
Makanan lezat nan menggugah selera sudah tersaji di meja makan. Siapapun yang melihat pasti akan merasa lapar. Begitulah yang terjadi pada Radit dan Tania siang itu. Jam sudah menunjukkan sudah masuk waktunya makan siang. Tapi yang punya rumah belum juga muncul batang hidungnya.
"Emm ... kelihatannya sangat enak." ucap Radit seraya menarik kursi untuk duduk disamping Tania.
"Kok mereka nggak turun-turun sih Dit? Aku udah laper banget nih." ucap Tania sambil mengelus-elus perutnya.
"Mereka masih sibuk kali bikinin kita ponakan." ucap Radit sembari terkekeh.
"Masa sih? Tapi kok nggak selesai-selesai juga sampai sekarang?" tanya Tania polos.
"Aku juga nggak tau. Mungkin emang gitu kali, butuh proses lama buat bikin sebelah kupingnya doang." ucap Radit seraya terkekeh kembali.
"Oh, gitu yah. Ribet juga yah ternyata." ucap Tania dengan polosnya.
"Kamu nanti bakalan tau, ribet apa nggaknya, kalau kamu udah nikah sama aku." goda Radit sambil menaik turunkan alisnya.
"Ih, genit sih kamu Dit?" ucap Tania. Radit hanya terbahak mendengar ucapan Tania.
"Apa jangan-jangan mereka ketiduran kali yah? Mungkin bagusnya aku chat Kak Tasya aja, bilang kalo makan siangnya udah siap." usul Tania.
"Ide bagus Nia. Itu lebih baik ketimbang kita harus naik ketuk pintu kamar mereka. Tau-taunya nanti kita denger suara yang aneh-aneh lagi." ucap Radit setuju dengan usulan Tania.
"Yah udah deh kalo gitu." putus Tania lalu mengetik pesan untuk kakaknya.
Dikamar Hendra & Tasya.
"Ting." Sebuah pesan masuk di ponsel Tasya.
"Siapa sih? Ganggu orang, ikhtiar aja." ucap Hendra kesal dengan napas ngos-ngosan.
"Em, ah. Tu tunggu sebentar sayang. Ja jangan-jangan itu pesan dari Tania." ucap Tasya sambil meraih handphonennya.
Hendra lalu kembali melanjutkan kegiatannya, ia tidak mau pertempuran ronde keduanya terganggu hanya karena sebuah pesan yang masuk di handphone istrinya.
"Sa sayang mereka ngajakin kita makan siang." ucap Tasya.
"Aah ... suruh aja mereka ... makan siang, duluan. Aku ... aku masih lama, sayang." ujar Hendra yang masih sibuk me****a milik istrinya.
Tasya pun kemudian membalas pesan Tania dan menyuruhnya makan duluan bersama Radit.
Diruang Makan
"Kita disuruh makan duluan Dit." kata Tania setelah membaca pesan dari kakaknya.
"Yah udah. Aku juga udah laper." ujar Radit.
Tania pun mengambilkan nasi dipiringnya dan dipiring Radit.
"Lauknya kamu ambil sendiri yah Dit. Aku nggak tau kamu mau makan apa." ucap Tania.
"Ambilin dong Sayang. Biar aku tunjuk." tutur Radit dengan nada manja.
Raditpun menunjuk ayam pedas manis buatan Tania, tumis labu siam jagung manis buatannya beserta perkedel jagung dan sambal buatan nyonya rumah. Tania mengambil semua lauk yang ditunjuk oleh Radit.
"Kalo gini, kita kayak sepasang suami istri yah, Nia." ucap Radit sembari tersenyum senang.
"Ini, makanlah!" seru Tania. Ia tidak menggubris ucapan Radit barusan.
"Suapin dong. Kan lukaku masih sakit." ujar Radit sambil tesenyum manja.
"Dit ... Makan tuh pakai tangan, bukan pakai jidat. Kamu bisa kan makan sendiri? Aku juga udah laper banget tau dari tadi." ucap Tania kesal.
"No, no, no. Nggak ada bantahan. Kamu harus nyuapin aku Nia. Kan kamu juga yang udah bikin aku kayak gini. Jadi kamu harus tanggung jawab. Kamu harus nyuapin aku sampe aku kenyang." ucap Radit sambil menunjuk lukanya yang sudah diperban.
Radit tersenyum penuh kemenangan didalam hatinya karena Tania pasti tidak punya alasan lagi untuk menolak kemauannya.
"Tadi katanya salah sendiri. Sekarang malah nyalahin. Bilang aja modus. Ayo buka mulut." ucap Tania sambil mendumel, ia pun lalu menyuapi Radit.
"Emm ... enak banget. Nia, kamu juga harus coba masakan aku." ujar Radit sambil mengarahkan makanan ke mulut Tania menggunakan sendok.
Tania lalu membuka mulutnya, dia tidak mau banyak drama lagi karena cacing di perutnya sudah berdemo dari tadi minta di isi. Mata Tania terbuka lebar setelah merasakan masakan Radit dilidahnya. Seketika senyumnya juga ikut mengembang.
"Gimana rasanya? Enak nggak?" tanya Radit.
"Emm ... Enak banget Dit." jawab Tania sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Namanya juga masak pakai cinta. Yah pastinya enak lah." balas Radit.
"Kamu beneran pintar masak Dit. Aku beneran nggak nyangka loh." puji Tania.
"Radit gitu loh. Masakan kamu juga enak." ucap Radit balik memuji masakan Tania.
"Sesuai ucapanku tadi, sekarang aku akan makan banyak. Kamu juga harus makan yang banyak Dit, supaya luka kamu cepat sembuh." tutur Tania.
Radit sangat bahagia karena Tania menyukai masakannya.
"Nia." panggil Radit.
"Hm." gumam Tania karena masih ada makanan di mulutnya.
"Aku sayang banget sama kamu Nia." ucap Radit sambil menatap dalam kedua iris mata Tania.
Tania terdiam. Ia bisa melihat kesungguhan dimata laki-laki yang mencintai dan menyayanginya tersebut.
"Aku harap suatu saat nanti, kamu juga bisa sayang sama aku. Seperti aku sayang sama kamu." ucap Radit penuh harap.
"Ayo cepetan buka mulut. Makan yang banyak supaya kamu cepat sembuh dan punya banyak tenaga buat ngegombal." ucap Tania sambil mengarahkan makanan ke mulut Radit.
"Aku nggak gombal Nia, aku sungguh-sungguh." jelas Radit.
"Iya, iya, aku tahu. Ayo cepetan buka mulut. Aaa." ucap Tania lalu menyodorkan makanan ke mulut Radit sambil menganga. Mereka pun lalu makan bersama sampai kenyang.