
Setelah selesai memijat suaminya,Tasya segera mengemasi barang-barangnya untuk dibawa ke tempat tinggal barunya bersama Hendra.
Setelah mereka menikah, Tasya akan menetap dan tinggal di sana.
Hendra rebahan sambil menyaksikan istrinya mengemasi barang-barangnya.
"Yang penting-penting saja, Sayang, karena di rumah kita, aku dan mama sudah menyiapkan pakaian untukmu jauh-jauh hari sebelum kita menikah. Di sana sudah lengkap, kecuali ...." Hendra sengaja menggantung ucapannya.
"Kecuali apa, Sayang?" tanya Tasya penasaran.
Sekarang Tasya harus menyertakan kata 'sayang saat berbicara dengan Hendra. Karena kalau tidak, Hendra akan protes dan menyuruhnya untuk mengulang perkataannya kembali ditambah dengan kata 'sayang'.
"Kecuali ... pakaian dalam," ucap Hendra tersenyum. "Aku tidak tahu ukuran yang kamu pakai, jadi tidak menyiapkannya."
Hendra mengulum tawanya setelah mengatakan hal tersebut. Apalagi saat melihat wajah istrinya yang berubah memerah seketika itu juga.
Ih apa-apaan sih? Bikin orang malu aja. Gumam Tasya dalam hati.
Setelah selesai mengemasi barangnya, Tasya pun mengajak Hendra untuk keluar sarapan. Dan ternyata setelah mereka sampai di ruang makan, seluruh anggota keluarga Tasya sudah berkumpul di meja makan.
"Loh, kenapa gak ada yang manggil kami buat gabung?" tanya Tasya, seraya menghampiri keluarganya yang baru saja memulai sarapan mereka.
"Duduklah, Nak. Kami hanya tidak ingin mengganngu kalian," jawab pak Rudi.
Pak Rudi juga pernah merasakan yang namanya menjadi pengantin baru, jadi dia bisa mengerti kalau pengantin baru itu tidak boleh diganggu diwaktu pagi seperti sekarang ini.
"Nak Hendra, sini duduk dekat istrimu," kata pak Rudi.
"Baik, Ayah."
"Halo, Kakak Ipar." Tantri menyapa Hendra sambil tersenyum sumringah.
Hendra tersenyum. "Halo juga Tantri."
"Sok akrab," bisik Tania, sambil menyikut adiknya.
"Bilang aja kamu iri," balas Tantri yang juga ikut berbisik sama seperti Tania barusan.
Sebelum Tasya duduk, terlebih dahulu dia mengambilkan sarapan di piring suaminya.
"Mau lauk apa ... Sayang?"
Tasya merasa malu-malu memanggil Hendra dengan panggilan 'sayang' di depan semua anggota keluarganya.
Hendra kembali tersenyum. Dia merasa sangat senang Tasya memanggilnya 'sayang' di depan banyak orang.
"Terserah kamu Sayang."
"Ciee ... sayang sayang," goda Tania dan Tantri bersamaan.
"Sudah, lanjutkan sarapan kalian. Jangan goda kakakmu," tegur bu Indah.
Yang lainnya hanya tersenyum bahagia melihat keduanya. Jika sudah seperti ini, pak Rudi dan bu Indah bisa berpikir tenang. Mereka tidak perlu lagi mengkhawatiran banyak hal saat anak dan menantu mereka tinggal di rumah yang berbeda.
Setelah selesai sarapan, Tasya bersiap-siap untuk berangkat ke tempat tinggal barunya bersama Hendra.
Hendra tadi sudah menjelaskan pada mertuanya kalau dirinya akan memboyong istrinya untuk tinggal di rumahnya pagi ini juga.
Pak Rudi dan Bu Indah tentu saja tidak keberatan akan hal itu. Toh sekarang Hendra sudah resmi menjadi suami anaknya, jadi tidak ada masalah.
Lagipula, jika mereka rindu pada Tasya, mereka bisa langsung berkunjung ke kediaman anak dan menantunya. Rumah Hendra dan Tasya tidak jauh, letaknya hanya di dusun sebelah. Jadi tidak butuh waktu lama jika mereka ingin berkunjung.
Sementara Tasya sedang bersiap-siap, Hendra dan pak Rudi beserta Tama sedang duduk berbincang-bincang di teras.
Tania dan Tantri hendak berangkat ke sekolah, mereka pun menjabat tangan Ayah, kakak dan kakak iparnya yang sedang duduk di teras saat itu.
Motor yang akan mereka kendarai sudah siap di halaman depan rumah. Kedua gadis itu bersekolah di sekolah yang sama, jadi mereka berangkat ke sekolah berboncengan.
Hendra berjalan menghampiri adik iparnya yang hendak melaju dengan motornya. Dia mengambil dua lembar uang pecahan seratus ribuan dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada Tania dan Tantri.
"Ini uang jajan untuk kalian."
Hendra memberikan masing-masing satu lembar pada kedua adik iparnya itu.
"Wah, asyik dapat uang jajan dobel." Tania terlihat sangat senang.
"Iya, Kak Tania. Enaknya punya kakak ipar. Terima kasih ya, Kakak Ipar," kata Tantri yang tidak kalah senangnya.
"Terima kasih, Kak Hendra," tambah Tania.
"Iya sama-sama. Kalian berangkatlah. Hati-hati di jalan."
Tidak lama kemudian, Tasya muncul dari balik pintu sembari menjinjing sebuah tas tempat pakaian berukuran sedang, disusul bu Indah yang berjalan di belakangnya.
Hendra membawa tas yang dibawa oleh istrinya tadi masuk ke dalam mobil sedangakan Tasya memeluk ibu dan ayahnya secara bergantian untuk berpamitan. Hendra menyusul setelah menyimpan tas tadi.
Pak Rudi dan bu Indah menitip pesan pada anak dan menantunya sebelum keduanya berangkat.
Tama merangkul bahu Tasya sembari mengantarnya keluar menuju mobil yang sudah siap di halaman depan rumah. Dan sesekali Tasya menggoda kakaknya itu mengenai hubungannya dengan Dewi.
"Jadi kapan Kak Tama dan Dewi akan menyusul kami ke pelaminan?"
"Jangan terburu-buru dulu, kami masih ingin saling mengenal lebih jauh satu sama lain." Tama menjawab dengan serius.
"Tapi jangan lama-lama ya, Kak."
"Iya. Doakan saja, semoga kami berdua cocok dan berjodoh."
...----------------...
Kini Hendra sudah melajukan mobilnya menuju rumah mereka. Kehidupan baru akan segera mereka berdua tempuh sebagai sepasang suami istri yang sah menurut agama dan hukum.
Tidak butuh waktu lama, sepasang suami istri itu sudah sampai di rumah mereka. Hendra memarkirkan mobilnya di dalam garasi. Setelah itu Hendra membuka pintu dan masuk ke dalam bersama istrinya.
"Selamat datang Nyonya Hendra di istana kita."
Hendra tersenyum dengan penuh semangat. Tangan kanannya merangkul bahu istrinya, sedangkan tangan kirinya menjinjing tas Tasya.
Tasya tersenyum. Aku gak pernah menyangka, dua minggu lalu aku datang ke rumah ini sebagai kurir pengantar makanan, dan sekarang aku kembali lagi ke sini sebagai istri kak Hendra.
Keduanya berjalan memasuki rumah dan berhenti tepat di depan tangga. Tasya melihat ke sekeliling, namun dia tidak menemukan sosok yang pernah dia temui di rumah itu saat dirinya pertama kali berkunjung ke rumah itu 2 minggu lalu.
"Bi Inah kemana, Sayang?" tanya Tasya.
"Bi Inah sedang libur. Aku memberikan dia waktu libur selama satu bulan," jawab Hendra.
"Satu bulan? Kenapa, kenapa lama sekali, Sayang?" tanya Tasya kebingungan.
"Iya. Supaya dia tidak mengganggu kita bermesraan."
Cup.
Ciuman Hendra langsung mendarat di pipi Tasya setelah dia menjawab pertanyaan istrinya.
Tasya membulatkan matanya. Wajahnya berubah merona menahan malu.
Apa? Bermesraan? Kamu gak punya kerjaan lain apa selain bermesraan denganku selama satu bulan ke depannya?
"Ayo kita naik Sayang, kamar kita ada di lantai atas."
Tasya mengangguk pelan. Mendengar kata 'kamar', seolah-olah tempat peristirahatan itu adalah ruangan yang sangat menyeramkan baginya.
Hendra menuntun istrinya menaiki anak tangga satu persatu. Setelah keduanya sampai di depan pintu kamar, Hendra kemudian mengambil kunci dari dalam sakunya celananya lalu membuka pintu kamar tersebut.
Setelah pintunya terbuka lebar, keduanya pun lalu masuk bersama ke dalam kamar tersebut.
Tasya melongo melihat isi kamar barunya. Wah, kamarnya luas banget. Sepertinya kamar ini luasnya setengah dari rumah ayah dan ibu.
Hendra menarik tangan Tasya untuk melihat-lihat isi kamar tersebut.
"Sayang, ini lemari riasmu. Temanku yang kemarin meriasmu itu yang membantu aku menyiapkan semua alat make up ini untukmu. Periksalah isinya, aku sangat berharap kamu menyukainya," jelas Hendra.
Tasya membuka pintu lemari riasnya satu per satu, dia merasa sangat penasaran dengan isinya.
"Kenapa banyak sekali, Sayang? Saya bahkan gak tau gimana caranya ber-make up dengan benar," tanya Tasya, sambil memeriksa alat-alat make up itu satu per satu.
Sebenarnya di dalam hatinya dia merasa sangat senang, bahagia, sekaligus terharu. Brand-brand make up yang ada di dalam lemari riasnya itu memang sudah dia impi-impikan sejak lama.
Salah satu hobby Tasya adalah make up, jadi dia sangat suka menonton tutorial make up di youtube.
Beauty vlogger sekaligus MUA profesional yang dia idolakan memang merekomedasikan brand-brand make up yang ada di dalam lemari riasnya tersebut.
"Soal itu, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan menyewa seseorang yang ahli dibidangnya untuk mengajarimu ber-make up," ujar Hendra, "apa kamu suka?" lanjutnya lagi bertanya.
Tasya mengangguk. "Terima kasih, Sayang."
"Kalau kamu benar-benar berterima kasih, beri aku tanda terima kasih." Hendra menunjuk pipinya meminta untuk dicium.
Tasya tidak berpikir panjang untuk mencium pipi suaminya. Dia memang merasa sangat senang dengan kejutan yang diberikan oleh Hendra. Tasya sama sekali tidak pernah membayangkan hal itu sebelumnya.