
Robi mengatakan kalau
kasusnya masih terbengkalai sampai saat ini. Tidak ada yang mau mengambil alih
kasus pembunuhan berantai tersebut untuk sementara. Selama ini Arjuna yang
menangani semua kasus itu sendiri. Mulai dari penyelidikan sampai dengan pengumpulan
data. Di sela kesibukannya ia masih menyempatkan diri untuk membantu gadi situ.
“Jadi, kapan kau
kembali ke kantor?” tanya Robi.
Agatha terdiam. Ia bungkam,
tak tahu harus menjawab apa. Sekarang situasinya sedang serba salah. Bukan hanya
bagi Agatha saja. Tapi juga Arjuna dan yang lainnya. Ia sebenarnya tak mau
menyusahkan banyak orang seperti ini. Ada terlalu banyak pihak yang terlibat di
sini. Dan Agatha tidak suka dengan kenyataan yang satu itu.
“Aku tidak tahu kapan
akan kembali ke kantor. Tapi, yang jelas tidak dalam waktu dekat ini,” ungkap
gadis itu dengan berat hati.
“Kau tahu jika posisimu
sangat dibutuhkan di kantor saat ini. Arjuna juga baru saja mendapatkan
musibah. Lagi pula tampaknya kau baik-baik saja,” jelas Robi yang masih
berusaha untuk membujuk gadis itu agar mau kembali ke kantor.
“Sudah lebih dari dua
minggu kau cuti dan tidak melakukan apa pun. Sekarang tampaknya kondisimu sudah
jauh lebih baik dari pada sebelumnya,” imbuh pria itu.
“Kalau tidak ada kau
dan Arjuna, kantor akan jadi berantakan. Tidak ada orang lain yang bisa
diandalkan,” finalnya kemudian.
Agatha hanya bisa
menghela napasnya dengan kasar. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Mereka
hanya tahu menuntut tanpa tahu bagaimana caranya untuk mengerti posisi dan
keadaan orang lain. Yang selama ini terlihat baik-baik saja, belum tentu akan
selamanya seperti itu. Situasi bisa berubah kapan saja. Bahkan manusia tidak
bisa memastikan kalau kondisinya akan tetap sama untuk satu detik ke depan. Tidak
ada yang pernah tahu apa yang akan berubah di masa depan.
“Kau tidak akan pernah
mengerti tentangku. Tidak sampai kau berada di posisiku dan merasakan semuanya!
Manusia hanya bisa menilai tanpa bisa memastikan. Mereka terkenal terlalu sulit
untuk menerima kenyataan,” celoteh gadis itu dengan panjang lebar.
Jelas ia merasa kesal.
Selama ini Agatha juga sedang berjuang. Bahkan sekarang ia terpaksa
melaksanakan segala bagian dari misi ini sendirian. Tanpa arahan atau bahkan
bantuan dari Arjuna lagi. Sebab, posisi pria itu sendiri memang sedang tidak
memungkinkan.
“Kalau begitu beri tahu
aku agar aku bisa paham!” balas Robi.
“Tidak, aku tidak bisa
memberi tahunya kepadamu,” kata Agatha.
Yang jelas, apa pun itu
dia tidak bisa kembali ke kantor. Hampir separuh dari anggota geng mafia itu
sudah mengenali dirinya. Agatha tidak bisa bergerak dengan sembarangan. Ia
harus berhati-hati. Apalagi sekarang sepeda motornya sudah dilengkapi dengan
sensor arah yang tidak bisa dilepaskan dengan sesuka hati kalau ia tak mau
terkena masalah.
***
Ternyata tujuan utama
dari kedatangan Robi kemari adalah untuk memberi tahu soal kondisi terbaru
kantor. Kemarin beberapa berandalan baru saja datang dan mengacaukan segalanya.
Arjuna bahkan ikut terkena imbasnya. Kaca jendela yang berada di ruangannya di
lempar dengan batu sampai pecah. Beberapa beling tak sengaja mengenai wajahnya
dan salah satu batu berhasil menghantam tepat di bagian kepalanya. Karena hantaman
yang kucup keras, ia jadi terluka. Terjatuh akibat kehilangan keseimbangan. Kurang
lebih begitu.
tidak terlalu parah. Dia hanya terluka biasa saja. Bahkan setelah mendapatkan
petolongan pertama, ia bisa kembali bekerja. Tidak perlu sampai dirawat di
rumah sakit seperti itu. Bukankan terlalu berlebihan untuk ukuran luka yang
tidak seberapa.
“Arjuna harus kembali
ke kantor secepatnya. Jika tidak, mereka pasti akan terus memaksaku untuk
menggantikan posisinya,” gumam gadis itu sambil menggigit jarinya dengan cemas.
Kalau Agatha sampai
kembali ke kantor sebelum misinya selesai, maka akibatnya pasti akan fatal. Selain
tidak bisa menjalankan misi tersebut seperti biasa, kemungkinan untuk ketahuan
pun akan semakin besar. Bekerja di kantor publik dan menunjukkan identitas yang
sebenarnya kepada semua orang merupakan satu hal sepele yang selalu ia hindari.
“Tidak, aku tetap tidak
akan kembali ke sana!” tegasnya sekali lagi kepada dirinya sendiri.
Bagaimanapun juga,
Agatha berhak untuk membuat keputusan di sini. Dan tidak ada seorang pun yang
berhak untuk melarangnya. Lagi pula gadis itu juga sudah mengantongi surat izin
untuk tidak masuk ke kantor selama menjalankan misi. Beberapa orang mungkin
tidak akan pernah mengerti soal yang satu itu. Tapi, Agatha bisa menjamin jika
pada akhirnya mereka akan tahu juga. Bukankah setiap hal akan terbongkar cepat
atau lambat. Tidak peduli seberapa rapih kau menyembunyikannya.
‘TING!!!’
Suara bell yang berasal
dair lift berhasil mengejutkannya. Beberapa detik setelahnya pintu terbuka.
Agatha sudah sampai di lantai tujuannya. Setelah ini ia tidak akan pergi
kemana-mana lagi. Hanya berbaring di atas tempat tidur sambil memandangi
langit-langit ruangan dan memikirkan beberapa hal yang memang perlu untuk
dipikirkan. Agatha mengira kalau hari ini akan jadi hari yang biasa saja. Tapi,
ternyata malah disuguhkan dengan begitu banyak kejutan yang bahkan tak sempat
ia bayangkan sebelumnya.
“Huh! Mereka berhasil
membuat kepalaku seperti akan meledak,” kata Agatha sambil memijat pelipisnya
pelan.
Sepertinya setelah ini
gadis itu akan mandi dengan air hangat. Kata beberapa orang yang pernah ia
dengar sejauh ini, air hangat cukup membantu untuk menenangkan diri.
Satu-satunya hal yang dengan ia butuhkan adalah ketenangan. Tidak ada hal lain.
***
“Apa sungguh tidak ada
orang lain yang bisa menggantikan posisiku untuk sementara di kantor?” gumam
gadis itu saat berendam di kamar mandi.
“Padahal kalau
dipikir-pikir lagi ada banyak personil di sana. Pekerjaan mereka juga tidak
terlalu banyak. Arjuna saja yang memiliki setumpuk pekerjaan sekaligus menjabat
sebagai orang penting di kantor itu bisa melakukan semuanya,” celotehnya dengan
panjang lebar.
Agatha tahu dan sadar
betul kalau untuk saat ini sama sekali tidak ada yang bisa diandalkan. Dan memang
tidak seharusnya ia berharap kepada orang lain. Lagi-lagi Agatha merasa tidak
adil. Ia selalu membantu semua orang ketika mereka membutuhkannya. Tetapi,
kemana mereka pada saat sebaliknya. Agatha juga manusia. Dia tidak bisa
melakukan semuanya dengan sempurna. Sehebat apa pun manusia itu, dia tetap
membutuhkan bantuan dari orang lain. Sebab, memang tidak ada orang yang
benar-benar sempurna di dunia ini.
Mereka
yang tampak unggul dalam satu hal, belum tentu akan unggul di hal lain juga. Mereka
hanya tampak hebat di antara orang-orang yang kemampuannya berada di bawah
rata-rata.