
Meski harus mulai bekerja lebih awal dari pada waktu
yang seharusnya, Agatha sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut. Malah
pagi ini semangatnya sedang menggebut-gebu. Energinya masih penuh.
‘TOK! TOK! TOK!’
“Silahkan masuk!” sahut gadis itu dari dalam ruangan
tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali. Sejak tadi ia masih terfokus kepada
lembar laporan kasus yang sedang ditanganinya.
Tak lama setelah Agatha berkata demikian, seseorang
muncul dari balik pintu. Kemudian segera mengambil tempat duduk tepat di depan
gadis itu. Sampai sekarang Agatha masih belum bisa mengalihkan pandangannya. Tampaknya
lembar kasus tersebut terasa jauh lebih menarik baginya. Hingga berhasil
mencuri seluruh atensi gadis itu.
“Selamat pagi!” sapa orang tersebut.
Ketika suara itu sampai di gendang telinganya,
barulah Agatha menoleh sekilas. Kemudian ia segera meletakkan lembar
laporannya. Menyisihkan waktu beberapa detik untuk melayani pembicaraannya. Ternyata
yang datang adalah Thomas. Pria itu masih berada di posisi yang sama dengannya.
Tidak ada yang lebih senior di sini.
“Ada perlu apa kemari?” tanya gadis itu to the point.
Sepertinya ia memang sedang tidak ingin
bertele-tele. Ia harus memaksimalkan waktunya hari ini untuk mengerjakan
beberapa pekerjaan yang sempat tertunda karena ia tidak masuk kemarin.
“Kau dipanggil ke ruangan pimpinan,” ujar Thomas dengan
apa adanya.
“Arjuna maksudmu?” tanya gadis itu kembali untuk
memastikan.
Sementara, sosok yang diajak bicara hanya mengangguk
pelan untuk mengiyakan perkataan gadis itu.
“Kenapa dia memanggilku?” tanya Agatha lagi.
“Aku tidak tahu ada urusan apa. Kalau kau mau tahu
jawabannya sebaiknya segera datang ke sana,” jawab pria itu secara gamblang.
Tak ingin ambil pusing, Agatha lantas segera
membereskan kotak makannya. Ia bahkan belum sempat menyelesaikan sarapan
paginya kali ini. Sudah ada saja urusan lain. Jadwalnya mendadak menjadi begitu
padat ketika menginjakkan kaki di sini. Sangking padatnya, sampai waktu untuk
menghela napas saja tidak ada.
Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu segera pergi
menuju ruangan yang dimaksud. Entah ada perlu apalagi pria itu dengannya. Tidak
bisakah mereka membiarkan Agatha sendirian untuk satu hari saja. Dia perlu
menyelesaikan segala tugasnya dengan cepat jika ingin memiliki waktu luang.
‘TOK! TOK! TOK!’
Agatha menunggu selama beberapa saat setelah selesai
mengetuk pintu. Ini adalah salah satu etika dasar dalam pelajaran sopan santun.
Tidak etis sekali ketika kau sembarangan keluar masuk.
Satu detik, dua detik, tiga detik, sama sekali tidak
ada jawaban dari dalam.
“Apa mungkin dia tak mendengarnya?” gumam gadis itu
pelan.
Setelahnya ia memutuskan untuk kembali mengetuk
pintu tersebut. Berharap jika kali ini ada balasan dari Arjuna. Atau paling
tidak, dia mendengarnya. Agatha tidak akan sudi jika disuruh menunggu di depan
pintu seperti ini tanpa alasan yang jelas. Dia butuh kepastian setidaknya.
‘TOK! TOK! TOK!’
Percobaan kedua juga tampaknya sama saja. Tidak ada
balasan dari dalam sama sekali. Kali ini pertanyaannya berubah. Apa jangan-jangan
memang tidak ada orang di dalam. Mungkin Arjuna sedang pergi sebentar ke suatu
tempat. Tapi kemana? Tidak mungkin jika pria itu belum datang. Ini sudah pukul
berapa. Kurang dari satu menit lagi, jika ia belum sampai maka statusnya akan
terlambat.
Satu hal lagi yang membuat Agatha semakin yakin jika
pria itu sudah datang ke kantor adalah tulisan ‘BUKA’di depan pintunya. Dan yang
terpenting, pintu ini sama sekali tidak terkunci.
“Aish! Apa yang harus kulakukan?!” gerutu gadis itu
sebal.
tetap menunggu di sini sampai Arjuna kembali, atau malah kembali ke ruangannya
saja. Mengingat ada beberapa pekerjaan yang harus ia lakukan. Dan itu tidak
bisa menunggu.
“Ah, ternyata kau sudah datang!” ucap seseorang dari
arah lain.
Agatha lantas segera membalikkan badannya dan
mendapati pria itu yang sudah berada di belakangnya. Entah sejak kapan ia sudah
berada di sana. Agatha bahkan nyaris tidak menyadari keberadaan pria itu jika
ia tidak buka suara.
“Dari mana dia datang?” batin gadis itu di dalam
hati.
“Kalau begitu silahkan masuk!” persilahkan Arjuna.
“Baiklah,” balas Agatha singkat.
Mereka berdua berjalan beriringan untuk masuk ke
dalam. Seperti biasanya. Tidak ada siapa-siapa di ruangan ini selain sang
empunya. Biasanya memang satu ruangan kerja hanya diperuntukkan bagi satu orang
saja. Namun, tetap ada yang bekerja di luar ruangan pribadinya.
Agatha menarik satu kursi dan duduk tepat di hadapan
pria itu. Dugaannya benar. Tadi Arjuna sedang pergi ke suatu tempat. Sepertinya
ia pergi untuk mendapatkan secangkir kopi hangat pagi ini. Sedikit kafein akan
membantunya tetap terjaga. Dengan begitu setidaknya Arjuna bisa bekerja dengan
fokus.
“Jadi, begini,” ujar Arjuna lalu menggantung
kalimatnya dengan sengaja.
“Aku memanggilmu kemari untuk membicarakan hal
penting,” ungkapnya.
“Hal penting?” tanya gadis itu sambil mengerutkan
dahinya.
“Iya, hal penting!” balas Arjuna.
“Aku tidak tahu apakah kau akan menyukainya atau
tidak. Yang jelas, aku tetap harus menyampaikannya,” jelasnya kemudian.
Tak ingin memberi respon lebih banyak, Agatha lantas
mempersilahkan pria itu untuk menjelaskan lebih lanjut lagi. Ia tidak akan bisa
mengerti jika Arjuna hanya menjelaskan sampai batas kalimat terakhirnya tadi. Walaupun
ia tahu jika Arjuna tidak akan mungkin berbuat seperti itu.
“Soal kasus pembunuhan berantai itu,” ungkapnya
secara gamblang.
Begitu Arjuna mengatakan hal tersebut, Agatha sudah
bisa menebak kemana arah pembicaraan mereka. Yang jelas tidak akan jauh-jauh
dari kasus itu.
“Aku akan menyerahkan kasus tersebut kepada Robi
untuk sementara waktu,” beber Arjuna.
“Tapi, kenapa?” tanya Agatha setengah memprotes.
Kenapa harus sampai dialihkan kepada orang lain
seperti itu? Bukankah sejak awal Arjuna sendiri yang telah mempercayakan tugas
tersebut kepadanya. Ia yakin jika Arjuna tak akan sembarang pilih untuk
penanganan kasus. Hanya orang-orang terpercaya yang diyakini bisa olehnya.
“Bukannya aku menganggapmu tidak becus. Tidak sama
sekali!” tepis pria itu.
“Hanya saja, sepertinya kau harus fokus dulu
terhadap satu kasus baru. Hanya kau yang bisa kupercaya untuk menuntaskan kasus
tersebut,” jelasnya.
Pria itu berusaha untuk meyakinkan Agatha jika ia
tidak seburuk itu. Selama ini tak jarak Agatha merasa kurang puas dengan
performanya sendiri selama bekerja. Padahal ia sudah melakukan apa pun.
Berusaha mencapai titik terbaik yang ia bisa.
“Apa ada kasus baru lagi?” tanya Agatha yang
kemudian ikut diangguki oleh pria itu.
Ia tidak tahu haurs
bereaksi bagaimana. Apakah senang atau malah sedih. Sepertinya kedua perasaan
itu bisa muncul di saat yang bersamaan. Seperti sekarang ini contohnya. Orang-orang
selalu mengatakan kalau perasaan wanita sulit untuk dideskripsikan dengan
kata-kata. Rumit.