
Radit terus membuntuti Tania kemanapun Tania pergi. Sesekali Tania berbalik dan melotot ke arah Radit. Sorot matanya tajam seperti hendak mencincang-cincang Radit saja. Namun Radit tidak mempedulikan hal tersebut. Berkali-kali Tania mempelototinya, berkali-kali juga ia membalasnya dengan melemparkan senyuman manis tanpa dosa ke arah Tania.
Tania semakin geram dan gemas melihat kelakuan Radit tersebut. ia pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari tempat resepsi tanpa berbicara sepatah katapun pada Radit. Karena tanpa diminta pun Radit akan tetap mengikutinya kemana pun ia pergi.
Tania berjalan keluar menuju tempat yang sepi yang ia rasa aman untuk ia tempati berbicara dengan Radit tanpa perlu khawatir ada yang melihat ataupun mendengar perbincangan mereka. Sesampainya di tempat tersebut, ia pun lalu berbalik menghadap ke arah Radit sambil melipat kedua tangannya didada.
"Mau kamu apa sih, Dit? Apa kata-kataku tadi belum cukup jelas, hah?" tanya Tania ketus.
"Nia, ayo kita bicarakan masalah kita ini baik-baik. Kamu itu cuma salah paham, Nia." ujar Radit mencoba membujuk Tania seraya mendekat ke arahnya.
"Jangan mendekat! Jaaangan mendekat!" seru Tania menekankan ucapannya.
"Nia, jangan marah dong, sayang. Dengerin aku dulu."
Tania menatap Radit dengan tatapan yang sangat tajam. Ia sudah capek memperingati Radit untuk tidak memanggilnya dengan panggilan tersebut. Tapi Radit tidak mengindahkan peringatan Tania. Ia tidak menerima diputuskan secara sepihak oleh Tania. Apalagi Tania memutuskannya hanya karena salah paham.
"Baiklah, baiklah, oke! Sekarang kamu tenang yah. Kamu tau sendiri, kan? Marah nggak akan menyelesaikan masalah. Ayo kita selesaikan masalah kita ini dengan kepala dingin."
Tania diam. Ia masih tetap pada posisinya semula sambil ia membuang mukanya kearah samping. Ia tidak mau menatap Radit karena ia merasa sangat muak pada kekasihnya tersebut.
"Nia, tolong dengarkan aku baik-baik, yah! Aku akan menjelaskan semuanya, alasan kenapa aku melakukan semua itu,"
"Aku mengaku salah. Tapi itu nggak seperti yang kamu liat. Aku cuma akting doang, Nia. Aku sengaja. Aku beneran cuma pengen liat kamu cemburu atau nggak kalo aku dekat sama cewek lain. Daaan, ternyata berhasil." jelas Radit diiringi senyum tipis diakhir kalimatnya.
"Rese banget sih." gumam Tania.
Radit tersenyum. Ia masih bisa mengerti ucapan Tania meskipun Tania hanya bergumam.
"Nia, aku tau kamu juga sayang sama aku. Makanya kamu semarah ini waktu kamu liat aku sama cewek lain. Iya, kan?"
"GR." ucap Tania seraya masih mempertahankan posisinya tadi.
"Oke! Kalo kamu masih nggak mau ngaku juga. Nggak apa-apa. Yang jelas, aku udah tau perasaan kamu ke aku itu sebenarnya seperti apa,"
"Asal kamu tau, aku ngelakuin itu karena aku nggak suka ada orang ketiga diantara hubungan kita. Aku nggak mau kamu ninggalin aku demi dia. Aku nggak rela, Nia. Aku nggak sanggup, aku cemburu sama orang itu,"
"Hei! Omong kosong macam apa ini? Mana ada orang ketiga diantara hubungan kita? Kamunya aja yang cemburuan. Huh, dasar!"
"Dan, aku yakin, kamu juga pasti tau itu. Kamu juga tau sendiri, kan? Bahkan aku rela sakit demi nggak liat kamu dekat-dekat sama orang itu." jelas Radit.
"Siapa suruh kamunya cemburuan? Akibatnya gitu, kan? Eh, eh, tunggu dulu! Apa aku juga cemburuan seperti, Radit? Ah sudahlah, aku nggak peduli."
"Nia, kamu mau kan maafin aku?" tanya Radit dengan wajah memelas.
Tania masih tidak bergeming. Ia masih bertahan dengan posisi dan sikap keras kepalanya.
"Niaaa, Tania! Jawab aku dong, aku udah ngejelasin semuanya sama kamu. Dan aku sama sekali nggak bohong. Aku jujur sama kamu, Nia. Aku nggak ngarang sedikit pun." jelas Radit.
Radit sangat berharap Tania mau memaafkannya.
Secara perlahan Tania menggerakkan kepalanya dan menatap kearah Radit.
"Sepertinya Radit emang nggak bohong." batin Tania.
"Baik, aku maafin,"
Radit merasa sangat senang sekali karena akhirnya Tania mau memaafkannya. Terpancar jelas raut kebahagiaan diwajah pemuda itu.
"Benarkah? Aku seneng banget, Nia."
"Iya, aku minta maaf banget untuk yang satu itu. Sebenarnya aku juga nggak sengaja. Aku ngelakuin itu refleks karena aku nggak sanggup dengerin kata-kata putus itu dari mulut kamu. Aku nggak mau pisah sama kamu, aku sayang banget sama kamu." balas Radit.
"Nia, kamu boleh ngehukum aku sesuka kamu. Aku akan ngelakuin apapun asal kamu mau maafin aku."
"Beneren nih? Yakin?" tanya Tania.
"Iya, sayang. Apapun akan aku lakuakan asal kamu nggak marah lagi sama aku." jawab Radit.
"Hehe. Aku punya ide. Bagus kali yah kalo aku bikin Radit kesel dulu. Siapa suruh dianya nyebelin banget."
"Mm, termasuk ngerelain aku samaaaa," goda Tania.
Radit terkejut dan marah mendengarkan ucapan Tania. Spontan ia mendorong Tania dan membenturkan tubuh Tania ke tembok dan mengurungnya menggunakan kedua tangannya.
Tania tersentak kaget melihat reaksi Radit yang begitu berlebihan menurutnya. Ia jadi gugup sekaligus takut dibuatnya. Ia takut kalau Radit nekat melakukan hal yang sama seperti tadi pagi. Ia sekarang mengerti, kalau kata-kata seperti itu begitu sensitif ditelinga Radit. Padahal niatnya tadi cuma bercanda, ia hanya ingin menggoda Radit dan membuatnya kesal. Ia tidak menyangka kalau Radit akan memberikan reaksi yang semenyeramkan itu kalau lagi marah.
"Ka kamu mau apa, Dit?" tanya Tania gugup.
"Nia, kalo kamu nggak mau aku ngulangin kejadian tadi pagi. Aku mohon! Kamu harus jaga ucapan bibir kamu ini. Karena kalo nggak, bibir ini juga yang harus bertanggung jawab," jelas Radit seraya mengangkat dagu Tania dan mengusap bibir mungil Tania menggunakan ibu jarinya.
"Aku nggak yakin, dan aku juga nggak bisa janji. Kalo aku marah, mungkin aku bisa ngelakuin hal yang lebih berani dari tadi pagi." jelas Radit lagi.
"Apa dia sedang mengancamku?" batin Tania.
"Ma maksud kamu apa, Dit? Kamu kenapa jadi marah begitu? Aku kan tadi cuma bercanda, beneran." jelas Tania gugup sekaligus takut. Ia mencoba menenangkan Radit.
"Kamu itu cuma boleh jadi milik aku, Nia. Seluruh yang kamu punya ini hanya aku yang boleh milikinya seorang. Nggak boleh disentuh orang lain meskipun hanya secuil,"
"Hatimu ini hanya boleh mencintaiku seorang. Dan mata ini hanya boleh memandangku saja," ujar Radit.
Radit berujar seraya menunjuk dada dan mata Tania.
"Hei! Apa hakmu mengatur-ngaturku seperti itu? Dasar!" batin Tania kesal.
Tania hanya mengungkapkan unek-uneknya dalam hati. Ia tidak mengatakannya secara langsung pada Radit. Ia takut Radit semakin marah padanya dan berbuat nekad.
"Aku yakin, matamu ini pasti akan betah menatapku saja. Secara calon suamimu ini sangat tampan nan rupawan." ujar Radit tersenyum seraya melepaskan kurungan tangannya.
"Ampun dah, jiwa narsisnya kumat lagi. Radiiit, Radiit. Ganteng sih emang, ganteng banget malah. Tapi aku nggak boleh nurut dan luluh begitu aja, aku harus menyuruh Radit melakukan sesuatu untukku." batin Tania.
"Baik. Aku akan melakukan semua yang kamu ucapkan barusan. Asalkan, kamu mau melakukan sesuatu untukku."
"Memangnya kamu mau aku melakukan apa, Nia?"
"Terserah kamu. Yang penting sesuatu yang bisa bikin aku percaya lagi sama kamu. Sesuatu yang bisa membuat aku percaya, kalo kamu itu cuma sayang sama aku."
"Baik. Kalau itu maumu, sayangku. Akan aku tunjukkan padamu nanti."
***
Pukul 16:00
Fathur dan dr. Fani tiba di hotel tempat Tasya dan Hendra menyelenggarakan resepsi. Mereka tidak jadi berangkat tadi siang karena Fathur sedang ada rapat penting dengan klien yang tidak bisa ditunda. Mereka pun lalu memutuskan untuk berangkat setelah rapatnya selesai.
Sesampainya di depan pintu masuk tempat resepsi, Fathur tidak memperhatikan nama kedua mempelai yang terpampang didepan sana. Ia juga tidak pernah menanyakan kepada istrinya siapa nama teman Fani yang tengah mereka hadiri pesta pernikahannya.