
"Tri! Tantri!" panggil Miko sambil menyusul langkah Tantri. Ia mengekor dibelakang Tantri hingga ikut masuk ke dalam kamar.
"Aku harus pergi, Kak." ucap Tantri lirih menahan tangis. Ia kemudian menarik kopernya yang belum sempat ia bongkar dan ingin bergegas pergi meninggalkan apartemen itu.
"Kamu mau pergi kemana, hem? Ini sudah malam dan kamu juga belum tahu seluk beluk di daerah sekitar sini. Apa kamu tidak takut tersesat?" tanya Miko sambil menghadang langkah Tantri.
"Nggak apa-apa, Kak. Aku pergi kemana aja yang penting pergi dari sini," jawab Tantri sembari menunduk. Ia tidak mau menatap pria yang sedang menghadang langkahnya itu.
Hati Miko terasa perih dan ngilu bagai tercabik-cabik mendengar jawaban yang keluar dari mulut Tantri. Ia merasa iba sekaligus merasa sangat bersalah pada gadis itu. Sebagai seorang laki-laki, ia merasa seperti seorang pengecut dan tidak bertanggung jawab. Ia merasa dirinya seperti seorang pecundang yang tidak becus menjaga dan melindungi gadis yang ia cintai.
"Tolong, jangan pergi! Apa yang harus aku katakan pada keluargamu kalau kamu pergi meninggalkan tempat ini?" Miko ingin membujuk gadis itu agar tidak sampai pergi meninggalkan kediamannya.
"Nggak, Kak. Aku harus pergi. Biar aku yang menjelaskan semuanya pada mereka nanti," ucap Tantri lirih. Tidak terasa buliran bening yang menggantung di pelupuk matanya sedari tadi akhirnya terjatuh juga. Miko yang melihat gadis yang dicintainya itu menangis dihadapannya merasa sangat tidak tega. Ia pun kemudian memeluk tubuh mungil gadis itu. Hatinya benar-benar diselimuti rasa bersalah.
"Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari bibir ranum milik pria dewasa itu. Di peluknya gadis itu dengan sangat erat. Semakin lama semakin erat. Rasanya ia tidak rela jika gadis itu harus pergi meninggalkan kediamannya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang-orang di kampung jika sampai mengetahui hal tersebut. Apalagi jika nanti sampai terjadi apa-apa pada Tantri setelah gadis itu meninggalkan tempat tinggalnya. Pastinya semua orang akan menyalahkannya dan tidak akan ada yang mau mempercayai dirinya lagi. Itu yang sangat ditakutkan oleh Miko.
Tantri begitu terkejut saat Miko memeluknya. Baru kali ini ia dipeluk oleh lawan jenis selain ayah dan kakak kandungnya. Ia tidak mampu berkata apa-apa lagi. Ia hanya terdiam saat Miko memeluknya tanpa ia membalas perlakuan pria itu sedikitpun. Sebenarnya ia ingin menolak. Tapi disaat seperti ini ia memang benar-benar sedang butuh tempat bersandar. Hanya air matanya saja yang mengalir dengan derasnya saat Miko membenamkan wajahnya di dada bidang milik laki-laki itu.
Tantri menangisi nasibnya yang menurutnya kurang beruntung. Apa salahku, pikirnya. Ingin sekali rasanya ia kembali ke kampung halamannya detik itu juga. Ia sangat merindukan sosok ibu, ayah dan kakak-kakaknya yang selalu mensupport dikala ia sedang terpuruk disaat seperti ini.
"Apa yang sedang dilakukan kedua anak itu didalam sana? Kenapa mereka belum keluar juga sampai sekarang?" batin Bu Melda. Ia merasa gelisah menanti Miko dan Tantri keluar dari kamar. Ia pun memutuskan untuk menghampiri keduanya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendapati Tantri menangis dipelukan Miko.
"Ck, ck. Apa kalian sedang bermain drama-dramaan?" Pertanyaan Bu Melda sontak membuat kedua insan itu melepas pelukannya. Tantri menyeka air matanya menggunakan ujung kain penutup kepalanya. Sebisa mungkin ia berusaha untuk berhenti menangis. Ia tidak boleh cengeng, pikirnya.
Miko yang menyadari keberadaan mamanya segera menggenggam tangan Tantri dengan erat. Ia benar-benar tidak rela jika gadis itu pergi meninggalkan apartemennya.
"Maksud, Mama?" tanya Miko bingung.
"Kalian berdua jangan salah paham dulu. Mama hanya ingin mengajak, Tantri untuk tinggal bersama Mama dan Papa dirumah. Sudah lama kami merasa sangat kesepian karena sampai saat ini kamu masih bersikeras tidak mau kembali ke rumah. Jadi, Mama pikir tidak ada salahnya kalau Mama mengajak, Tantri untuk tinggal bersama kami. Mama juga tidak mau kalian tinggal berdua disini. Apa kata orang nanti? Bisa-bisa orang lain mengira kalau kalian berdua kumpul kebo di apartemen ini. Mama tidak ingin hal itu sampai terjadi. Selain mencoreng nama baik keluarga, hal itu juga akan memberikan dampak negatif pada bisnis-bisnis keluarga kita ke depannya." jelas Bu Melda panjang lebar.
"Maaf, Ma. Ini semua salah, Miko." ucap Miko sembari menunduk. Ia menyadari kesalahannya. Rasa cintanya yang teramat besar pada gadis itu membuatnya lupa akan hal negatif yang mungkin saja bisa terjadi kalau mereka tinggal berdua dibawah satu atap. Bagi Miko, asalkan ia bersama dengan gadis itu, hari-hari yang ia lalui pasti akan terasa bahagia dan penuh warna. Ia terlalu mengedepankan egonya yang ingin selalu bersama dengan gadis itu setiap saat.
"Tantri! Sini sayang. Kamu ikut pulang ke rumah Tante." ajak Bu Melda. Tantri menatap Miko seolah meminta persetujuan pria itu. Miko yang seolah mengerti isi pikiran gadis itu sedikit menganggukkan kepalanya pertanda setuju meskipun dengan berat hati.
"Aku pamit dulu yah, Kak."
"Hem." balas Miko. Tantri pun kemudian berjalan ke arah Bu Melda.
"Ayo kita pulang ke rumah!" ajak Bu Melda sembari merangkul bahu Tantri untuk membawanya pergi meninggalkan apartemen Miko. Bu Melda pergi begitu saja tanpa pamit pada anaknya. Miko yang melihat hal itu dibuat kesal.
"Ck, Mama main pergi begitu saja tanpa pamit dan tanpa mengajakku juga untuk ikut pulang ke rumah bersama mereka." gumam Miko sambil berdecak kesal. Ia pun kemudian masuk kedalam kamarnya.
Diatas tempat tidurnya, Miko duduk sambil terlihat memikirkan sesuatu. Setelah berpikir beberapa saat, ia pun kemudian menyambar koper dan kunci mobilnya. Ia memutuskan untuk kembali ke kediaman orang tuanya. Sebenarnya ia masih sedikit ragu untuk kembali ke rumah tempat ia dibesarkan, setelah hampir 5 tahun ia minggat dari rumah. Tapi demi selalu dekat dengan gadis pujaan hatinya, ia harus menyingkirkan egonya itu.
Sebenarnya bukan sepenuhnya gara-gara Tantri.
Tadi, saat Miko mendengar Bu Melda mengatakan kalau ia dan suaminya merasa kesepian setelah kepergian anaknya itu. Hati Miko terasa terenyuh. Ia membayangkan betapa menyedihkan kehidupan orang tuanya beberapa tahun terakhir. Hal itu membuat Miko sadar akan keegoisannya. Maka semakin kuatlah alasan untuk ia kembali ke rumah orang tuanya. Mungkin inilah saatnya ia memperbaiki hubungannya dengan papanya yang telah renggang selama beberapa tahun terakhir.