How To Love You

How To Love You
Bab 160



Tasya terkejut mendengarkan ucapan suaminya. Ia bingung, ia merasa tidak melakukan kesalahan apa-apapun. Kenapa mesti dapat hukuman? Pikir Tasya.


"Di hukum, memangnya aku salah apa, sayang?" tanya Tasya.


"Kesalahan kamu adalah, kamu sudah sembarangan memperjakan orang dirumah kita." jawab Hendra.


"Loh, memangnya ada aturannya sayang?" tanya Tasya lagi.


"Iya, ada. Syarat utama untuk menjadi pembantu dirumah ini adalah, orang tersebut harus berusia minimal 40 tahun." jelas Hendra menekankan ucapannya.


"Hah?! Terus, Mba Santi gimana dong?" tanya Tasya.


"Sudah aku pecat," jawab Hendra.


"Apa sayang, kamu kok tega banget sih? Kasihan tau, dia itu lagi butuh perkerjaan dirumah kita, ibunya lagi sakit keras dan dia butuh uang untuk membiayai pengobatan ibunya." jelas Tasya.


"Dia cuma butuh uang, kan? Aku sudah kasih." ujar Hendra.


"Maksud kamu?" tanya Tasya tidak mengerti.


"Aku sudah memberinya sejumlah uang sebelum aku menyuruhnya pergi. Dan aku yakin uang itu pasti cukup untuk biaya berobat ibunya selama beberapa bulan kedepan." jelas Hendra.


Mendengar penjelasan suaminya, barulah Tasya sedikit tenang.


"Sayang, ayo kita periksakan kandunganmu. Aku sudah tidak sabar ingin mengetahui kondisi malaikat kecilku didalam sini." ucap Hendra seraya mengelus lalu mencium perut istrinya yang masih rata.


"Periksa dimana sayang, di Rumah Sakit atau Puskesmas?" tanya Tasya.


"Di Puskesmas saja sayang, yang lebih dekat. Kepalaku masih sedikit pusing. Kalau kita periksa di Poli Kandungan, mungkin aku tidak kuat mengantri lama." jelas Hendra.


"Oh yah sudah, aku siap-siap dulu yah, sayang." ucap Tasya seraya mengecup pipi suaminya.


Tasya begitu bersemangat mendengar Hendra mengajaknya memeriksakan kehamilannya.


***


Sepulang dari Puskesmas, Miko lalu meluncurkan mobil Hendra kerumah orang tua Tasya. Tasya dan Hendra sudah lama tidak pergi kesana. Setelah melajukan mobil kurang lebih 20 menit, sampailah mereka di tempat tujuan.


"Assalamu'alaikum!" ucap Tasya seraya masuk kedalam rumah. Hendra dan Miko mengekor dibelakangnya.


Miko menyapukan pandangannya melihat ke sekeliling ruangan yang ia lewati di rumah sederhana itu. Ia menghentikan langkahnya saat melihat foto Tania beserta ketiga saudaranya saat mereka masih kecil. Foto itu terbingkai rapi dan menempel di dinding. Ia juga melihat foto Tania kecil sedang mengenakan baju polwan. Sepertinya foto itu di ambil saat Tania mengikuti karnaval ketika ia masih TK.


Lucu, cantik, dan imut. Tiga kata yang mewakili pendapat Miko saat melihat foto Tania kecil. Ia tersenyum sambil memandangi foto tersebut. Ia tersadar saat seseorang menyebut namanya.


"Kak Miko!"


Miko mengalihkan pandangannya ke sumber suara mendengar seseorang yang begitu akrab menyebut namanya. Ia tersenyum saat melihat gadis pujaan hatinya itu baru saja keluar dari kamarnya dan menatapnya dengan penuh tanya.


"Memangnya aku tidak boleh berkunjung ke rumahmu?" tanya Miko sambil berjalan pelan menghampiri Tania yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Langkahnya terhenti saat jarak antar mereka tersisa kira-kira kurang dari 2 meter.


"Nggak, nggak gitu juga Kak. Oh iya, Kakak kesini sama siapa?" tanya Tania.


"Tuh didalam," tunjuk Miko menggunakan ekor matanya.


Tania lalu menyibak gorden yang ada disampingnya. Ia melihat kakak dan kakak iparnya ada didalam sana sedang duduk mengobrol bersama ibunya.


"Masuk yuk, Kak!" ajak Tania.


Miko pun lalu masuk bersama Tania.


"Jaga kandungan kamu baik-baik, Nak. Kamu jangan sampai stress dan kecapekan." pesan Bu Indah pada anaknya.


"Iya, Bu." jawab Tasya sembari tersenyum.


"Oh iya, ngomong-ngomong usia kehamilanmu sudah berapa minggu, Nak?" tanya Bu Indah.


"Tadi kata Bu Bidan sudah masuk 8 minggu, Bu." jawab Tasya.


"Oh." ucap Bu Indah mengerti.


"Eh, ada Nak Miko. Mari silahkan duduk!" seru Bu Indah saat melihat Miko masuk bersama Tania.


"Iya Tante, makasih." balas Miko lalu mengambil tempat duduk di samping Hendra.


Hingga waktu menjelang ashar, Tasya masih betah disana. Ia sangat merindukan kamar yang yang menjadi tempat peristirahatannya ketika ia masih gadis. Ingin sekali rasanya ia bermalam disana, tapi ia tidak tahu Hendra akan menyetujuinya atau tidak.


"Sayang, malam ini kita bermalam disini, yah. Aku kangen banget sama kamar ini." ujar Tasya pada suaminya yang berbaring disampingnya.


"Terserah kamu, sayang. Asal kamu senang, aku akan menuruti semua permintaanmu." ucap Hendra sembari mendekap tubuh mungil istrinya.


Tasya merasa sangat senang sekali karena suaminya mau mengabulkan keinginannya.


Diluar kamar diruangan lain, Miko sedang tertidur pulas di atas kasur lantai di depan tv. Miko tidak tahu harus melakukan apa dirumah yang baru pertama kali ia kunjungi itu. Ia pun lalu memilih tertidur untuk mengatasi kebosannya.


Tantri baru saja pulang dari sekolah, ia terkejut saat melihat ada sesosok laki-laki yang sedang tertidur di depan kamarnya. Kebetulan ruangan yang sering ditempati keluarganya berkumpul bersama sembari menonton tv itu tepat di depan kamarnya.


Tantri bertanya-tanya, siapa gerangan laki-laki yang sedang tertidur itu. Yang jelasnya bukan Hendra dan juga bukan Tama, kakak laki-lakinya. Karena penasaran, Tantri pun berjalan mengendap-ngendap mengitari kasur lantai tersebut untuk melihat wajah laki-laki yang tertidur sambil memunggunginya.


"Siapa ini yah? Kok aku kayak kenal. Tapi siapa?" gumam Tantri bertanya-tanya.


Tantri tidak bisa mengenali Miko karena Miko tertidur sambil menutupi wajahnya dengan lengan kekarnya.


"Ah, sudahlah. Aku laper, mau makan." ucap Tantri seraya meninggalkan Miko lalu masuk kedalam kamarnya untuk mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian sehari-harinya sebelum ia masuk ke ruang makan untuk mengisi perutnya.