
Alih-alih membuang
kartu nama tersebut, Agatha malah menyimpannya di dalam saku celana. Untuk berjaga-jaga
kalau saja suatu waktu dia memerkukan hal tersebut. Mungkin tidak sekarang,
tapi bisa jadi nanti. Kembali lagi ke prinsip awalnya, jika tidak ada manusia
yang bisa memastikan hal di masa depan.
Tidak ada salahnya juga
jika Agatha menyimpan kartu naman tersebut. Sama sekali tidak ada pihak yang
akan dirugikan di sini. Walaupun sebenarnya gadis itu tidak mau terlibat urusan
apa pun dengan Narendra. Ia mengenal pria itu dengan baik. Dari hal paling
mendasar sampai sikap busuknya sekali pun. Bagaimana bisa ia tidak tahu, mereka
sudah hidup bertahun-tahun bersama.
“Huh! Bagaimana bisa
orang jahat sepertinya memiliki kehidupan yang begitu sempurna,” protes Agatha
kepada semesta dan seisinya.
Bukankah ini tidak
adil. Jelas tidak adil bagi gadis itu. Bagaimana bisa orang seperti Narendra
memiliki kehidupan yang damai dan bergelimang harta. Ia nyaris tidak kekurangan
satu apa pun pada saat ini. Pria itu berhasil melewati masa-masa sulitnya. Entah
dengan cara berjuang atau malah cara curang. Tidak ada yang tahu dan juga tidak
ada yang mau tahu. Lagi pula Agatha bukan tipikal orang yang suka ikut campur
dengan urusan orang lain.
“Pria itu sama sekali
tidak berhak untuk menerima semua ini!” keluhnya sekali lagi.
Agatha pikir, saat
mereka bangkrut kemarin adalah bab terakhir dari alur kisah kehidupan pria itu.
Namun, ternyata tidak sama sekali. Hal tersebut sama sekali tidak berarti
apa-apa di dalam hidupnya. Narendra berhasil melewati segalanya dengan mudah.
Melunasi semua hutang-hutang bisnisnya dan juga membangun kembali bisnis baru
dari nol. Dan yang terpenting, pria itu sukses dalam membersihkan nama baiknya
yang sempat tercemar beberapa saat lalu.
Sebenarnya bukan pekara
mudah untuk melakukan semua itu. Tapi, Narendra berhasil membuktikannya kalau
ia bisa.
Sekarang pria itu sudah
melewati titik terendah di dalam hidupnya dan mulai bergerak naik. Pasti
hari-harinya kini terasa menyenangkan. Narendra telah memimpin perusahaan yang
bergerak di bidang supplier bahan bangunan dan ada satu perusahaan property yang
juga menjalin kerja sama dengannya. Kabarnya mereka sudah pernah melakukan
kolaborasi. Dan tentu saja sukses.
Tidak bisa dipungkiri
jika Agatha merasa iri dengan kesuksesan pria itu saat ini. Tanpa perlu
pusing-pusing memikirkan akan makan apa hari ini dan tidak perlu pusing membagi
gaji ketika baru saja diterima. Padahal gaya hidup Agatha sama sekali tidak
tergolong mewah. Biasa saja. Gadis itu juga bukan tipikal orang yang boros. Tapi
setiap harinya selalu saja terasa masih belum cukup untuk menutupi segala
keperluannya.
Hidup bergelimang harta
dan kekuasaan memang menyenangkan. Memangnya siapa yang tidak mau. Dunia bahkan
juga tahu kalu orang-orang hanya akan mendengar mereka yang memiliki segalanya.
Terutama harta dan kekuasaan. Tapi, hidup kaya raya tanpa ketenangan sama saja
bohong. Tidak, Agatha tidak tertarik. Kedamaian di dalan hidupnya jauh lebih
penting dari pada semua harta yang dimiliki oleh ayahnya.
Orang-orang kalangan
atas seperti ayahnya tampaknya tidak benar-benar menikmati kehidupan mereka.
Bayangkan saja saat kau harus memikirkan segalanya dalam satu waktu yang
bersamaan. Kalau tidak , nama baik, popularitas serta reputasimu akan hancur. Itu
adalah resikonya.
Agatha merasa jauh
lebih baik untuk hidup seperti dirinya sekarang ini saja. Kalau pun diberi
kesempatan untuk memilih, gadis itu tetap akan memilih kehidupannya yang
sekarang. Ada banyak kenikmatan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Mungkin Agatha
sekilas memiliki lingkaran pertemanan yang itu-itu saja sejak dulu. Namun, pada
dirinya. Bayangkan saja, Agatha bisa memiliki jaringan dengan pihak kepolisian
dan geng mafia terbesar yang paling ditakuti di kota ini pada saat yang
bersamaan. Bukankah hal itu menakjubkan.
“Uang mungkin tidak
bisa membeli segalanya, tapi pada zaman sekarang ini semua hal memerlukan uang.”
Mungkin prinsip
sebagian orang begitu. Tapi, berbeda dengan Agatha. Bukan hanya prinsip. Ia bahkan
menjalani kehidupan yang sedikit berbeda dengan kebanyakan orang. Jadi tidak
perlu merasa terkejut lagi. Bagi gadis itu, tidak selalu uang yang
mengendalikan kita. Untuk mendapatkan apa yang kau mau tidak harus melulu
dengan uang. Kau hanya perlu bekerja dengan sedikit cerdas.
Kau tahu kenapa sekarang
ini biaya pendidikan tergolong bukan murah? Tentu saja jawabannya karena
orang-orang jauh lebih terobsesi untuk menjadi pintar. Dengan kepintarannya,
mereka bisa mendapatkan apa saja yang mereka mau. Termasuk uang, dan kekuasaan.
Dunia jauh lebih menghargai orang yang pintar. Namun, pada kenyataannya pintar
saja tidak cukup. Kau juga harus bersikap bisak.
Di dunia ini semua hal
akan saling berkaitan antara satu sama lain. Pintar dan bijak hanya salah satu
contoh dari sekian banyak hal yang ada.
“Huh! Uang, uang, uang!”
celetuk Agatha.
Gadis itu bangkit dari
tempat duduknya. Sudah sekitar dua puluh menit ia berada di sini sambil
memandangi langit dari jendela kaca ruang tengah. Dan juga melamun tentunya. Memikirkan
hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dipikirkan seperti itu.
***
“Apa bos yakin ingin
mengangkat Nona Agatha untuk menjadi direktur perusahaan ini nantinya?” tanya
pria dengan setelan jas yang berdiri tepat di depan meja Narendra.
“Kenapa tidak? Hanya
dia satu-satunya harapanku,” jawab Narendra dengan yakin. Seolah-olah dia sudah
tahu kalau rencananya yang satu ini akan berhasil di kemudian hari.
Narendra menyandarkan
tubuhnya pada sandaran kursi yang sedang ia duduki saat ini. Melemparkan pandangannya
ke sudut ruangan, padahal tidak ada apa-apa di sana. Kemudian priaitu menghela
napasnya dengan kasar. Tatapannya berubah jadi sendu. Seolah ada awan-awan
mendung yang menutupi wajahnya.
“Aku tidak memiliki
pewaris lain,” ungkap Narendra.
“Lalu bagaimana dengan anak
laki-laki tuan yang pernah tuan ceritakan waktu itu?” tanya si pria berjas.
“Dia bahkan tidak bisa
diandalkan sama sekali,” balas Narendra sambil berdecak sebal.
Setiap kali mengingat
tentang Aaron, pasti emosinya langsung naik. Ya, Aaron yang selama ini kalian
kira adalah teman Agatha, ternyata bukan. Mereka adalah saudara tiri. Mimpi di
hari itu benar adanya. Mungkin itu adalah salah satu cara semesta memberi tahu
fakta. Manusia pasti tidak pernah mengira begitu sebelumnya. Mereka selalu
beranggapan kalau mimpi itu hanyalah sekedar bunga-bunga tidur. Tidak ada yang
perlu dianggap terlalu serius.
“Aaron bahkan sudah
menjadi berandalan sejak masih SMP, dan yang lebih parahnya lagi saudaranya
sampai harus meniggal akibat ulah anak itu,” beber Narendra secara gamblang.
Sejak
dulu semua orang terus saja menyalahkan Aaron atas kematian saudara kandungnya
yang satu itu. Padahal di sini ia tidak sepenuhnya bersalah. Namun, orang-orang
sudah terlanjur menuduhnya sebagai pelaku. Aaron tidak bisa berbuat apa-apa
lagi. melakukan pembelaan diri dalam bentuk apa pun percuma saja. Manusia hanya
akan percaya dengan apa yang ingin mereka percayai. Tidak peduli itu benar atau
salah.