
Tania beranjak keluar sesuai permintaan Radit. Karena berjalan sambil menoleh mencari sosok Radit yang katanya akan menyusulnya. Tiba-tiba,
"Prang." Tania menabrak seorang pelayan yang membawa nampan kosong.
Nampan yang dibawa pelayan tersebut jatuh ke lantai. Beruntunglah Tania, karena nampan tersebut tidak ada isinya. Kalau seandainya ada, pasti akan membuat sedikit keributan dengan pelayan tersebut.
Aduh, maaf-maaf mas, saya nggak sengaja." ucap Tania seraya mengambil nampan yang terjatuh tadi akibat ia tabrak. Ia lalu memberikannya pada pelayan tersebut.
"Iya. Nggak apa-apa mba." kata pelayan laki-laki tersebut.
"Sekali lagi saya minta maaf ya mas." ucap Tania lagi merasa bersalah karena kecerobohannya berjalan sambil melihat ke belakang.
"Iya nggak apa-apa mba. Lain kali kalau jalan harus lebih hati-hati lagi yah mba." pesan pelayan tersebut.
"Iya mas." balas Tania.
Sementara pelanggan yang baru saja dibawakan makanan oleh pelayan tersebut mencoba mengenali Tania. Setelah ia lihat dengan jelas ternyata memang benar, kalau gadis itu adalah Tania yang ia kenal. Laki-laki itu pun memutuskan untuk menyapa Tania.
"Tania." panggil laki-laki itu.
Tania menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia melihat sosok yang sangat ia kenal.
"Kak Fathur! Kok bisa ada disini?" tanya Tania.
"Iya. Sekarang aku menetap di kota ini." jawab Fathur.
"Oh, begitu yah." ucap Tania mengerti.
"Kamu juga, kok bisa ada disini?" ucap Fathur balik bertanya.
"Kami kesini ..." Tania.
"Nia. Ayo kita keluar." ajak Radit tiba-tiba memotong ucapan Tania.
"Kamu Radit kan, anaknya Pak Rahmat?" tanya Fathur. Ia pernah melihat Radit dulu saat ia pergi ke toko menemui Tasya.
"Honey, kalian semua saling kenal?" tanya wanita yang duduk bersama Fathur, yang tidak lain adalah dr. Fani, istrinya Fathur.
"Iya honey. Kenalkan, ini Tania. Adik sepupuku. Dan ini Radit." ucap Fathur memperkenalkan Tania dan dr. Fani.
"dr. Fani."
"Tania."
"Radit."
Mereka pun saling berkenalan satu sama lain.
"Kalian sepasang kekasih?" tanya Fani sambil menunjuk Tania dan Radit bergantian.
Radit dan Tania saling pandang,
"Iya Dok, saya pacarnya Tania." jawab Radit.
"Ih, kamu jangan panggil saya begitu dong. Kamu kan bukan pasien saya." ucap Fani sambil tertawa kecil.
"Terus kami harus panggil dokter dengan sebutan apa?" tanya Tania.
"Eh iya dok. Eh, iya kak." ucap Tania mengerti.
"Kalian beneran pacaran?" tanya Fathur penasaran. Karena setahunya Tasya dulu tidak mau berpacaran. Jadi, ia pikir adiknya juga begitu.
"I iya kak." jawab Tania malu-malu.
Radit merasa senang karena Tania mau mengakuinya didepan orang lain. Ini pertama kalinya ia mendapatkan pengakuan dari Tania.
"Oh ... oh iya, kalian habis makan malam juga disini?" tanya Fathur.
"Iya kak. Kami diundang pemilik restoran ini." jawab Tania.
"Kalian juga kenal sama Miko, pemilik tempat ini?" tanya Fani.
"Iya kak. Kak Miko itu sahabatnya kakak ipar saya." jawab Tania.
"Oh, begitu yah." ujar dr. Fani.
"Apa? Hendra berteman dengan Miko? Dan, Fani juga berteman dengan Miko. Apa jangan-jangan, Fani juga berteman dengan Hendra?" batin Fathur.
Semenjak saat itu, kurang lebih 1 bulan yang lalu. Saat terakhir kali Fathur memata-matai Tasya. Ia berhenti melakukan hal tersebut saat ia menyadari perasaannya yang belum sepenuhnya ikhlas melihat Tasya bahagia dengan laki-laki lain. Ia pun akhirnya memutuskan untuk berhenti membayar orang untuk memata-matai Tasya karena ia merasa bersalah pada istrinya.
Setelah mengobrol cukup lama, Radit dan Tania pamit pada Fathur dan Fani.
"Kak Fathur, Kak Fani. Kami permisi dulu yah, kami masih ada urusan." ucap Tania berpamitan.
"Iya. Silahkan." ucap Fathur dan Fani bersamaan.
"Selamat menikmati makan malamnya. Permisi!" pamit Tania.
"Oh iya, lain kali, kalian mampirlah ke klinik saya. Nama klinik saya Klinik Asy-Syifa. Kalian bisa berkunjung kesana kalau kalian mau. Kliniknya buka jam 5 sore sampai jam 9 malam. Tempatnya juga nggak jauh kok dari sini. Kami juga sering bermalam disana kalau nggak sempat kembali kerumah." ucap Fani ramah.
"Iya kak. In syaa Allah." jawab Tania tersenyum seraya mengangguk sopan.
"Oh iya, ini kartu nama saya. Kalian bisa hubungi saya kalau kalian mau berkunjung." jelas Fani sambil menyodorkan kartu namanya.
"Iya kak." kata Radit dan Tania bersamaan.
Radit dan Tania pun keluar dan duduk di kursi taman yang tersedia di depan restoran.
"Kamu tadi mau ngomong hal penting apa Dit?" tanya Tania penasaran.
"Nia, kamu jangan deket-deket yah sama kak Miko." jelas Radit tanpa basa-basi.
"Hah? Kenapa emangnya Dit?" tanya Tania heran.
"Mm ... feeling aku berkata, dia tuh naksir sama kamu Nia." jawab Radit.
"Ah, ngaco kamu Dit. Orang baru kemarin aja kenal, masa langsung suka aja. Nggak mungkin." ujar Tania tidak percaya.
"Aku serius Nia. Aku bisa liat, kalo dia itu naksir sama kamu." jelas Radit mencoba meyakinkan.
"Dit ... Dit ... jangan bilang kamu cemburu gara-gara yang tadi." kata Tania.