
Aaron
pasti berpikir jika gadis ini sudah kehilangan akal sehatnya. Di saat
orang-orang berniat untuk menghindari bahaya, Agatha malah bersikap sebaliknya.
Dengan begitu santai ia berdiri di depan pintu masuk. Seolah menantang bahaya
yang sudah jelas berada tepat di depannya.
“Jangan
ikut campur!” cegah Agatha.
Seperti
yang sudah pernah ia tekankan di awal tadi, Agatha tidak akan membiarkan gadis
itu ikut campur. Apalagi sampai mengacaukan rencananya. Hanya ini jalan
satu-satunya yang mereka miliki agar bisa keluar hidup-hidup. Sedikit beresiko
memang. Tapi, itu bukan masalah sama sekali.
“Apa
kau sudah gila?”
“Kalau
iya memangnya kenapa?!”
“Dasar!
Kau bisa mati!”
“Apa
pedulimu!”
Kalimat
barusan ternyata cukup ampuh untuk membungkam mulut pria bawel itu. Entah
kenapa ia terus berusaha untuk menghalang-halangi rencana Agatha. Padahal jika
Agatha selamat nantinya, ia juga otomatis akan selamat. Gadis itu tidak
memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Walaupun setelah dipikir-pikir, Aaron
sama sekali tidak pantas untuk menerima bantuan darinya.
Tanpa
mempedulikan Aaron lagi, gadis itu lantas segera menempelkan teliganya pada
daun pintu. Berharap agar telinganya cukup peka kali ini. Dari kejauhan
samar-samar terdengar suara derap langkah kaki. Tampaknya orang tersebut
menggunakan sepatu pantofel. Terdengar jelas dari suaranya yang menggema di
seluruh penjuru ruangan.
Dalam
hitungan ketiga, Agatha menarik mundur pria itu. Mereka diminta untuk menjaga
jarak dari ambang pintu masuk. Agatha seolah tahu. Insting alaminya memberikan
peringatan akan bahaya. Dan ia berhasil menerapkannya. Ini adalah cara Agatha
untuk menyelamatkan dirinya sendiri, di kala orang lain tidak bisa dia
andalkan.
“Sttt!!!”
bisik Agatha.
Salah
satu jari telunjuknya berada tepat di depan bibir. Memberikan isyarat untuk
diam. Sepertinya orang awam pun bahkan tau arti tentang tanda tersebut.
Tak
ingin ambil pusing, Aaron lantas menuruti perkataan gadis yang tengah berjaga
tepat di sebelahnya itu. Aaron yakin jika Agatha bukan salah satu bagian dari
mereka. Kalau pun gadis itu berkhianat kepadanya, cepat atau lambat ia pasti
akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya yang satu itu. Entah
balasan dari semesta, atau malah dari Aaron sendiri.
Derap
langkah kaki yang sejak tadi sudah diawasi oleh indera pendengaran Agatha
mendadak berhenti. Menghilang begitu saja. Sepertinya ia memang memilih untuk
diam dan tidak melanjutkan langkahnya kemana-mana.
“Apa
dia berhenti tepat di depan pintu ini?” batin Agatha dalam hati.
Bulir
keringat yang sejak tadi berjatuhan tampak sudah membasahi wajahnya. Dengan susah
payah gadis itu menelan salivanya sendiri. Harap-harap cemas. Bimbang, namun ia
harus tetap yakin dengan rencananya sendiri. Meski keselamatannya tidak bisa
sepenuhnya terjamin saat ini.
“Pintu
ruangan ini terkunci bos!” seru seseorang dari luar sana.
Alih-alih
kabur dan menyelamatkan diri, kedua insan itu malah tetap berada di dalam sana.
Mereka bahkan tidak bergerak sama sekali. Mematung di tempat. Tetap bergeming.
Tapi, andai saja mereka tahu jika jiwanya tidak setenang yang kelihatannya.
“Tunggu
apa lagi?!” balas pria lainnya.
“Cepat
periksa!” titahnya kemudian. Masih dengan suara yang sama.
Tepat
setelah perintah tersebut terdengar, selang sepersekian detik setelahnya,
terdengar suara dobrakan. Agatha yakin jika seseorang tengah berusaha untuk
merusak pintu tersebut. Padahal itu menjadi bentuk pertahanan terakhir dari
mereka berdua.
‘BRAK!’
‘BRAK!’
sial!” umpatnya.
Sepertinya
recananya yang satu itu tidak berhasil. Ia tidak bisa mendobrak pintu tersebut
sendirian. Namun, mereka tidak akan pernah menyerah sampai pintunya benar-benar
terbuka. Ada semangat yang diam-diam menggelora di dalam sana.
Tidak
kehabisan akal, kali ini orang itu tidak mengulang cara yang sama seperti sebelumnya.
Hanya buang-buang tenanga saja. Selain itu juga memakan waktu yang cukup lama. Tanpa
pikir panjang, ia segera mengeluarkan sebuah pistol dari dalam sakunya. Jika
tidak ada cara lain yang bisa ia lakukan untuk membuka pintu ini, maka
satu-satunya cara yang tersisa adalah dengan membuka gerendel pintunya.
‘DOR!!!’
Mendengar
suara tersebut, Agatha dan Aaron refleks langsung berjongkok. Kali ini entah
kenapa mereka tidak tiarap. Entahlah. Agatha berusaha untuk melindungi dirinya
sendiri. Namun, ada satu hal yang terasa janggal. Aaron. Pria itu bukannya
melindungi dirinya sendiri, ia malah berusaha untuk melindungi Agatha.
Kejadian
itu memang sempat menyita perhatian Agatha pada awalnya. Ternyata diam-diam ia
menyadari kejanggalan tersebut. Tapi, sekarang bukan saat yang tepat untuk
memikirkannya. Apalagi sampai mempermasalahkannya. Ia harus kembali fokus
kepada tujuan utama.
“Jadi
ternyata kau bersembunyi di sini bersama seorang gadis?” interupsi seorang pria
yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Setelah sebelumnya ia berdiri di ambang
pintu masuk.
Mendengar
suara tersebut, Agatha dan Aaron lantas menoleh ke arah sumber suara. Dia
adalah seorang pria dengan perawakan yang cukup tinggi. Mungkin tingginya
mencapat 180 cm. Tidak jauh berbeda dengan Aaron. Bahkan usia mereka pun
tampaknya tidak berbeda jauh. Atau jangan-jangan malah sama.
Terlepas
dari penampilan fisiknya, yang jelas dia bukn pria baik-baik. Memangnya orang
baik seperti apa yang menyerang rumah orang lain secara tiba-tiba. Sangat
disayangkan. Entah kenapa sikapnya harus buruk seperti itu. Padahal jika
dilihat-lihat, ia lumayan tampan juga. Agatha bahkan mengakui soal yang satu
itu.
“Apa
maumu?!” seru Aaron lalu bangkit berdiri. Agatha juga turut berdiri setelahnya.
“Sejak
kapan kau berubah menjadi seorang pecundah seperti ini, ha?!” tanya pria itu
balik.
“Omong-omong,
siapa gadis itu?” tanyanya.
“Apa
dia kekasihmu?” lanjut pria itu.
Semakin
ke sini entah kenapa ia terlihat semakin menyebalkan. Bahkan terasa jauh lebih
menyebalkan dari Aaron. Ternyata masih ada orang yang lebih menyebalkan dari
pria itu.
“Tapi,
dia cantik juga. Bagaimana kalau dia menjadi pacarku?” goda pria itu.
Sekali
lagi, ia berhasil memancing emosi Aaron dan juga Agatha. Di saat yang
bersamaan, Aaron menarik gadis itu untuk berlindung di balik tubuhnya. Sejak
tadi, pria itu terus berusaha untuk melindungi Agatha. Begitu pula sebaliknya.
Hanya saja, perlakuan Aaron lah yang paling kelihatan.
“Siapa
dia?” tanya Agatha sambil berbisik.
“Sudah
kubilang tadi jika dia musuhku!” ucap Aaron dengan penuh penekanan.
“Maksudku
namanya,” balas Agatha.
“Rino!”
sahut seseorang dari depan sana.
“Kau
bertanya namaku kan tadi?” tanya Rino untuk memastikan kembali.
“Namaku
Rino, asal kau tahu saja!” timpalnya.
“Lagipula
kenapa kau menanyakan namaku?” tanya pria itu.
Dia tersenyum miring setelahnya. Agatha tahu
betul apa maksud pria itu. Dia pasti sedang merencanakan sesuatu yang licik.
Permainannya terkadang tidak bisa diprediksi. Dia bukan tipikal orang yang
mudah untuk ditebak. Misterius.