The Riot

The Riot
Knock



Hari ini Agataha berada di rumah selama satu harian


penuh. Pada akhirnya ia bisa beristirahat dengan tenang kali ini, tanpa ada


yang mengganggu. Paling tidak untuk satu hari saja semua terasa begitu tenang


dan damai.


Agatha memang sengaja memutuskan untuk tidak pergi


kemana-mana hari ini. Setelah mengambil cuti yang super singkat, ia tidak mau


buang-buang waktu untuk hal tidak penting. Karena kesempatan yang sama belum


tentu akan datang dua kali, maka tentu gadis itu tidak akan menyia-nyiakan


kesempatan langka yang ia dapat.


Sekarang sudah hampir pukul enam sore. Sebentar lagi


matahari akan segera tenggelam. Kembali ke sarangnya. Mempersilahkan dengan


hormat kepada sang gulita penguasa kegelapan untuk mengambil alih tempatnya. Waktunya


sudah usai untuk hari ini. Tapi tenang saja. Tidak perlu cemas. Besok dia akan


kembali lagi.


Agatha memainkan lagu berbahasa Inggris dari


ponselnya. Sembari berbaring di tepi sofa. Sementara pandangannya menatap lurus


ke luar jendela. Ke arah lukisan semesta yang dominan akan warna jingga. Entah kenapa


rasanya begitu menenangkan.


No


one can rewrite the stars


How can you say you’ll be mine?


Everything keep us apart


Cause you’d be the one I was meant to find


Sesekali tubuhnya juga ikut bergerak secara refleks.


Mengikuti tempo dan alunan musik yang ada. Jarang sekali Agatha bisa seperti


ini. Nyaris tidak pernah. Ternyata keputusan yang ia buat kemarin untuk


memutuskan tidak masuk bekerja esoknya adalah suatu keputusan yang tepat.


‘TING!’


Mendadak suara bel yang berasal dari pintu depan


menggema di seluruh penjuru ruangan. Sontak suara tersebut berhasil mencuri


atensi gadis itu. Padahal sekarang ia sedang bersantai dan menikmati waktu. Lagipula


siapa yang datang kemari.


“Perasaan aku tidak ada memesan apa pun,” gumam


gadis itu.


belum jelas, ia lantas beranjak dari tempat duduknya. Kemudian buru-buru


menghampiri pintu depan untuk mengecek siapa orang yang datang kemari. Memang belum


larut malam. Jadi tidak ada salahnya jika ada yang berniat untuk bertamu. Tapi,


sekali lagi pertanyaannya adalah siapa.


‘TING!’


Seseorang yang berada di balik pintu itu sepertinya


tidak sabar untuk menunggu. Sampai-sampai ia menekan bel untuk yang kedua


kalinya. Padahal belum ada satu menit sejak ia membunyikan bel untuk yang


terakhir kalinya.


“Iya, sebentar!” teriak Agatha dari dalam.


Gadis itu segera mempercepat langkahnya. Tepat ketika


ia sampai di depan pintu, Agatha tidak langsung membuka pintu tersebut. Melainkan


menyalakan layar interkom yang berada di sekitar sana. Agatha perlu memastikan


sekali lagi siapa yang datang dan apa keperluannya. Pasalnya, tidak semua orang


pantas untuk diberikan pintu. Bisa saja ia malah berniat jahat.


“Siapa di luar sana?” tanya Agatha sambil


mendekatkan mulutnya ke arah microphone.


“Cepat buka pintunya!” perintah seorang pria.


Tunggu dulu. Agatha sepertinya tidak merasa asing


dengan suara tersebut. Mungkinkah ini Aaron? Jika memang benar, kenapa ia tidak


langsung masuk saja. Biasanya juga selalu begitu.


“Ada apa denganmu? Kenapa tidak langsung masuk saja?”


tanya gadis itu lagi.


“Bagaimana bisa kau masuk jika kata sandinya selalu


salah!” gerutu Aaron kesal.


“Ah, iya!” balas gadis itu sambil menepuk jidatnya


pelan.


Agatha nyaris melupakan satu hal. Beberapa waktu


yang lalu ia baru saja selesai mengganti kata sandinya. Demi alasan keamanan,


pihak pengelola apartment ini menyarankan bagi setiap penghuninya untuk


mengganti kata sandi secara teratur. Minimal tiga bulan sekali. Kalau bisa


sebulan sekali. Itu jauh lebih baik lagi.