How To Love You

How To Love You
Bab 146



Pukul 14:00


Tasya sudah mengirimkan pesan pada Tania untuk bersiap-siap. Sebentar lagi mereka akan berangkat jalan-jalan hanya sekedar untuk berburu jajanan. Ini semua kemauan si bumil dan si calon bapak ngidam.


Beberapa saat kemudian, Tasya dan Hendra sudah turun ke lantai bawah. Mereka sudah siap berangkat. Sedangkan Tania sudah menungunya di meja makan sembari menikmati ice cream kesukaannya.


"Mau berangkat sekarang Kak?" tanya Tania.


"Iya Dek, ayo!" jawab Tasya.


"Bibi, kami keluar jalan-jalan dulu yah!" pamit Tania pada Bi Ani yang duduk mengobrol bersamanya tadi.


"Iya Non, hati-hati yah!" pesan Bi Ani.


"Tuan, nyonya! Tamunya gimana, kok ditinggal?" tanya Bi Ani.


Hendra dan Tasya mengerutkan kening lalu saling memandang. Mereka tidak tahu kalau mereka kedatangan tamu.


"Tamu. Siapa Bi?" tanya Hendra.


"Itu loh Tuan, si Tuan tampan. Bibi liat dari penampilannya sepertinya orang kota." jawab Bi Ani.


"Siapa sayang?" tanya Tasya.


Hendra hanya mengangkat bahunya pertanda tidak tahu. Karena ia tidak mendapat pemberi tahuan dari siapapun kalau ia akan kedatangan tamu.


"Kak Miko, Kak." kata Tania.


"Apa?" tanya Hendra dengan ekspresi yang tidak biasa.


"Sayang, kok muka kamu gitu sih?" tanya Tasya heran melihat reaksi suaminya yang sedikit berlebihan menurutnya.


"Tidak sayang. Aku cuma kaget saja, karena dia tidak bilang apa-apa kalau dia mau datang kemari." jelas Hendra.


"Oh, ayo kita berangkat! Aku sudah tidak sabar mau makan-makan." ajak Tasya bersemangat.


Semenjak hamil, Tasya jadi doyan makan. Badannya sekarang terlihat sedikit lebih berisi dari sebelumnya.


"Ayo!" balas Hendra.


"Oh iya Bi, kalau teman saya bangun, bilang aja kami pergi jalan-jalan." pesan Hendra.


"Iya Tuan." jawab Bi Ani.


Mereka bertiga pun kemudian berjalan keluar.


"Sial, kenapa Miko harus muncul disaat seperti ini sih? Masalah Radit sama Tania saja belum selesai, si biang kerok tiba-tiba muncul. Huft bikin kepalaku tambah pusing aja." batin Hendra sembari mendengus kesal.


Saat mereka hampir sampai di pintu utama, langkah Tania tiba-tiba terhenti saat melihat seseorang yang memakai pakaian serba hitam berdiri menunggu mereka sembari tersenyum ke arahnya.


Ngapain sih cowok bre***ek dan menyebalkan itu ada disini? Tau begitu kan aku nggak usah ikut. Batin Tania.


"Nia sayang, aku sangat merindukanmu." batin Radit.


"Kenapa berhenti Dek? Ayo jalan!" tanya Tasya yang menyadari Tania tiba-tiba berdiri mematung dibelakang mereka.


"Aku nggak jadi ikut deh Kak." jawab Tania.


Tania masih marah pada Radit. Kalau dia ikut, itu berarti dia harus satu mobil dan jalan bersama dengan pemuda itu untuk beberapa jam ke depan.


"Ayolah Dek! Kamu jangan kayak anak kecil gitu." ajak Tasya mencoba membujuk adiknya.


"Tania, ayo! Kalo kamu nggak ikut, siapa yang akan nyetir mobilnya?" ujar Tasya.


"Maksud kakak apa sih, aku nggak ngerti deh? Aku ini kan nggak bisa nyetir Kak. Kak Tasya lucu ih," balas Tania.


"Iya kakak tau kamu nggak bisa nyetir. Tapi Radit nggak mau pergi kalo kamu nggak ikut. Masa kamu mau biarin Kak Hendra yang nyetir. Sedangkan dia masih belum sehat sepenuhnya. Kamu nggak kasian apa sama Kak Hendra yang udah ngidam martabak durian sejak beberapa minggu yang lalu?" cerocos Tasya.


Tasya mulai kesal pada Tania yang keras kepala itu. Semenjak hamil, emosinya jadi tidak stabil. Itu karena pengaruh hormon kehamilan.


"Tapi Kak,"


"Nggak ada tapi-tapi, ayo jalan!" ujar Tasya sambil menyeret Tania masuk kedalam mobil.


Melihat tontonan didepan mereka, Hendra mengedipkan sebelah matanya ke arah Radit pertanda rencana mereka sepertinya akan berjalan lancar. Radit hanya mengacungkan jempolnya ke arah Hendra sembari tersenyum.


Mereka pun kemudian segera meluncur.


"Kak, kita kemana dulu nih?" tanya Radit sembari fokus menyetir.


Sesekali Radit melirik ke arah Tania yang dari tadi membuang pandangannya ke arah luar.


"Terus saja dulu, nanti kalau tiba saatnya untuk belok aku pasti kasih tahu." jawab Hendra.


"Sayang, kita jadi ke tempatnya Pak Udin yah?" tanya Tasya.


"Iya sayang, tapi sebentar saja tidak perlu masuk kok." jawab Hendra.


"Loh kenapa?"


"Disana jam segini terik sekali sayang. Aku tidak mau kulit istriku yang cantik ini jadi terbakar sinar matahari." jawab Hendra.


"Elah, gombal." ucap Tasya.


"Eh, siapa yang gombal?" tanya Hendra.


"Yah kamulah sayang, masa aku?"


"Yah udah yah udah, kamu menang deh." ujar Hendra mengalah.


"Cup." Hendra mendaratkan kecupan lembut di pipi istrinya. Suaranya sampai didengar oleh 2 orang yang duduk di jok depan.


"Sayang ih, apaan sih? Kamu tidak malu apa didenger sama mereka?" tanya Tasya malu-malu sambil mencubit pinggang suaminya.


"Auwh, sakit sayang. Kenapa juga aku harus malu bermesraan sama istriku sendiri. Justru mereka berdua yang harus malu, kenapa tidak buru-buru menikah? Jadinya kan mereka tidak bisa bermesra-mesraan seperti kita sayang." jawab Hendra.


Hendra sengaja menyindir dua sejoli yang ada didepannya. Terutamanya Tania yang sudah menolak lamaran Radit.


"Semerdekanya kamu deh sayang."


"Sayang, peluk dong." kata Hendra sambil mengangkat sebelah ketiaknya untuk dipeluk oleh istrinya.


"Manja banget sih," ujar Tasya sembari mencubit hidung Hendra.


Tasya lalu melingkarkan kedua tangannya didada suaminya. Hendra membalas dengan mengecup puncak kepala istrinya.


Yaa Allah, ngapain aku diajak kalo cuma mau dengerin pasangan suami istri yang bucin ini mesra-mesraan? Itu lagi, pasti kak Hendra lagi nyindir aku tadi. Sepupu sama sepupu sama aja, sama-sama nyebelin. Batin Tania kesal karena tersinggung mendengar ucapan Hendra.


Nia sayang, seandainya kamu nggak nolak lamaran aku. Bentar lagi kita juga bakalan mesra-mesraan seperti mereka, tanpa perlu takut dosa. Yang ada malah kita berdua dapat pahala yang besar. Batin Radit.