
“Semua
tentangku ada di sini. Jadi, kau bisa mengenalku lebih jauh lagi. Mungkin ada
banyak hal yang tidak kau ketahui.”
“Di
sini adlaah semua jawaban tentang semua pertanyaanmu.”
“Setelah
kupikir-pikir, untuk apa merahasiakan masalah sepele terutama tentang diriku
kepada orang lain? Padahal kau dan aku akan bersama juga pada akhirnya.”
Kalimat tersebut kembali terngiang di dalam kepala
gadis itu. Padahal kejadiannya sudah sekitar dua jam yang lalu. Arjuna bahkan sudah
kembali ke rumahnya. Tapi, ia malah meninggalkan buku harian ini dan bukannya
membawa benda tersebut bersamanya. Sepertinya pria itu memang benar-benar ingin
agar Agatha membacanya.
“Arghh! Dia sungguh membuatku jadi gila!” gerutunya
sebal.
“Kuharap aku akan tetap waras seumur hidupku,”
mohonnya kemudian.
Memangnya siapa yang berharap benar-benar menjadi
orang gila. Tidak ada. Itu hanya ungkapan saja. Bukan berarti gila dalam arti
yang sebenarnya.
Soal apa yang mereka bicarakan tadi itu benar.
Agatha bahkan tidak memungkiri hal tersebut. Memang benar. Semuanya sesuai
dengan isi buku harian itu. Agatha menyukai rekan kerjanya diam-diam. Padahal hal
itu seharusnya tidak terjadi. Mereka harus tetap professional dalam
melaksanakan tugas. Dan yang jelas, tidak boleh melibatkan perasaan sama
sekali.
Dari awal saja, Agatha sudah tahu kalau ini salah.
Jatuh cinta bukanlah seseuatu yang baik baginya. Sekali lagi, semesta tidak
bisa bersikap ramah kepadanya.
Tapi, sekarang mau bagaimana lagi. Arjuna sudah
terlanjur tahu. Tapi, mereka juga tidak mungkin melangkah ke jenjang yang lebih
serius. Tidak peduli seberapa keras mereka berusaha untuk bersatu, pada
akhirnya semesta akan tetap menentang. Yang tidak seharusnya terjadi, pasti
tidak akan pernah terjadi.
“Apa yang tadi itu sungguh-sungguh?” gumam gadis itu
di dalam hati.
Sampai sekarang, ia belum bisa mempercayai Arjuna
sepenuhnya. Terutama ketika ia berkata kalau dirinya juga diam-diam memiliki
perasaan yang sama juga. Di satu sisi ia merasa senang. Namun, di sisi lain ia
juga ketakutan. Tidak habis pikir.
Agatha masih belum siap untuk menerima resiko
terburuknya. Tidak ada yang benar-benar siap akan hal itu. Bahkan jika ia harus
jatuh, Agatha sama sekali tidak siap.
Orang-orang selalu mengatakan untuk tidak mudah
peraya kepada pria. Bahkan ibunya sendiri juga mengatakan hal tersebut. SSecara
tidak langsung, wanita itu sama saja sudah menyampaikan satu pesan rahasia
kepada anaknya. Di umurnya yang sekarang ini, Agatha dapat menyimpulkan jika
ibunya sendiri bahkan tidak pernah mempercayai ayahnya sepenuhnya.
Agatha tahu betul apa alasannya. Pria terlalu kejam.
Meski tidak semua, tapi sebagian besar dari mereka memiliki sikap seperti itu.
Suka mengatur orang lain dan paling tidak suka jika perintahnya dibantah. Ayah
Agatha juga seperti itu. Dia tipikal orang yang keras. Bahkan untuk keluarganya
sendiri, hal itu sama sekali bukan pengecualian.
Dulu Agatha mungkin tidak bisa mengerti tentang
keadaannya. Sebab, umurnya masih terlalu muda untuk dipaksa mengerti. Semakin dewasa,
semesta membawanya pada sebuah kenyataan yang paling menyakitkan.
Tepat pada dirinys genap berusia sepuluh tahun,
Agatha baru tahu jika ternyata posisi ibunya selama ini hanya sebagai
selingkuhan. Setelah pria itu resmi bercerai dengan istrinya, barulah mereka
memutuskan untuk pindah ke luar negeri dan memulai hidup baru.
Tapi, tidak semua hal akan sesuai dengan harapan
kita. Tidak semua lembar baru selalu berarti baik. Ada pula yang malah
sebaliknya. Takdir memang tidak bisa diprediksi. Meski Agatha ingin sekali
rasanya menghindari berbagai hal buruk yang sudah siap untuk menghadangnya di
depan.
Di hari yang bersamaan pula, Agatha mulai membenci
untuk kembali pulang ke Indonesia. Ibunya menderita gangguan secara emosional. Sederhananya,
batinnya tertekan karena terus menerima perlakuan yang tak pantas.
“Tahu
begitu aku tidak akan menikah denganmu dan meninggalkan keluargaku!”
“Kau
hanya istri pembawa sial!”
“Lihat!
Bisnisku sekarang sudah bangkrut karenamu!”
“Lalu
bagaimana caranya kita akan bertahan hidup kalau sudah begini!”
Kata-kata makian itu masih terekam dengan jelas di
dalam ingatannya. Waktu sama sekali tidak berarti apa-apa. Sejauh ini masih
tidak ada yang bis amenghapus memori buruk tersebut dari dalam kepalanya. Setiap
kali mengingatnya membuat Agatha muak. Tapi, ia juga tidak tahu harus
menyalahkan siapa di sini.
“Semoga dia hidup dengan baik di luar sana,” ungkap
Agatha.
Masih ada satu harapan yang terselip di balik ribuan
rasa benci terhadap pria itu. Karena, mau bagaimanapun itu tetap ayahnya. Masalah
sebesar apa pun, tidak akan mampu menghapus hubungan darah.
Ada begitu banyak trauma di masa lalunya yang belum
bisa ia maafkan sampai sekarang. Belajar memaafkan adalah sesuatu yang paling
sulit baginya. Bahkan jauh lebih seulit dari pada meminta maaf. Terkadang ia
juga kesal kepada dirinya sendiri. Kenapa tidak bisa melakukan hal sepele
seperti itu. Padahal orang lain bisa melakukannya dengan mudah.
“Sepertinya sekarang bukan waktunya untup percaya
kepada orang lain,” kata Agatha.
“Laki-laki hanya bisa merusak prosesmu, kemudian
pergi meninggalkan luka. Mereka sama saja pada dasarnya,” sambungnya kemudian.
Setelah merasa jauh lebih tenang, ia kembali ke
dalam kamarnya. Tak lupa untuk membawa
buku harian Arjuna bersamanya. Sepertinya ia tidak akan membaca buku itu hari
ini. Yang ia butuhkan sekarang ini hanyalah ketenangan. Tidak lebih.
“Haruskan aku mengambil cuti selama satu minggu?”
tanya gadis itu kepada dirinya sendiri.
Sebelumnya ia sempat merencanakan hal yang sama. Namun,
beberapa saat setelahnya ia malah beranggapan jika itu tidak terlalu penting
baginya saat ini.
‘DRRTT!!!!’
Mendadak ponselnya bergetar pelan saat ia sedang
berada di tempat tidur. Gadis itu memilih untuk bermalas-malasan. Kegiatan hari
ini cukup membuatnya kelelahan dengan kehilangan sekian banyak energi. Emosinya
adalah yang paling banyak terkuras hari ini.
“Ck! Siapa sih?!” sarkas Agatha.
“Arjuna?” gumamnya sambil membaca nama yang tertera
di sana.
Padahal tadi pria itu baru saja dari sini. Kenapa
sekarang sudah menelepon lagi. Atau jangan-jangan barangnya ada yang tertinggal
di sini dan Arjuna baru mengingatnya. Pasti ia meminta gadis itu untuk
menyimpan benda tersebut, sampai ia kembali lagi untuk mengambilnya.
“Halo! Ada apa?” interupsi Agatha begitu
panggilannya tersambung.
“Halo!” balas
sebuah suara dari seberang sana.
“Apa kau sudah membaca buku hariannya?” tanya pria
itu.
“Jadi kau menelepon hanya untuk menanyakan hal tidak
penting seperti itu?!” tanya gadis itu balik. Kali ini nada bicaranya sedikit
lebih tinggi daripada biasanya.
“Tapi, bagiku itu penting,” kata Arjuna.
Agatha lantas memutar bola matanya malas, kemudian
berkata, “Terserahmu saja.”
“Jadi, bagaimana? Sudah
dibaca sampai halaman berapa?” tanya pria itu lagi untuk yang kesekian kalinya.