The Riot

The Riot
Flasback



“Semua


tentangku ada di sini. Jadi, kau bisa mengenalku lebih jauh lagi. Mungkin ada


banyak hal yang tidak kau ketahui.”


“Di


sini adlaah semua jawaban tentang semua pertanyaanmu.”


“Setelah


kupikir-pikir, untuk apa merahasiakan masalah sepele terutama tentang diriku


kepada orang lain? Padahal kau dan aku akan bersama juga pada akhirnya.”


Kalimat tersebut kembali terngiang di dalam kepala


gadis itu. Padahal kejadiannya sudah sekitar dua jam yang lalu. Arjuna bahkan sudah


kembali ke rumahnya. Tapi, ia malah meninggalkan buku harian ini dan bukannya


membawa benda tersebut bersamanya. Sepertinya pria itu memang benar-benar ingin


agar Agatha membacanya.


“Arghh! Dia sungguh membuatku jadi gila!” gerutunya


sebal.


“Kuharap aku akan tetap waras seumur hidupku,”


mohonnya kemudian.


Memangnya siapa yang berharap benar-benar menjadi


orang gila. Tidak ada. Itu hanya ungkapan saja. Bukan berarti gila dalam arti


yang sebenarnya.


Soal apa yang mereka bicarakan tadi itu benar.


Agatha bahkan tidak memungkiri hal tersebut. Memang benar. Semuanya sesuai


dengan isi buku harian itu. Agatha menyukai rekan kerjanya diam-diam. Padahal hal


itu seharusnya tidak terjadi. Mereka harus tetap professional dalam


melaksanakan tugas. Dan yang jelas, tidak boleh melibatkan perasaan sama


sekali.


Dari awal saja, Agatha sudah tahu kalau ini salah.


Jatuh cinta bukanlah seseuatu yang baik baginya. Sekali lagi, semesta tidak


bisa bersikap ramah kepadanya.


Tapi, sekarang mau bagaimana lagi. Arjuna sudah


terlanjur tahu. Tapi, mereka juga tidak mungkin melangkah ke jenjang yang lebih


serius. Tidak peduli seberapa keras mereka berusaha untuk bersatu, pada


akhirnya semesta akan tetap menentang. Yang tidak seharusnya terjadi, pasti


tidak akan pernah terjadi.


“Apa yang tadi itu sungguh-sungguh?” gumam gadis itu


di dalam hati.


Sampai sekarang, ia belum bisa mempercayai Arjuna


sepenuhnya. Terutama ketika ia berkata kalau dirinya juga diam-diam memiliki


perasaan yang sama juga. Di satu sisi ia merasa senang. Namun, di sisi lain ia


juga ketakutan. Tidak habis pikir.


Agatha masih belum siap untuk menerima resiko


terburuknya. Tidak ada yang benar-benar siap akan hal itu. Bahkan jika ia harus


jatuh, Agatha sama sekali tidak siap.


Orang-orang selalu mengatakan untuk tidak mudah


peraya kepada pria. Bahkan ibunya sendiri juga mengatakan hal tersebut. SSecara


tidak langsung, wanita itu sama saja sudah menyampaikan satu pesan rahasia


kepada anaknya. Di umurnya yang sekarang ini, Agatha dapat menyimpulkan jika


ibunya sendiri bahkan tidak pernah mempercayai ayahnya sepenuhnya.


Agatha tahu betul apa alasannya. Pria terlalu kejam.


Meski tidak semua, tapi sebagian besar dari mereka memiliki sikap seperti itu.


Suka mengatur orang lain dan paling tidak suka jika perintahnya dibantah. Ayah


Agatha juga seperti itu. Dia tipikal orang yang keras. Bahkan untuk keluarganya


sendiri, hal itu sama sekali bukan pengecualian.


Dulu Agatha mungkin tidak bisa mengerti tentang


keadaannya. Sebab, umurnya masih terlalu muda untuk dipaksa mengerti. Semakin dewasa,


semesta membawanya pada sebuah kenyataan yang paling menyakitkan.


Tepat pada dirinys genap berusia sepuluh tahun,


Agatha baru tahu jika ternyata posisi ibunya selama ini hanya sebagai


selingkuhan. Setelah pria itu resmi bercerai dengan istrinya, barulah mereka


memutuskan untuk pindah ke luar negeri dan memulai hidup baru.


Tapi, tidak semua hal akan sesuai dengan harapan


kita. Tidak semua lembar baru selalu berarti baik. Ada pula yang malah


sebaliknya. Takdir memang tidak bisa diprediksi. Meski Agatha ingin sekali


rasanya menghindari berbagai hal buruk yang sudah siap untuk menghadangnya di


depan.


Di hari yang bersamaan pula, Agatha mulai membenci


untuk kembali pulang ke Indonesia. Ibunya menderita gangguan secara emosional. Sederhananya,


batinnya tertekan karena terus menerima perlakuan yang tak pantas.


“Tahu


begitu aku tidak akan menikah denganmu dan meninggalkan keluargaku!”


“Kau


hanya istri pembawa sial!”


“Lihat!


Bisnisku sekarang sudah bangkrut karenamu!”


“Lalu


bagaimana caranya kita akan bertahan hidup kalau sudah begini!”


Kata-kata makian itu masih terekam dengan jelas di


dalam ingatannya. Waktu sama sekali tidak berarti apa-apa. Sejauh ini masih


tidak ada yang bis amenghapus memori buruk tersebut dari dalam kepalanya. Setiap


kali mengingatnya membuat Agatha muak. Tapi, ia juga tidak tahu harus


menyalahkan siapa di sini.


“Semoga dia hidup dengan baik di luar sana,” ungkap


Agatha.


Masih ada satu harapan yang terselip di balik ribuan


rasa benci terhadap pria itu. Karena, mau bagaimanapun itu tetap ayahnya. Masalah


sebesar apa pun, tidak akan mampu menghapus hubungan darah.


Ada begitu banyak trauma di masa lalunya yang belum


bisa ia maafkan sampai sekarang. Belajar memaafkan adalah sesuatu yang paling


sulit baginya. Bahkan jauh lebih seulit dari pada meminta maaf. Terkadang ia


juga kesal kepada dirinya sendiri. Kenapa tidak bisa melakukan hal sepele


seperti itu. Padahal orang lain bisa melakukannya dengan mudah.


“Sepertinya sekarang bukan waktunya untup percaya


kepada orang lain,” kata Agatha.


“Laki-laki hanya bisa merusak prosesmu, kemudian


pergi meninggalkan luka. Mereka sama saja pada dasarnya,” sambungnya kemudian.


Setelah merasa jauh lebih tenang, ia kembali ke


dalam kamarnya. Tak lupa untuk  membawa


buku harian Arjuna bersamanya. Sepertinya ia tidak akan membaca buku itu hari


ini. Yang ia butuhkan sekarang ini hanyalah ketenangan. Tidak lebih.


“Haruskan aku mengambil cuti selama satu minggu?”


tanya gadis itu kepada dirinya sendiri.


Sebelumnya ia sempat merencanakan hal yang sama. Namun,


beberapa saat setelahnya ia malah beranggapan jika itu tidak terlalu penting


baginya saat ini.


‘DRRTT!!!!’


Mendadak ponselnya bergetar pelan saat ia sedang


berada di tempat tidur. Gadis itu memilih untuk bermalas-malasan. Kegiatan hari


ini cukup membuatnya kelelahan dengan kehilangan sekian banyak energi. Emosinya


adalah yang paling banyak terkuras hari ini.


“Ck! Siapa sih?!” sarkas Agatha.


“Arjuna?” gumamnya sambil membaca nama yang tertera


di sana.


Padahal tadi pria itu baru saja dari sini. Kenapa


sekarang sudah menelepon lagi. Atau jangan-jangan barangnya ada yang tertinggal


di sini dan Arjuna baru mengingatnya. Pasti ia meminta gadis itu untuk


menyimpan benda tersebut, sampai ia kembali lagi untuk mengambilnya.


“Halo! Ada apa?” interupsi Agatha begitu


panggilannya tersambung.


“Halo!”  balas


sebuah suara dari seberang sana.


“Apa kau sudah membaca buku hariannya?” tanya pria


itu.


“Jadi kau menelepon hanya untuk menanyakan hal tidak


penting seperti itu?!” tanya gadis itu balik. Kali ini nada bicaranya sedikit


lebih tinggi daripada biasanya.


“Tapi, bagiku itu penting,” kata Arjuna.


Agatha lantas memutar bola matanya malas, kemudian


berkata, “Terserahmu saja.”


“Jadi, bagaimana? Sudah


dibaca sampai halaman berapa?” tanya pria itu lagi untuk yang kesekian kalinya.