
Yang benar saja, sejak tadi malam sampai sekarang
Agatha tidak pernah memejamkan kedua kelopak matanya sama sekali. Bahkan ia
tidak merasakan kantuk. Padahal dalam kurun waktu beberapa jam ke belakang
gadis itu tidak ada mengonsumsi sedikit pun kafein.
Sekarang sudah pukul enam lebih tiga puluh menit.
Seharusnya di luar sana sudah cukup terang. Tidak apa-apa kalau ia kembali
sekarang. Arjuna pasti juga tidak akan mempermasalahkannya sama sekali.
Tanpa pikir panjang lagi, ia segera bangkit.
Beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah keluar kamar. Pandangannya langsung
tertuju kepada sebuah jendela yang berada di ruang tengah. Tampak sinar jingga
keemasan berusaha untuk menerobos masuk melalui celah-celah lubang fentilasi.
Dugaannya benar. Sekarang sudah pagi. Tanpa disadari
sama sekali, kedua sudut bibir gadis itu terangkat membentuk sebuah senyuman.
Terlepas dari pemandangan itu, Agatha beralih menuju
kamar sang pemilik rumah. Untuk sekedar memastikan apakah dia sudah bangun atau
belum. Ternyata belum. Beberapa kali ia mencoba untuk mengetuk pintu kamarnya
sebelum pada akhirnya Agatha memutuskan untuk masuk begitu saja karena tidak
ada jawaban sama sekali dari dalam. Satu-satunya hal yang berhasil ia dapatkan
adalah pemandangan seorang pria yang tengah tertidur pulas di atas ranjangnya. Tampaknya
ia tidak banyak bergerak sejak kemarin malam. Pasalnya, posisi selimutnya masih
begitu rapih. Nyaris tidak bergeser sama sekali.
Mendapati hal tersebut, Agatha lantas terkekeh
pelan. Entah hal lucu macam apa yang berhasil membuatnya tertawa seperti itu.
“Bagaimana bisa ia tidur dengan nyenyak seperti
ini?” gumam gadis itu.
Sejak pertama kali membuka pintu kamar pria ini, dia
tidak pernah melangkah maju. Sungguh dari awal niatnya hanya ingin memastikan
apakah Arjuna masih tertidur atau tidak. Jadi, sekarang ia masih berdiri di
tempat yang sama. Memandangi pria itu dari ambang pintu.
Arjuna pasti kelelahan. Pantas saja jika ia tidur
dengan begitu pulas. Entah sudah berapa hari ia tidak pergi istirahat seperti
ini. Seharusnya setelah itu lingkaran hitam di bawah matanya akan sedikit
berkurang.
“Sepertinya kau juga tidak akan masuk kerja hari
ini,” gumamnya sekali lagi sebelum akhirnya benar-benar pergi.
Agatha pergi dari sana tanpa berpamitan sama sekali.
Ia tidak ingin mengusik ketenangan pria itu. Mungkin akan berbeda ceritanya
jika Arjuan sudah bangun tadi.
***
Sepertinya pulang ke rumah pada jam segitu adalah
pilihan yang salah. Ada begitu banyak kendaraan yang membuat jalanan penuh.
Mereka bahkan nyaris tidak bergerak sama sekali. Wajar saja. Sekarang banyak
orang yang harus pergi kerja. Jadi bukan sesuatu yang mengejutkan lagi jika
jalanan mendadak menjadi ramai. Hal serupa juga seharusnya terjadi pada saat
jam pulang kerja nanti.
Sedikit banyaknya Agatha menyesal karena harus
terjebak macet di jalanan. Tapi, untungnya sekarang ia sudah sampai di apartment.
Gadis itu berjalan dengan lunglai. Sudah tidak ada lebih banyak tenaga lagi.
Oleh sebab itu sekarang ia akan mengisi kembali tenaganya dengan cara tidur.
‘BIP! BIP! BIP! BIP! BIP! BIP!’
Untuk mendapatkan akses ke dalam tempat tinggalnya
sendiri, ia perlu memasukkan enam digit angka pada kunci pintu elektriknya. Hal
ini dilakukan demi alasan keamanan. Setiap unit apartment memiliki kombinasi
angka yng berbeda. Tergantung kepada pemiliknya masing-masing. Yang jelas
jangan samoai mudah ditebak.
‘CEKLEK!’
“Dari mana saja?” interupsi Aaron begitu pintunya
terbuka.
Agatha refleks mundur beberapa langkah karena kaget.
Tempo detak jantungnya mendadak meningkat. Ia tidak bisa berkata-kata untuk
beberapa saat.
“Bisa tidak jangan mengejutkan orang lain seperti
ini?!”
“Bagaimana jika ternyata aku memiliki riwayat
penyakitn jantung? Aku pasti sudah mati di tempat.”
Gadis itu mengomel panjang kali lebar. Kali ini ia
benar-benar merasa sebal. Tadinya Agatha mengira kalau pria itu sudah kembali
ke unit apartment miliknya. Tapi ternyata tidak sama sekali. Ia malah masih
tetap bertahan di sini sampai keesokan harinya. Jangan-jangan ia malah tidak
tidur karena menunggu Agatha kembali ke rumah.
“Pergilah!” usir gadis itu secara paksa.
Dia tidak ingin mendengar alasan dalam bentuk apa
pun. Saat ini satu-satunya hal yang ia perlukan adalah istirahat untuk
memulihkan kembali kondisi tubuhnya. Kemarin malam ia bedagang semalaman. Jangankan
untuk tidur. Mengalihkan pandangan sebentar saja tidak bisa.
Agatha mendorong tubuh pria itu keluar. Kemudian menutup
pintunya dengan keras. Sehingga benda di sekitarnya ikut bergetar pelan. Bahkan
suara debamannya saja sampai menggema di sepanjang lorong. Sepertinya sekarang
emosinya mulai memuncak. Semoga saja penghuni yang lain tidak merasa keberatan
dengan gangguan barusan.
Sebenarnya Agatha tengah melakukan pekerjaan yang
sia-sia. Tidak peduli jika ia mengunci pintu tersebut. Karena pada dasarnya,
Aaron juga tahu kata sandinya. Jadi ia bisa masuk ke sana kapan saja ia mau.
“Sepertinya sekarang dia sedang membutuhkan waktu
untuk berdamai dengan dirinya sendiri,” ucap pria itu sambil menggaruk
kepalanya yang tak gatal.
Alih-alih kembali lagi ke dalam dan menghampiri
Agatha, pria itu malah memutar balik. Ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Tidak
ada gunanya jika Aaron tetap memaksakan diri untuk bicara dengan gadis itu
sekarang. Kondisi emosionalnya belum stabil.
***
Begitu sampai di dalam kamarnya, ia langsung
merobohkan tubuhnya di atas kasur. Tidak peduli lagi dengan bagaimana posisi
tubuhnya sekarang. Menurutnya, ini sudah yang paling nyaman. Agatha bahkan
tidak membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Atau paling tidak menukar bajunya
yang sudah kotor dan berdebu. Ia hanya melemparkan jaketnya ke sembarang arah,
kemudian lekas pergi tidur.
Sejak pulang bertugas tadi malam, ia tidak merasakan
kantuk sama sekali. Malah mendadak Agatha jadi orang yang memiliki gangguan
tidur. Baru sekarang ia merasakan akibatnya. Kedua kelopak matanya sudah tidak
bisa terbuka lebih lama lagi. Kali ini rasa kantuknya sudah tak tertahankan. Membuatnya
terlelap hanya dalam waktu hitungan detik saja.
Sementara itu di sisi lain Aaron kembali ke tempat
tinggalnya untuk menyiapkan sarapan. Ia juga berencana untuk menyiapkan sarapan
gadis itu juga. Sepertinya pekerjaan yang kemarin membuatnya begitu kelelahan,
hingga tak memiliki energi lagi untuk melakukan hal lain.
‘DRRTTT!!!’
Mendadak ponsel di saku celananya bergetar pelan. Pertanda
jika ada panggilan masuk. Tanpa melihat nama yang tertera di layar lebih dulu,
ia langsung mengangkat panggilan masuk tersebut. Tak ingin membuat sang
penelepon menunggu terlalu lama.
“Halo!” sapa Aaron lebih dulu.
“Halo bos!” balas sebuah suara dari seberang sana.
“Ada perlu apa?” tanya Aaron. Dia sedang tidak ingin
berbasa-basi sekarang.
“Rencana penyerangan kita kemarin gagal bos,”
ungkapnya.
Spontan pria itu
langsung menghentikan kegiatannya. Kini seluruh perhatiannya hanya tertuju
kepada panggilan tersebut. Lebih tepatnya kepada seseorang yang sedang
mengobrol dengannya.