
Tanpa menukar pakaiannya
lebih dulu, Agatha yang baru saja masuk langsung keluar lagi setelah
mendapatkan panggilan tersebut. Tidak ada waktu untuk berlama-lama lagi di
sini. Agatha tidak suka membuat orang lain menunggu. Meski sebenarnya ia bisa
saja sampai ke sana dalam waktu kurang dari lima menit jika menggunakan lift.
Mungkin hanya sekitar satu sampai dua menit jika dari lantai tempat tinggalnya
menuju lantai dasar.
Di sisi lain Robi
sepertinya masih berada di kantor ia pasti belum beranjak dari tempat itu saat
melakukan panggilan tadi. Seharusnya jam segini ia memang masih berada di
kantor. Kecuali hari libur. Tapi, bahkan hari libur sekali pun beberapa dari
mereka harus tetap masuk kerja. Atau paling tidak berjaga di kantor untuk
melayani dan memproses setiap laporan yang masuk.
“Semoga saja Immanuel
sudah pulang,” gumam gadis itu sambil tetap berjalan menembus kesunyian di
koridor kala itu. Hanya suara langkah kakinya yang terdengar sejauh ini.
Belum lama sejak Immanuel
meninggalkan pintu apartmentnya. Pria itu pasti belum benar-benar pergi dari
gedung ini. Mungkin ia masih berada di lantai lain. Atau malah sudah di
parkiran. Yang jelas ia pasti masih berada di sekitar sana. Immanuel pasti
belum pergi jauh. Jadi, selama itu pula ia harus berhati-hati.
Agatha memutuskan untuk
menggunakan masker saja. Sepertinya itu ide bagus. Meski tidak seratus persen
akan menjamin keamanan. Tapi, paling tidak bisa mengurangi resiko untuk
ketahuan. Immanuel tidak akan langsung mengenalinya jika ia menggunakan masker
seperti ini. Pasalnya, tidak biasanya Agatha menggunakan masker.
Sekarang baru pukul
delapan malam. Belum terlalu larut. Jadi, wajar saja kalau tempat ini masih
begitu ramai. Terutama cafe yang menjadi tempat tujuan mereka. Beruntung Agatha
berhasil mendapatkan tempat duduk di sela-sela keramaian ini. Bahkan sampau hampir
tengah malam sekali pun, orang-orang masih berkeliaran di lantai bawah. Entah
kesibukan macam apa yang mengharuskan mereka untuk tetap terjaga malam-malam
seperti ini. Tapi, yang jelas Agatha bukan salah satu bagian dari mereka. Gadis
itu akan pergi ke tempat tidurnya ketika sudah merasa mengantuk. Terlebih
akhir-akhir ini jam tidurnya sudah mulai kembali teratur.
Aggatha memilih tempat
duduk yang terletak di sudut ruangan. Cukup terpencil. Jauh dari keramaian.
Namun, dia masih tetap bisa memantau segala hal yang terjadi di luar sana
dengan leluasa. Dari sekuan banyak tempat duduk yang sudah terisi, beruntung
Agatha mendapatkan spot yang satu ini. Sesuai dengan kebutuhannya sekarang.
Agatha tidak ingin dilihat oleh banyak orang. Apalagi kalau mereka sampai
mendengarnya.
Sembari menunggu Robi
datang, gadis itu sudah memesan beberapa menu lebih dulu untuk dirinya. Nanti,
setelah pria itu datang dia bisa memesan lagi. Sekarang baru berjarak lima
menit sejak terakhir kali ia bicara dengan Robi melalui telepon genggam.
Seharusnya sekarang pria itu sedang bersiao atau malah belum beranjak dari
tempat duduknya sama sekali.
Tidak masalah jika Robi
sampai ke sini sekitar lima belas sampai dua puluh menit lagi. Dengan begitu,
Agatha bisa menyempatkan dirinya untuk makan lebih dulu. Sejak tadi siang, dia
belum ada memakan apa pun. Meski sekarang jam tidurnya sudah kembali teratur,
namun tidak dengan jadwal makannya. Sungguh sebuah perbandingan yang berbanding
jauh dengan sebelumnya.
Seharusnya tidak ada
yang mengenalinya di sini. Sesama penghuni apartemen saja tidak pernah saling
mengenal. Jadi, tidak akan ada masalah. Immanuel pasti sudah bersiap untuk
pulang. Café ini berada di sisi samping dari bagian gedung ini. Dinding kacanya
pun menghadap langsung ke bagian sisi utara jalan raya. Sementara parkiran
pengunjung berada di pelataran depan. Sehingga kecil kemungkinan jika Immanuel
akan mengetahui keberadaan Agatha saat ini. Yang ia tahu kalau terakhir kali
‘TING!’
Kali ini ponselnya
tidak bergetar, melainkan berdentang. Ada satu bunyi notifikasi. Itu berarti
kemungkinan ada pesan masuk.
20.12 | Maaf\,
sepertinya aku akan datang sedikit terlambat. Jalanan macat.
Apa antriannya panjang? | 20.12
20.13 | Tidak\, tidak.
Mungkin aku hanya akan terlambat sekitar sepuluh menit dari waktu yang sudah
diperkirakan tadi.
Baiklah\, tidak masalah. Akan ku tunggu. | 20.13
Aku sudah berada di café sekarang | 20.14
Percakapan singkat
mereka berakhir begitu saja setelah Agatha membalas demikian. Sama sekali tidak
ada tanda-tanda jika Robi akan membalas pesannya. Pria itu bahkan hanya
membacanya saja. Tidak apa. Yang penting Robi sudah tahu tetang informasi yang
akan disampaikan olehnya.
Robi pasti akan
buru-buru ke sini setelah kondisi jalanan sedikit lebih lengang. Dia tidak akan
membiarkan gadis itu menunggu terlalu lama. Mereka sama-sama tak suka menunggu.
Jadi, tidak boleh membuat orang lain menunggu jika tidak mau diperlakukan
demikian.
“Permisi, ini pesanan
anda!” sahut sebuah suara.
Gadis itu lantas
menoleh ke arah sumber suara, kemudian tersenyum tipis ketika mendapati si
pelayang sudah berada di sebelahnya. Tanpa pikir panjang lagi, pelayan tersebut
segera menata pesanan di atas meja pemiliknya. Pasti Agatha sudah tidak sabar
untuk menyantap makanan tersebut.
“Selamat menikmati!”
ucapnya sebelum berpamitan pergi.
“Terima kasih!” balas
Agatha dengan ramah.
Setelah pelayan itu
pergi, baru dia mulai makan. Agatha melepas maskernya karena keperluan pribadi.
Tidak mungkin dia makan dengan menggunakan masker. Pasti akan terasa jauh lebih
sulit nantinya. Lagi pula tidak ada siapa pun yang terlihat sedang memata-matainya.
Semua orang tampak sama saja. Tidak ada yang terlihat mencurigakan sejauh ini.
Sambil menyantap
hidangan yang berada tepat di depannya, Agatha menyempatkan diri untuk berkutat
dengan ponsel. Pasti akan terasa membosankan jika ia makan begitu saja. Berbeda
ceritanya jika ada orang lain di sini. Setidaknya pasti akan terasa jauh lebih
baik.
Dua
pelajar SMA ditemukan tewas tertabrak mobil di bagian ruas jalan menuju Mall Simon.
Keduanya tewas di tempat, sementara pelaku melarikan diri. Sampai saat ini
polisi masih menyelidiki tempat kejadian pekara. Pelaku akan ditemukan
secepatnya.
Baru saja membuka akun
sosial medianya, gadis itu sudah dikejutkan oleh kabar tidak menyenangkan. Sepertinya
ponsel ini pun bahkan tahu kalau pemiliknya sering menghadapi situasi demikian.
Sehingga yang pertama kali muncul di bagian berandanya adalah kejadian
kriminal.
“Mereka nyaris
membuatku tidak selera makan,” ungap gadis itu sambil berdecak sebal.
Untung
saja foto korban pada saat kecelakaan tidak ditunjukkan. Mereka hanya
memperlihatkan tempat kejadian yang sudah dipasangi garis polisi tanpa ada
korban di sana. Sehingga pemandangannya tidak terlalu buruk untuk dilihat oleh
beberapa orang.