
Begitu banyak kata-kata bujukan dan permintaan maaf yang di lontarkan oleh bibir ranum milik Radit. Tapi Tania si gadis keras kepala masih bertahan untuk tidak bergeming sedikitpun. Karena sudah kehabisan kata-kata, Radit pun terpaksa melancarkan rencana kedua.
Radit membuka laci dash board mobil, ia mengambil sesuatu didalam sana. Selembar kertas tebal berbentuk persegi panjang yang sudah dilipat serapi mungkin. Besarnya kurang lebih sama dengan buku. Lipatan kertas itu sudah di desain secantik dan semenarik mungkin. Nama dua insan terlukis indah dibagian depannya. Nama seorang Raditya bersama dengan nama seorang gadis. Yang jelasnya bukan nama Tania si gadis kepala batu itu.
"Baiklah, kalau kamu masih bersikeras tidak mau memaafkanku. Aku akan berusaha menerima kenyataan. Dan aku harap kamu pun juga begitu," ujar Radit mulai berbelit-belit dengan kata-katanya.
Radit menarik napasnya dalam-dalam sebelum ia mulai merangkai kata untuk melancarkan rencana keduanya.
"Nia. Bulan depan aku akan menikah," ujar Radit.
Tidak ada tanggapan berarti yang ditunjukkan oleh Tania. Posisinya masih sama seperti tadi tidak ada gerakan yang ditimbulkan sedikitpun. Persis seperti patung bernyawa.
"Aku minta maaf karena tidak bisa menunggumu."
"Kedua orang tuaku sangat malu karena kamu telah menolak lamaran kami. Papa dan Mamaku telah memilihkan calon istri untukku."
"Aku tidak bisa menolak, karena aku tidak mau membuat mereka semakin malu lagi."
"Aku minta maaf karena aku harus berhenti memperjuangkan cinta kita."
"Asal kamu tau Nia, aku juga capek berjuang sendiri. Sepertinya hanya aku yang serius menjalani hubungan kita. Sedangkan kamu tidak."
"Aku itu sayang banget sama kamu. Aku cinta banget sama kamu. Dan kamu tau itu. Mungkin aku sudah ratusan bahkan ribuan kali mengucapkan kalimat itu."
"Aku juga capek Nia, aku capek berjuang. Kamu sepertinya tidak menghargai cinta tulus yang telah aku persembahkan untukmu."
"Sepertinya hubungan kita selama ini tidak berarti apa-apa buat kamu."
"Mungkin memang hanya aku yang mencintai kamu dan menyayangi kamu. Dan kamu tidak memiliki rasa itu untukku."
"Maaf, perjuanganku hanya sampai dititik ini. Selamat tinggal, Nia."
Tadinya Tania tidak percaya dengan ucapan Radit. Ia berpikir bahwa Radit hanya mengada-ngada untuk membuat dirinya tidak marah lagi pada pemuda itu. Setelah membaca nama Radit dengan nama gadis lain di cover undangan tersebut. Tania merasa dadanya dihantam sesuatu yang sangat keras. Ia merasa sangat sakit hati mengetahui bahwa Radit benar-benar akan segera menikah dengan gadis lain.
Wajah Tania berubah pias, ia merasa tiba-tiba badannya terasa lemas tak berdaya. Rasanya ia ingin menangis sejadi-jadinya seketika itu juga. Semarah apapun dirinya pada Radit, tapi rasa cintanya pada pemuda itu tidak pernah luntur sedikitpun. Ia masih sangat mencintai Radit. Ia menolak lamaran Radit bukan karena ia tidak mencintainya. Ia hanya ingin memberikan pelajaran pada Radit yang sudah berani berbuat kurang ajar padanya.
"Dasar cowok bre***ek, baj*ngan, pembohong, tidak bertanggung jawab! Setelah mengambil ciuman pertamaku dan menyentuhku, kamu malah ingin menikahi gadis lain." maki Tania dalam batinnya.
"Dasar pembohong! Katanya cinta mati padaku, nyatanya dusta. Aku benci sama kamu Radit, aku benciii." teriak Tania dalam hatinya.
Begitu banyak sumpah serapah yang dijatuhkan oleh Tania didalam batinnya. Dan semua itu ia tujukan pada Radit yang ia pikir sudah mengkhianatinya. Sekuat tenaga Tania mencoba untuk tidak menangis. Ia tidak mau terlihat rendah dimata Radit. Ia tidak mau Radit menertawai kekalahannya, seperti ia yang merasa sangat puas saat mengetahui Radit mengurung diri dikamar dan tidak pernah makan maupun minum sesuatu saat tahu lamarannya di tolak.
Pikirannya menerawan jauh ke depan, ia membayangkan dirinya yang bernasib lebih parah dari Radit. Ia merasakan sakit yang teramat sangat didalam hatinya. Ia merasa menyesal telah mempermainkan pemuda itu. Rasanya ia tidak ingin hidup lagi. Mungkin itulah yang dirasakan oleh Radit saat ia menolak mentah-mentah lamaran pemuda itu, pikirnya.
Rasanya ia ingin sekali meminta maaf pada Radit. Tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Toh sebentar lagi Radit akan segera menikah dengan gadis lain. Itu hanya akan membuat harga dirinya yang ia junjung tinggi selama ini setinggi langit runtuh dan terinjak-injak.
"Nia, aku tahu kamu membenciku. Tapi aku harap, kamu mau hadir di pesta pernikahanku 2 minggu lagi," ucap Radit.
"Aku benar-benar nggak percaya ini. Begitu cepatnya kamu mendapatkan penggantiku. Dasar pembohong besar!" batin Tania lagi.
Radit merasa sangat puas saat melihat bahu Tania bergerak naik turun. Itu tandanya gadis itu sedang mengatur napasnya agar dadanya tidak terasa sesak dan tidak sampai menumpahkan air mata kesedihannya.
"Tania! Lihat aku, aku ingin melihat wajahmu sekali lagi sebelum aku benar-benar menjadi milik orang lain." ucap Radit seraya menarik lengan Tania untuk membuat gadis itu berpaling dari posisinya yang ia pertahankan sejak tadi.
Mendengar kata-kata Radit membuat dada Tania semakin sesak. Ia pun lalu menepis tangan Radit yang menariknya. Ia tidak mau terlihat lemah dihadapan pemuda itu.
Jangan sentuh aku! Cih, dasar laki-laki kurang ajar! Memangnya kamu pikir aku ini barang yang seenaknya bisa kamu sentuh-sentuh begitu aja. Maki Tania dalam batinnya.
Tania masih bertahan dengan umpatan-umpatan, makian-makian yang ia tujukan pada Radit didalam hatinya. Ia masih enggan untuk membuka mulutnya dan mengeluarkan suara untuk berbicara pada laki-laki yang sudah dari tadi mengajaknya berbicara. Sungguh tuna rungu dan tuna wicara lebih baik darinya. Sifat keras kepala membuatnya tidak jauh berbeda dengan manekin bernyawa.