The Riot

The Riot
The Day



“Selamat pagi semuanya!” sapa Agatha begitu sampai


di tempatnya bekerja.


Sejauh ini ia sama sekali belum melihat batang


hidung Arjuna. Mungkin pria itu sedang berada di ruangannya. Mustahil jika


Arjuna belum sampai ke kantor. Ia tidak pernah terlambat. Jangankan terlambat,


datang sepuluh menit menjelang waktu bekerja saja tidak pernah. Harus diakui


jika pria itu memang cukup disiplin. Baik itu terhadap dirinya sendiri, mau pun


orang lain.


Arjuna memang tidak pernah berkeliaran menelusuri


setiap lorong yang ada di tempat ini jika tidak penting sama sekali. Daripada


memusingkan hal tersebut, sebaiknya Agatha langsung bersiap. Pagi ini katanya


gadis itu dan timnya akan melakukan investigasi di tempat kejadian. Kemarin


malam ada berita sebuah mobil yang menabrak pohon di pinggir jalan. Diduga jika


sang pengemudi sedang dalam kondisi mabuk. Beruntung kejadiannya terjadi


sekitar pukul sebelas malam. Jadi, tidak terlalu beresiko besar kepada


pengendara lain. Sebab beberapa ruas jalanan sudah mulai sepi pada jam segitu.


Tanpa pikir panjang lagi, ia segera pergi ke


ruangannya untuk bersiap. Satu jam lagi mereka akan berangkat. Agatha sama


sekali tidak berniat untuk memberi tahu Arjuna jawabannya sekarang. Jika pria


itu mengandalkan inisiatif darinya, maka percuma saja. Karena Agatha tidak akan


melakukan hal tersebut. Bahkan jika Arjuna yyang langsung menghampiri gadis itu


untuk menanyakan hal serupa seperti kemarin, belum tentu Agatha akan


menjawabnya.


Tidak. Bukannya dia belum menemukan jawaban apa yang


harus ia katakan nanti. Melainkan, gadis itu masih ragu. Agatha tidak pernah


yakin sepenuhnya dengan dirinya sendiri. Selalu saja sulit untuk melakukan yang


satu itu. Terlepas dari apa pun permasalahannya.


‘TAP! TAP! TAP!’


Lorong menuju ruangannya memang selalu sepi. Sehingga


suara dengan volume sekecil apa pun akan terdengar cukup jelas di telinga.


Termasuk suara telapak sepatu yang beradu dengan permukaan lantai. Suaranya


menggema di sepanjang lorong. Semoga saja tidak sampai ke telinga Arjuna. Sebab,


ruangan pria itu berada di ujung lorong.


Demi menghindari hal yang tidak diinginkan, Agatha


lantas mempercepat langkahnya. Meski sebenarnya di sisi lain gadis itu juga


merasa terganggu dengan suara tersebut.


‘CEKLEK!”


Syukurlah, pada akhirnya ia sampai di depan pintu.


Salah satu tangannya sudah berada di gagang pintu. Tanpa pikir panjang, ia


segera melangkah masuk ke dalam.


“Aku benar-benar bersyukur tidak bertemu dengan pria


itu,” ucap Agatha sambil menutup kembali pintu tersebut.


Sekarang entah kenapa perasaannya terasa jauh lebih


lega. Padahal tidak ada apa-apa. Namun, jujur saja yang tadi itu benar-benar


menegangkan. Melewati lorong menuju ruangannya sepertinya mulai hari ini akan


menjadi sesuatu yang sedikit berbeda. Lebih menguji adrenalin.


“Selamat pagi!” sapa seseorang dari arah meja.


Mendengar kalimat tersebut, ia lantas memutar bola


matanya ke arah sumber suara. Mencoba untuk mencari tahu siapa pemilik suara


tersebut. Memangnya siapa yang sudah lancang masuk ke ruangan orang lain tanpa seizin


sang empunya.


“Hai!” sapanya sekali lagi begitu kedua pandangan


mereka saling bertemu.


Refleks Agatha langsung mundur beberapa langkah


karena kaget. Hingga punggunggnya benar-benar menempel pada permukaan pintu. Asalkan


tidak ada saja orang lain yang menerobos masuk dari luar. Jika tidak, tubuh


mungilnya pasti akan tersungkur. Mungkin itu akan jadi hal paling memalukan di


hidupnya.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Agatha


langsung ke intinya. Ia sedang tidak ingin berbasa-basi.


“Tidak ada, hanya bersantai sambil menunggu orang


sepertimu,” jawab pria itu acuh tak acuh.


Otaknya masih menolak untuk percaya jika sekarang


mengerjap untuk menetralisir atmosfir di sekitarnya. Lebih tepatnya untuk


menormalisasi dirinya kembali. Agatha perlu memastikan apakah saat ini dirinya


sedang berhalusinasi atau tidak. Pasalnya, sejak kemarin ia tidak bisa berhenti


memikirkan Arjuna. Bukan karena apa-apa. Hanya ada satu alasannya, yaitu karena


Arjuna memberikan pilihan yang tidak masuk akal kepadanya. Jika diingat-ingat


lagi, masih menyebalkan.


“Aku penasaran dengan jawaban macam apa yang kau


bawa setelah diberi waktu semalaman untuk berpikir,” ujar Arjuna secara


gamblang.


“Bahkan aku rela datang ke sini pagi-pagi sekali


karena tidak sabar menunggu jawaban darimu,” tukasnya di akhir kalimat.


Agatha masih tidak habis pikir. Ternyata pria itu


masih mengingat semuanya dengan begitu jelas. Padahal Arjuna termasuk orang


yang lumayan sibuk. Seharusnya ia tidak perlu memikirkan hal tidak penting


seperti itu. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya.


Lain kali Agatha tidak boleh bersikap remeh kepada


pria itu. Seperti yang semua orang tahu, jika Arjuna bisa melakukan apa saja.


Tempat ini sudah menjadi wilayah kekuasaannya. Dia berhak untuk mengaturnya


selama masih berada di dalam masa jabatan.


“Apa yang harus kukatakan sekarang?” gumamnya dalam


hati.


“Ah, sial!” umpatnya.


“Ayo, cepatlah! Aku tidak punya banyak waktu untuk


berlama-lama di sini,” kata Arjuna sambil melirik sekilas ke arah jam tangan


miliknya.


Sementara, di sisi lain Agatha hanya bisa menghela


napasnya dengan kasar. Sekarang ia sudah terjebak. Agatha tidak bisa menghindar


lagi. Apa pun itu alasannya.


“Aku masih belum memutuskan jawabannya,” ungkap gadis


itu secara terang-terangan.


Setelah kehabisan akal dan tidak tahu harus berbuat


bagaimana lagi, pada akhirnya Agatha memutuskan untuk tetap berkata jujur saja.


apa pun yang akan terjadi ke depannya, ia sudah pasrah. Lagipula memangnya apa


yang bisa ia lakukan. Karena pada dasarnya, keputusan tetap berada di tangan


pria itu. Mau tak mau ia harus tetap tunduk kepada yang lebih berkuasa.


“Sudah puas!” celetuk gadis itu dengan nada bicara


yang jauh lebih tinggi dari pada biasanya.


Ekpresi Arjuna tidak bisa ditebak sedikit pun. Ia


tidak kelihatan marah atau bahkan kesal. Biasa saja. Namun, tetap ada yang


berbeda. Sorot matanya menunjukkan sesuatu yang lain. Sebuah hal yang tidak


akan pernah ia ketahui apa makna tersembunyinya.


“Kalau begitu biar aku yang membuat keputusannya,”


balas Arjuna.


Akhirnya seorang pria yang sedang duduk di seberang


sana ikut buka suara juga pada akhirnya. Setelah memutuskan untuk tetap bungkam


selama beberapa waktu.


“Semua orang tahu jika keputusanku masih jadi yang


terbaik sejauh ini. Bukankah begitu?” tanya Arjuna di akhir kalimat.


“Tidak!” tepis Agatha.


Ia sama sekali tidak setuju dengan pernyataan


tersebut.


“Yang selama ini terlihat baik dan benar, belum


tentu akan tetap begitu selamanya. Semua hal pasti akan mengalami perubahan,” jelas


gadis itu dengan panjang lebar.


“Jangan memaksa orang lain untuk melakukan


keinginanmu,” gumamnya dengan suara yang sedikit lebih kecil dari sebelumnya.


“Tapi kau tidak akan bisa menolak tugas!” seru Arjuna


sambil menggebrak meja.


Sepertinya gadis itu


sukses dalam membuat Arjuna kehilangan kesabarannya. Tapi anehnya, di sisi lain


Agatha malah tampak begitu tenang. Seolah yang tadi itu bukan apa-apa.