi.
Tebakannya
memang belum tentu benar. Tapi, tidak menutup kemungkinan untuk berpotensi
untuk dibenarkan. Masalahnya, ini bukan hal baik sama sekali. Ada beberapa hal
yang memang tidak seharusnya kita ketahui lebih cepat. Mungkin sebagian lebih
baik tidak tahu sama sekali.
“Apa
kau yakin jika yang melakukan hal tersebut adalah orang yang sama dengan pelaku
kejadian sebelumnya?” tanya Arjuna sekali lagi untuk memastikan.
Kali
ini ia kembali mempertegas maksud dari pertanyaannya. Masih dalam konteks yang
sama.
“Tentu
saja!” jawab pria itu dengan yakin.
“Menurut
rekaman kamera pengawas yang kami dapatkan, ada tanda berupa stiker pada
pergelangan tangannya,” jelasnya kemudian.
Arjuna lantas membulatkan kedua
bola matanya karena tak percaya.
Apa yang dikatakan oleh Robi tidak
selamanya benar. Namun, tidak ada salahnya juga. Selama ini pelaku dikenal
dengan kebiasaan memberikan tanda berupa angka atau simbol khusus pada setiap
korbannya.
“Apa kau tahu siapa nama korbannya?”
tanya Arjuna dengan suara bergetar.
“Belum. Sampai saat ini kami masih
berusaha untuk mencari tahu,” akunya.
“Dasar bodoh!” cecar pria itu
dengan perasaan geram.