
Radit mengangguk, ia merasa senang karena Tania mau menyuapinya tanpa ia minta. Radit pun lalu menggigit sandwichnya sambil matanya menatap lekat wajah Tania.
"Kenapa liatin aku kayak gitu?" tanya Tania. Ia merasa malu karena Radit menatapnya terus-menerus.
"Kamu cantik sayang." jawab Radit setelah menelan makanan dimulutnya.
"Hem ... gombal lagi, gombal lagi. Ayo, makan yang banyak supaya kamu cepat sembuh dan banyak tenaga buat gombalin aku." ujar Tania.
"Itu lagi." ucap Radit.
"Hah? Apanya?" tanya Tania kurang mengerti dengan ucapan Radit.
"Kata-katanya. Kreatif dikit kek." canda Radit sambil tertawa kecil mengingat kejadian beberapa waktu lalu dirumah Hendra dan Tasya.
"Cih, ayo buka mulut." perintah Tania sembari ikut tertawa. Radit pun memakan sandwichnya sampai habis. Setelah itu Tania memberikan obat untuknya.
"Oh iya Dit. Kata Kak Hendra, Tante Risna sampai disini siang ini." ujar Tania.
"Eh, masa? Aku kira mama berangkatnya besok sama papa sama yang lainnya juga." ucap Radit.
"Pasti tante Risna berangkat lebih awal karena khawatir sama kamu." kata Tania.
"Memangnya siapa yang kasih tau kalo aku lagi sakit?" tanya Radit.
"Aku juga kurang tau. Soalnya aku nggak nanya tadi sama Kak Hendra." jawab Tania.
"Oh. Mungkin tante Arini yang beritahu mama." tebak Radit.
"Bisa jadi. Oh iya Dit. Gimana caranya kamu pindahin aku ke tempat tidur tadi malam?" tanya Tania penasaran.
"Nggak. Aku nggak mindahin kamu kok. Kamunya sendiri yang jalan tadi malam sambil merem ke tempat tidur aku. Karena aku takut terjadi sesuatu yang nggak-nggak, aku pindah aja tidur di sofa." canda Radit tapi dengan mimik muka serius.
"Masa sih Dit? Aku nggak percaya. Aku nggak pernah kayak gitu loh sebelumnya, jalan pas lagi tidur. Pasti kamu gendong aku kan, iya kan? Ayo ngaku aja." ujar Tania menyelidik.
"Nggak. Beneran Nia. Kamu bahkan meluk-meluk aku tadi malam." bohong Radit masih dengan ekspresi wajah yang sama.
"Nggak. Aku nggak percaya. Kamu pasti bohong. Aku nggak mungkin kayak gitu." bantah Tania mulai kesal.
"Dan yang lebih parahnya lagi, kamu bahkan nyium-nyium aku sambil bilang, Radit, aku sayang banget sama kamu. Emmuah muah muah. Gitu." jelas Radit sambil memperagakan gaya bicara Tania.
Radit semakin senang menggoda Tania melihat wajah Tania yang merona karena malu bercampur kesal. Bagi Radit, Tania semakin menggemaskan dengan blush on alaminya.
"Nggaaak. Kamu pasti bohong. Aku nggak percaya." teriak Tania sambil memukul lengan Radit lalu beranjak meninggalkan Radit. Radit terkekeh karena berhasil mengerjai Tania lagi.
"Hei, kamu mau kemana Nia? Nia." panggil Radit yang melihat Tania berjalan menuju pintu.
"Aku mau balik ke kamarku." jawab Tania ketus.
"Yah itu karena kamunya udah baikan. Iya kan? Buktinya itu tadi, kamu bahkan masih bisa menertawaiku." ujar Tania cemberut sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Iya deh, aku minta maaf. Aku cuma bercanda tadi. Sini dong sayang." ucap Radit membujuk Tania sambil menepuk kasur yang diduduki Tania tadi. Tapi Tania tidak bergeming, ia masih tetap berdiri mematung di tempatnya.
"Sini dong Nia. Nia sayang ..." panggil Radit. Tania membuang mukanya mendengar Radit memanggilnya.
"Yah udah, kalo kamu nggak mau jalan sendiri kesini, biar aku gendong kamu seperti tadi malam."
"Mana kamu berat banget lagi." canda Radit sengaja membuat Tania semakin kesal padanya.
Tania membelalakkan matanya kesal mendengar ucapan Radit yang begitu sensitif ditelinganya. Dan mungkin bukan hanya Tania, tapi sebagian besar kaum hawa juga pasti merasa tersinggung dengan kata-kata tersebut. (Auto nyari timbangan😂)
"Oh ... jadi kamu ngatain aku gendut, gitu? Setelah kamu ngambil kesempatan gendong aku qwaktu aku lagi tidur, kamu malah ngatain aku gendut. Huh, dasar cowok nyebelin." ucap Tania mendengus kesal lalu membuang mukanya.
Radit mengulum senyumnya mendengar ucapan Tania sambil berusaha bangkit dari tempat tidur.
Tiba-tiba, "Bruk."
Radit sengaja menjatuhkan dirinya ke lantai.
"Aduh." ucap Radit mengaduh membuat Tania mau tidak mau harus menoleh ke arah Radit.
"Radiiit." pekik Tania. Seketika ia panik dan segera berlari menolong Radit.
"Yah ampun Dit. Kalo kamu belum kuat, nggak usah bangun. Jangan dipaksain." ujar Tania seraya membantu Radit naik kembali ke tempat tidur.
"Mana yang sakit? Hah?" tanya Tania mencoba mengecek, apakah ada luka ditubuh Radit atau tidak.
"Haha. Ternyata pura-pura lemah bisa juga dijadikan senjata buat mendapatkan perhatian gadis keras kepala dan ambekan ini. Nia, Nia. Kamu lucu sekali. Aku makin gemes." batin Radit.
"Nggak ada. Aku nggak apa-apa kok." jawab Radit.
"Masa? Terus, ngapain tadi kamu bangun?" tanya Tania.
"Itu karena kamunya lagi ngambek tadi. Jadi, aku berusaha sekuat tenaga buat bangun mau bujuk kamu. Aku nggak kuat kalo kamu marah sama aku Nia." jelas Radit.
"Maaf deh. Tapi itu kan karena kamunya juga yang nyebelin." ucap Tania membela diri sambil memanyunkan bibirnya.
"Yah udah deh, aku juga minta maaf kalo gitu. Aku cuma bercanda tadi. Beneran. Kamu mau kan maafin aku Nia?" tanya Radit.
"Iya, iya aku maafin. Kalo gitu kamu istirahat aja lagi yah, Dit." ujar Tania. Radit mengangguk.
"Tapi kalo nanti aku tidur, kamu jangan kemana-mana yah. Kamu temenin aku disini." kata Radit sambil merebahkan tubuhnya.
"Iya. Kamu tenang aja." balas Tania sambil tersenyum.