
Radit dan Tania berjalan sambil bergandengan tangan menuju parkiran. Entah apa yang mereka bicarakan. Kedua sudut bibir mereka terus saja melengkung keatas. Terlihat jelas bahwa mereka berdua begitu bahagia menjelang hari pernikahan. Tidak lama setelah mereka masuk kedalam mobil, Radit pun segera melajukan mobilnya ke tempat lain. Yang jelas bukan jalan menuju arah jalan pulang rumah mereka masing-masing.
Mereka tidak sadar kalau empat pasang mata, milik 2 orang misterius sedang memperhatikan mereka sejak tadi. Yang jelas para pemilik mata tersebut sangat tidak suka melihat mereka berdua bahagia. Apalagi sejak tahu kalau sebentar lagi mereka akan menikah. Sungguh kedua orang itu sangat membenci hal itu. Mobil yang dikendarai dua orang itu pun mengikuti mobil Radit dari belakang.
Mobil Radit
"Sayang, kita pergi ke taman, yuk!" ajak Radit.
"Ayo! Kita memang udah lama nggak pernah kesana," seru Tania antusias.
"Tapi sebelumnya kita singgah di ATM Xxx dulu yah, sayang di depan sana. Soalnya uang di dompet aku tinggal goceng." jelas Radit.
"Iya, terserah kamu, Dit." ucap Tania.
Radit segera menepikan mobilnya setelah sampai di depan ATM yang ia maksud. Ia segera masuk untuk menarik sejumlah uang didalam sana, sedangkan Tania menunggunya di mobil.
Kedua orang misterius yang mengikuti mereka sejak tadi pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Setelah melihat Radit masuk kedalam ruang ATM. Laki-laki misterius itu segera menghentikan laju mobilnya tidak jauh di belakang mobil Radit. Setelah laki-laki itu keluar, teman perempuannya mengambil alih kemudi.
Laki-laki yang mengenakan pakaian serba hitam itu pun dengan langkah cepat secepat kilat menghampiri mobil Radit. Kakinya yang panjang dan jenjang sangat membantu mempersingkat langkahnya untuk sampai. Tanpa aba-aba dan permisi, laki-laki itu dengan cepat membuka pintu mobil dimana Tania sedang duduk.
Tania yang tengah melakukan Live Streaming di akun Instagram miliknya, tiba-tiba saja dikejutkan oleh sesosok laki-laki yang bertubuh tinggi yang tiba-tiba membuka pintu mobil disampingnya.
"Astagfirullah! Siapa kamu?" tanya Tania pada laki-laki itu. Ia begitu terkejut dan ketakutan.
Tanpa menjawab pertanyaan Tania, laki-laki itu dengan cepat menyumpal hidung serta mulut Tania menggunakan sebuah sapu tangan yang sudah diberi beberapa tetes obat bius. Dalam hitungan detik saja, Tania sudah kehilangan kesadarannya. Tadinya Tania berusaha untuk melawan, namun efek obat itu cepat sekali bekerja setelah terhirup olehnya.
Setelah membuat Tania kehilangan kesadarannya, laki-laki itu pun segera memberi kode pada teman wanitanya untuk segera memajukan mobil mereka. Dalam hitungan detik saja mobil itu sudah berada tepat dibelakang mobil Radit. Tidak ingin membuang-buang waktu dengan ketahuan, laki-laki itu dengan cepat mengangkat tubuh Tania yang sudah tidak berdaya ke jok belakang mobil mereka.
Radit masih fokus dengan aktifitasnya didalam ruang ATM. Ia tidak menyadari kalau calon istrinya sedang di culik oleh dua orang misterius diluar sana.
"Ayo cepat jalan!" seru laki-laki itu setelah melihat Radit keluar dari ruang ATM. Dengan cepat dan mantap wanita itu mulai melajukan mobilnya secara perlahan-lahan kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Mobil yang aneh." batin Radit sambil berjalan menghampiri mobilnya.
Firasat Radit tiba-tiba tidak enak saat melihat ponsel Tania tergeletak di samping mobilnya. Jantungnya berdegup sangat kencang, wajahnya pias seketika itu. Radit segera berlari memungut ponsel milik kekasihnya itu. Saking paniknya, ia tidak memperhatikan kalau ponsel itu masih melakukan siaran langsung di akun media sosial milik Tania. Ia tidak melihat komentar panik para pengikut yang bergabung dalam siaran lansung Tania tadi.
Dengan cepat Radit membuka pintu mobil dimana Tania tadinya sedang duduk. Radit membanting pintu mobilnya. Ia mulai panik saat mendapati mobilnya kosong. Ia berlari mengitari mobilnya lalu menyapukan pandangannya ke sekeliling.
"Nia! Taniaaaa!" panggil Radit sambil terus mengitarkan pandangannya mencari keberadaan gadis kesayangannya itu.
"Jangan-jangan, mobil tadi! Jangan-jangan, Tania diculik!" ucap Radit semakin panik.
Mobil sedan hitam yang digunakan oleh kedua penculik itu melaju begitu cepat menyusuri jalan raya. Mereka tidak mau Radit menyusul dan menggagalkan rencana yang sudah mereka susun matang-matang.
"Sepertinya dia nggak mengikuti kita," ucap laki-laki itu sambil sesekali menoleh ke belakang. Ia tidak melihat penampakan mobil Radit dari kejauhan.
"Bagus lah kalo begitu. Aku pastikan rencana kita berjalan lancar." balas perempuan yang juga berpakaian serba hitam yang duduk dibalik kemudi.
"Sepertinya sih begitu. Aku yakin dia nggak akan bisa menyusul kita. Kalau pun dia sampai mencurigai calon istrinya ada didalam mobil ini tadi. Dia pasti nggak akan bisa megikuti jejak kita, soalnya dia sudah ketinggalan jauh." kata Laki-laki itu.
"Kamu mau apakan gadis itu nanti?" tanya perempuan itu penasaran.
"Ya, bersenang-senang lah. Aku memang sudah lama menginginkannya." jawab laki-laki itu sembari mengelus pipi mulus Tania dengan punggung jari-jarinya yang terbaring lemas tak berdaya disampingnya.
"Hahaha, bagus! Jadi sekarang kita kemana?" tanya perempuan itu.
"Ke tempat yang sudah kita rencanakan sejak awal." jawab laki-laki itu.
"Oke. Aku udah nggak sabar pengen ngeliat mereka hubungan mereka berdua hancur. Hahaha."
"Kalau aku sudah nggak sabar pengen mencicipinya." ucap laki-laki itu sambil menj*lat bibirnya sendiri disertai dengan wajah m*sumnya.
"Hahaha. Aku pengen liat, bagaimana reaksi Radit kalau tahu gadis yang sangat dicintainya itu sudah dinodai oleh kamu, Yud." ucap Chelsea pada Yuda.
Chelsea dan Yuda bekerja sama untuk menghancurkan hubungan Radit dan Tania. Mereka berdua memiliki dendam pribadi kepada pasangan yang sebentar lagi akan menikah itu.
Chelsea marah karena menganggap Tania merebut Radit darinya dan gara-gara Tania lah Radit menolaknya bahkan sampai menghinanya waktu itu. Begitu pula dengan Yuda, Yuda menganggap kalau Radit yang telah merebut Tania darinya. Ia juga dendam saat mengingat Radit pernah menghajarnya di toilet mall waktu itu. Begitulah, mereka berdua sama-sama menganggap kalau calon pasangan mereka sama-sama direbut. Padahal kenyataannya keduanya salah, tidak ada yang merebut ataupun direbut dalam hal ini. Hanya mereka berdua saja yang menganggapnya seperti itu, dan keduanya tidak ada yang benar.
"Kalau Radit tidak mau menerima bekasku, aku mau kok menikahinya. Apalagi kalau nanti Tania sampai hamil olehku," ucap Yuda enteng.
"Aku pikir cuma aku yang gila. Ternyata kamu juga sama saja," ucap Chelsea lalu kembali tergelak. Yuda hanya menyunggingkan senyum menyeringai mendengar ucapan Chelsea sambil ia terus menatap gadis yang terbaring lemas disampingnya.
Chelsea terus melajukan mobilnya memasuki sebuah jalan kecil yang tembus di desa terpencil. Yang pastinya, akan sulit untuk ditemukan kalau mereka pergi kesana, pikir mereka.