
Semenjak kejadian mengerikan hari itu, Aaron tidak
pernah kembali lagi untuk menginjakkan kaki ke rumahnya. Kabarnya, pria itu
sudah menyuruh orang lain untuk membereskan semua barang yang ada di dalamnya.
Sebagian besar telah dijual oleh Aaron, karena dianggap memang tidak terlalu
penting untuk saat ini. Bahkan ia juga ikut menjual rumahnya.
Setelah ia berhasil menyelesaikan segala urusannya di
rumah lama, pria itu lantas segera membeli sebuah unit apartment di tempat yang
sama dengan Agatha. Untuk sekarang sepertinya ia tidak perlu tempat tinggal
yang terlalu lebar. Terlebih hanya untuk menampung dirinya sendiri. Berbeda
halnya jika tadi ia tinggal di sana bersama keluarga besarnya.
Semakin besar rumah yang ia tempati, pasti
pengeluarannya akan semakin banyak pula. Jika tinggal di apartment seperti ini,
ia tidak perlu repot-repot menyewa asisten rumah tangga. Aaron bisa melakukan
semuanya sendiri jika ruang lingkupnya terbilang kecil.
‘TAP! TAP! TAP!’
Suara langkah kaki mereka berdua terdengar begitu
nyaring. Telapak sepatu yang beradu dengan permukaan lantai nyaris memekakkan
telinga jika volumenya sedikit lebih besar. Aaron dan Agatha sedang berjalan
beriringan menyusuri lorong menuju pintu masuk dari parkiran. Tidak ada
siapa-siapa di sana. Hanya mereka berdua saja. itu sebabnya kenapa suara paling
kecil sekali pun bisa terdengar begitu jelas di telinga mereka.
Sejak beranjak dari parkiran tadi, tidak akan satu
pun dari mereka yang ingin buka suara. Atmosfirnya mendadak berubah. Tidak nyaman.
Aaron sesekali berdeham pelan, sebagai upaya untuk menetralisir suasana.
“Nanti malam aku akan mampir ke tempatmu!” celetuk
Aaron secara tiba-tiba.
Hal tersebut lantas berhasil mendapatkan atensi
Agatha sepenuhnya. Kini gadis itu mengalihkan
pandangannya ke arah pria tersebut.
“Untuk apa?” tanya Agatha.
“Tidak apa-apa,” balasnya sembari menggidikkan bahu.
“Memangnya tidak boleh?” tanya pria itu balik.
Agatha sama sekali tidak menemukan jawabannya. Jadi,
satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah dengan tetap diam.
“Nanti malam aku yang akan memasak makan malam
untukmu,” tawarnya sebagai bentuk imbalan karena sudah mau meminjamkan tempat.
“Untuk kita berdua lebih tepatnya,” koreksi pria itu
kemudian.
“Terserahmu saja!” balas Agatha acuh tak acuh.
Hubungan mereka memang menjadi jauh lebih dekat
sejak tinggal bersama. Aaron sudah tahu banyak soal Agatha, namun belum tentu
sebaliknya. Ada banyak hal yang terpaksa disembunyikan oleh pria itu. Ini bukan
keinginannya. Melainkan paksaan semesta. Ada beberapa hal yang tidak boleh ia
ungkap kepada sembarang orang jika ingin tetap hidup. Selain itu, Agatha juga
bukan tipikal orang yang suka ikut campur dengan kehidupan orang lain. Jadi, ia
tidak banyak bertanya soal kehidupan Aaron. Karena baginya setiap orang pasti
memiliki privasi mereka masing-masing. Agatha tidak ingin melanggar hak yang
satu itu.
Terlepas dari semua hal yang sudah terjadi beberapa
waktu lalu, mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Yang sudah berlalu
biarlah berlalu. Tidak perlu dipermasalahkan kembali. Tidak ada satu pun dari
mereka berdua yang ingin ambil pusing. Jika ada cara yang jauh lebih sederhana,
lantas kenapa harus memilih cara yang rumit.
Sesampainya di dalam lift, lagi-lagi kosong. Tidak ada
siapa pun di dalamnya. Sungguh. Terkadang Agatha suka bertanya kepada dirinya
sendiri, apakah gedung sebesar ini hanya dihuni oleh beberapa orang? Terdengar
mustahil memang. Tapi, itulah kenyataannya. Agatha beranggapan demikian karena
nyaris tidak pernah bertemu dengan orang lain yang juga tinggal di tempat ini
selain Aaron.
Sebelum pria itu datang kemari, ia sungguh seperti
tetangga penghuni unit apartment di sebelahnya saja ia tidak pernah bertemu.
“Apa semua manusia di sini anti sosial?” gumam gadis
itu dengan kesal.
Mendadak Aaron merasa tertarik dengan ucapan Agatha
barusan dan memutuskan untuk menjadikannya sebagai topik pembicaraan.
“Bukan anti sosial. Mereka hanya tidak punya waktu.
Sama sibuknya seperti dirimu.”
“Jadi, kau ingin menyalahkanku juga sekarang?”
“Bagaimana bisa kau menyimpulkan hal seperti itu?”
“Bahkan orang awam saja tahu kalau kau suka
meenyerang orang lain. Tidak ada bedanya dengan yang dulu.”
“Jadi menurutmu aku tidak jauh berbeda dengan yang
dulu ya?”
“Ya, begitulah.”
“Kalau begitu, kau lebih suka sisi yang mana satu?
Aku bisa menjadi keduanya di waktu yang bersamaan.”
“Tidak ada!”
‘TING!’
Tepat setelah Agatha menyelesaikan kalimat
penolakannya, bel lift ini berbunyi. Itu menandakan jika mereka sudah sampai di
lantai tujuan mereka. Gadis itu masih tidak habis pikir. Sejak awal petama kali
memasuki lift dari bawah sampai ke atas, sungguh tidak ada orang lain.
Agatha menjadi orang pertama yang melangkahkan
kakinya keluar dari dalam lift. Kemudian disusul oleh Aaron yang berjalan tepat
di belakangnya. Pria itu sengaja membuntuti langkah Agatha dan menciptakan
sedikit jarak di antara mereka.
“Perempuan memang sulit untuk dimengerti
perasaannya,” gumam pria itu sembari
menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Jika dikatakan kesal, tidak juga. Namun, di sisi
lain ia juga tidak terima dengan perlakuan Agatha barusan. Suasana hatinya bisa
berubah-ubah sesuka hatinya. Membuat orang lain turut merasa bersalah, padahal
tidak perlu.
Mereka selalu meminta untuk dimengerti. Padahal
tidak mudah bagi orang lain untuk melakukan hal tersebut dengan kondisi suasana
hatinya yang selalu berubah-ubah setiap waktu. Tidak konstan. Membingungkan.
Namun, terkadang bagi beberapa orang seperti itu terasa jauh lebih baik. Daripada
datar.
“Hei, tunggu!” seru Aaron dari kejauhan saat
menyadari jika langkahnya sudah tertinggal jauh.
Ia pasti terlalu banyak melamun. Memikirkan hal yang
sebenarnya sama sekali tidak penting untuk dipikirkan pada saat seperti ini.
Alhasil, ia ditinggalkan begitu saja oleh Agatha. Gadis itu bahkan tidak
berbalik. Atau bahkan berhenti. Minimal menoleh sedikit saja. Ia malah terus
berjalan, seolah tidak terjadi apa-apa. Agatha sama sekali tidak menghiraukan
penggilan dari pria itu. Bukan sekali dua kali ia berteriak. Melainkan
berkali-kali. Namun, sepertinya hasilnya sama saja. Nihil.
Beruntung pria itu diberkati dengan kaki yang
panjang. Sehingga bisa menciptakan langkah yang tergolong lebar. Tidak perlu
waktu lama untuk menyusul Agatha. Dalam waktu singkat ia berhasil
menyeimbangkan langkahnya dengan langkah gadis itu. Sekarang keduanya sedang
berjalan beriringan, sama seperti beberapa waktu lalu. Sejajar.
“Awas saja kau!” umpat Aaron.
Pria itu tengah berusaha untuk mengatur napasnya
yang memburu karena melangkah terlalu cepat. Nyaris seperti berlari.
“Pergerakanmu saja yang terlalu lamban!” sarkas
Agatha.
“Dasar!” balas pria
itu yang tak mau kalah.