
Jonathan membalikkan badannya hendak keluar. Sebelum ia keluar, terlebih dahulu ia mengarahkan pandangannya ke arah Tantri yang sedang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri. Laki-laki itu menyunggingkan senyum tipis sembari beranjak keluar meninggalkan ruangan itu. Entah apa yang ada didalam pikirannya.
"Kenapa tadi, Kak Miko mengakui kalau aku ini adik sepupunya, Kak Miko?" tanya Tantri saat Jonathan sudah hilang ditelan pintu.
"Sebaiknya memang begitu karena aku tidak mau orang lain berpikir yang macam-macam kalau nanti mereka sering melihat kita datang bersama ke tempat ini. Apalagi kalau mereka sampai tau kalau kita tinggal dirumah yang sama. Kalau sudah mengaku seperti itu kan tidak akan ada lagi yang curiga. Apalagi sampai berpikir yang tidak-tidak," jelas Miko.
"Oh, jadi seperti itu." ucap Tantri mengerti sambil menganggukkan kepalanya.
"He'em."
"Berarti mulai besok aku harus memanggil, Kak Miko dengan panggilan Pak Miko," ucap Tantri sembari terkekeh.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Nggak Kok, Kak. Lucu aja,"
"Ck, anak ini. Kamu sepertinya sedang meledekku. Yang aneh itu kalau kamu memanggilku dengan panggilan sayang,"
"Hah?!" Tantri sempat melongo kemudian tawanya kembali pecah.
"Tidak, Pak. Saya tidak sedang meledek, Anda." ucap Tantri lalu kembali tertawa lepas. Ia merasa lucu berbicara formal pada Miko seperti itu.
"Itu, apa namanya kalau bukan meledek?"
"Aku lagi nggak ngeledek, Kak. Aku cuma lagi belajar bersikap profesional aja." jawab Tantri.
"Tok tok tok."
"Masuk!" teriak Miko. Tidak lama kemudian, 3 orang karyawan laki-laki ditemani oleh Jonathan muncul dari balik pintu sambil mengangkat satu buah meja dan kursi masuk kedalam ruangan itu.
"Letakkan disini," titah Miko sambil menunjuk lantai di samping meja kerjanya.
"Baik, Pak." Ketiganya lalu meletakkan meja dan kursi itu ditempat yang ditunjuk oleh bos mereka. Setelah selesai, mereka berempat segera meninggalkan ruangan itu.
"Kak Miko! Meja dan kursinya buat apa?" tanya Tantri penasaran.
"Ini meja kerja kamu nanti," jawab Miko.
"Hah?!" Tantri kembali melongo mendengar jawaban laki-laki itu. Sungguh tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tantri pikir dirinya akan ditempatkan diruangan lain. Misalnya di ruangan Manager contohnya. Atau paling tidak bekerja sebagai kasir. Kan jurusannya berhubungan dengan menghitung-hitung uang.
"Tapi kenapa mejanya di simpan disitu, Kak? Kenapa bukan disitu?" tanya Tantri sambil menunjuk ke arah dekat pintu. Ia berharap meja kerjanya di letakkan disana. Bukan tepat disamping meja kerja Miko karena rasanya sedikit aneh.
"Tantri, ini perintah. Siapa yang berani menentang perintah atasannya disini? Mulai besok kamu tidak boleh menentang semua perintahku. Kamu hanya boleh berkata ya pada semua yang aku perintahkan. Tidak boleh tidak. Karena mulai besok aku akan jadi bosmu disini." ucap Miko sedikit menyombongkan diri.
"Iya, iya, Bapak Miko Setiawan yang terhormat. Anda adalah bos besarnya disini." jawab Tantri pasrah sambil membaca papan nama yang terpampang di meja kerja Miko. Laki-laki itu hanya tergelak mendengarkan ucapan gadis yang berada didalam satu ruangan dengannya.
"Oh iya, bawa salinan laporan keuangan ini pulang ke rumah. Kalau ada yang tidak kamu mengerti, tanyakan saja padaku."
"Baik, Pak. Saya akan menjalankan semua perintah Anda."
Tidak berselang lama, menu makan siang mereka sudah datang. Mereka berdua pun kemudian makan bersama di sofa panjang tempat Tantri duduk.
...----------------...
2 Bulan telah berlalu semenjak Tantri magang di restoran mewah milik Miko. Gadis itu sudah memiliki banyak teman disana karena ia memang tipe orang yang sangat mudah bergaul dengan orang baru. Tidak ada yang berani berbuat tidak sopan padanya karena yang diketahui oleh semua karyawan disana kalau dirinya adalah adik sepupu atasan mereka.
Selama beberapa minggu terakhir, Jonathan selalu berusaha melakukan pendekatan pada gadis itu. Sepertinya manajer itu menaruh hati pada Tantri. Hari itu Jonathan berencana mengajak Tantri untuk jalan di hari libur.
"Tantri!" panggil Jonathan sambil berlari kecil menghampiri gadis itu.
"Iya, Pak Jo. Ada apa?"
"Mm ... hari minggu nanti, apa kamu punya kegiatan?"
"Sepertinya tidak ada, Pak. Memangnya ada apa, Pak Jo menanyakannya?" tanya Tantri penasaran.
"Akuuu, aku ingin mengajak kamu jalan kalau kamu tidak keberatan,"
"Jalan? Mm ... bagaimana yah?" Tantri nampak berpikir.
"Tidak perlu kamu jawab sekarang. Aku memberimu waktu 3 hari untuk menjawab. Aku tunggu jawaban kamu hari sabtu. Ok!" ujar Jonathan lalu segera berlari meninggalkan Tantri karena ia masih punya banyak pekerjaan di ruangannya.
"Tapi, Pak," teriak Tantri namun Jonathan sudah keburu masuk ke ruangannya.
"Yah, main pergi pergi begitu aja." ucap Tantri sembari mendengus.
"Astaga! Aku hampir lupa kalau Pak Miko menyuruhku membuatkannya kopi," ucap Tantri sambil menepuk pelan jidatnya sendiri. Ia pun kemudian berjalan dengan cepat menuju dapur restoran.
Saat Tantri berada di tempat kerja, ia memanggil Miko dengan sebutan 'Pak' dan berbicara dengan atasannya itu menggunakan bahasa formal. Sedangkan jika mereka sedang berada dirumah atupun diluar jam kerja, ia memanggil dan berbicara dengan Miko seperti biasanya.
Selain menjadi siswa magang, Tantri juga berprofesi sebagai asisten pribadi si empunya restoran. Setiap bulan, gadis itu mendapatkan bayaran atas profesinya itu. Gajinya juga tidak main-main. Miko menggajinya seperti seorang asisten pribadi yang sudah profesional. Gadis itu merasa sangat senang sekali karena ia bisa menghasilkan uang sendiri.