
"Radit!" ucap Tania lirih.
Suara teriakan Radit mengejutkan Tania. Jantung Tania sempat berhenti sejenak saking kagetnya. Ia takut kekasihnya itu sampai marah dan salah paham lagi padanya.
"Astaga! Jangan sampai Radit salah paham lagi. Sebisa mungkin aku harus bersikap biasa-biasa aja. Aku harus melakukan sesuatu agar Radit nggak sampai marah sama aku. Tapi, kira-kira apa yang harus aku lakukan?" batin Tania sembari berpikir.
"Sial. Kenapa anak ingusan itu harus muncul disaat seperti ini sih? Ganggu orang PDKT aja." batin Miko kesal karena usahanya untuk lebih dekat dengan Tania menjadi terganggu.
"Ah, aku punya ide." ucap Tania dalam batinnya.
Tiba-tiba saja ia mendapatkan ide yang sangat cemerlang menurutnya. Sebuah jurus ampuh yang mampu membuat pemuda itu melupakan kekesalannya dalam waktu singkat.
"Kak Miko, nasi gorengnya boleh buat aku nggak?" tanya Tania.
Miko hanya mengangguk lalu menyerahkan piring berisi nasi goreng itu pada Tania. Tania beranjak hendak menghampiri Radit. Terlebih dahulu ia meletakkan piring berisi nasi goreng itu diatas meja makan. Setelah itu, ia kemudian melangkah menghampiri Radit yang berdiri tidak jauh dari tangga.
Di pagi yang masih buta, Radit sudah dibuat cemburu dan kepanasan melihat kemesraan Tania dan Miko tadi. Tapi sebisa mungkin Radit berusaha untuk meredam emosinya. Ia berusaha keras menahan dirinya untuk tidak mengulangi kesalahannya kembali. Ia tidak mau jatuh ke jurang yang sama untuk yang kedua kalinya.
Mulai sekarang, Radit belajar untuk bersikap lebih dewasa lagi. Karena ia begitu kapok pernah kehilangan gadis kesayangannya itu. Semua itu diakibatkan dari kesalahannya sendiri yang tidak bisa mengendalikan emosi dan hawa nafsunya saat cemburu. Ia sangat tidak ingin hal itu jadi terulang kembali.
"Dit, kita sarapan bareng yuk!" ajak Tania dengan suara lemah lembut sembari memeluk lengan Radit dan menariknya berjalan menuju meja makan.
Pemuda itu hanya menuruti permintaan gadis itu. Tidak biasanya Tania bersikap manis seperti itu padanya. Radit juga sampai terheran-heran dibuatnya.
"Ayo duduk!" ucap Tania sembari menuntun Radit dan mendudukkannya di meja makan.
Setelah Radit duduk, Tania pun mengambil tempat duduk di samping Radit. Radit hanya terdiam saat mendapat perlakuan tidak biasa itu dari Tania. Ia masih berusaha untuk menenangkan diri dan meredam amarahnya.
"Kita sarapan bareng yah, sayang. Ayo buka mulutmu!" ucap Tania seraya mengarahkan satu sendok nasi goreng ke mulut Radit.
Radit sangat terkejut sekaligus senang mendengarkan panggilan sayang langsung dari mulut Tania. Kata sayang yang diucapkan dari mulut manis gadis itu seperti memiliki kekuatan sihir yang mampu melenyapkan amarah dan cemburu yang dirasakan dihati pemuda itu dalam waktu sekejap.
"Aku nggak salah dengar, kan?" batin Radit sembari menyentuh kening Tania untuk memeriksa suhu badannya.
"Kenapa?" tanya Tania yang bingung melihat Radit memegangi jidatnya.
"Aku pikir kamu sakit. Atau mungkin, kamu salah minum obat," jawab Radit.
Tania terkekeh mendengarkan ucapan Radit. Ia memang sengaja mengeluarkan jurusnya agar Radit tidak sampai marah padanya. Sebenarnya didalam hati mereka berdua, mereka berdua sama-sama takut kehilangan satu sama lain untuk yang kedua kalinya.
"Buka mulutmu, sayang!" perintah Tania.
Radit pun kemudian makan sambil disuapi oleh Tania.
Miko gerah melihat kemesraan sepasang kekasih itu. Dari pada melihat kemesraan mereka, Miko lebih baik masuk ke dalam kamarnya sebelum mata dan hatinya sakit melihat pemandangan didepannya.
Kali ini Miko gagal mendekati Tania. Mungkin lain kali ia masih akan mencobanya lagi. Ia bukan tipe orang yang gampang menyerah. Ia selalu berusaha memperjuangkan segala sesuatu yang menurutnya patut untuk diperjuangkan. Contohnya Tania, gadis itu begitu spesial dimata Miko. Ia pun bersikeras untuk mengejar gadis itu. Sampai-sampai ia bela-belain menyusul Tania ke desa tempat tinggalnya.
"Gimana, enak nggak?" tanya Tania meminta pendapat Radit.
"Hem." jawab Radit sembari mengunyah nasi gorengnya.
"Kok jawabnya gitu sih?" tanya Tania cemberut.
"Memangnya nasi goreng ini kamu yang buat?" tanya Radit setelah ia menelan nasi gorengnya.
Radit memiliki pendapat yang sama seperti Tania. Menurutnya, nasi goreng itu merupakan nasi goreng terenak yang pernah ia makan.
"Bukan, tapi buatan, Kak Miko." jawab Tania pelan takut Radit marah.
"Apa? Ah, nggak enak. Nasi gorengnya sama sekali nggak enak. Aku sarapannya pake roti aja." ujar Radit sembari beranjak mengambil Roti dan selai.
Radit tidak jadi memuji makanan itu. Andai saja nasi goreng itu buatan Tania ataupun buatan Bi Ani. Ia pasti akan memujinya habis-habisan. Tapi karena itu adalah buatan Miko, ia pun memilih berbohong dan mengatakan yang sebaliknya. Ia terlalu gengsi untuk mengakui kehebatan rivalnya itu dalam hal masak memasak.
"Beneran nih? Jangan nyesel yah kalo makanannya aku habisin." ujar Tania.
"Yah udah, habisin aja! Ngapain juga aku nyesel? Toh makanannya juga nggak enak." jawab Radit ketus.
Tania memanyunkan bibirnya mendengarkan jawaban ketus dari Radit. Ia tahu pemuda itu pasti sedang cemburu.
"Yah udah, kalo kamu nggak mau, aku habisin yah." ujar Tania.
"Silahkan!" seru Radit.
"Nasi goreng seenak ini masa dibilang nggak enak. Ada yang tidak beres kali sama lidahnya." gumam Tania lalu mulai menyantap nasi gorengnya.
Radit berkali-kali menelan salivanya melihat Tania begitu lahap memakan nasi goreng tersebut. Terbesit penyesalan didalam hatinya. Ia juga sebenarnya masih ingin menikmati nasi goreng itu. Ia menyesal telah menanyakan siapa pembuatnya di awal.