
Hendra terus memikirkan ucapan Miko barusan. Karena penasaran, ia pun lalu beranjak ke dapur untuk mengeceknya sendiri, seperti apa wujud pembantu baru itu.
"Kalo ucapan Miko benar, sebaiknya aku segera memecat pembantu baru itu sebelum sesuatu yang buruk terjadi dalam rumah tanggaku. Lebih baik aku bertindak sekarang sebelum aku menyesal nantinya." batin Hendra.
Setelah masuk ke ruang dapur, Hendra melihat Santi ada disana sedang membantu Bi Ani menyelesaikan pekerjaannya didapur. Hendra geleng-geleng kepala melihat penampilan pembantu baru itu. Bukan karena ia kagum, tapi karena ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin ada seorang pembantu yang berpenampilan s*ksi seperti itu.
"Aku rasa ucapan Miko ada benarnya juga. Bagaimana mungkin ada seorang pembantu yang berpenampilan seperti ini? Mungkin niatnya memang bukan untuk bekerja, tapi untuk menggoda majikannya. Aku harus segera bertindak." batin Hendra.
"Ehem." Hendra berdehem cukup keras membuat Bi Ani dan Santi kaget dan berbalik ke arahnya.
"Sungguh luar biasa makhluk ciptaan tuhan yang satu ini." batin Santi.
Santi begitu kagum melihat sosok majikannya yang menurutnya sangat tampan dengan postur tubuh yang tegap, kekar dan atletis. Benar-benar laki-laki idamannya, pikir Santi.
"Eh, Tuan Hendra. Apa Tuan butuh sesuatu?" tanya Bi Ani.
"Saya mau bicara sama kamu, kamu pembantu baru itu, kan?" tanya Hendra.
"Apa, dia mau bicara denganku? Aaaaaah, hahaha. Secepat itukah Tuan Hendra
tergoda olehku? Pesonamu memang benar-benar luar biasa Santi." batin Santi tertawa senang didalam hatinya sekaligus bangga memuji dirinya sendiri.
"Saya, Tuan?" tanya Santi pura-pura tidak tahu sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kamu, siapa lagi?" jawab Hendra.
Santi pun kemudian berjalan berlenggak-lenggok penuh percaya diri ke arah Hendra. Ia berpikir kalau Hendra sudah tergiur dengan tubuh moleknya yang sek*i itu. Setelah jarak antar mereka hampir tersisa 5 meter saja, Hendra pun menyuruhnya berhenti. Ia tidak mau dekat-dekat dengan wanita pengg*da itu. Melihat cara berjalannya saja sudah membuatnya muak.
"Stop! Berdiri disitu!" titah Hendra.
Santi terkejut mendengarkan ucapan Hendra. Ia juga tidak mengerti kenapa Hendra menyuruhnya berhenti. Bukankah Hendra sudah tergoda olehnya? Pikir Santi.
"Hei kamu, dengarkan baik-baik! Kamu tidak memenuhi syarat untuk bekerja disini. Jadi kamu tidak saya terima bekerja dirumah saya." jelas Hendra tanpa basa-basi.
"Ap apa, Tuan?" tanya Santi tidak percaya.
Santi sangat terkejut mendengarkan ucapan Hendra. Tadinya ia berpikir kalau Hendra sudah tergoda olehnya. Ternyata ia salah, belum juga apa-apa rencananya sudah gagal total.
"Sial, kenapa malah jadi begini sih? Rencanaku gagal berarti. Aku harus melakukan sesuatu agar majikan baruku ini tidak jadi memecatku." batin Santi.
"Kamu tidak dengar. Saya bilang, saya tidak menerima kamu bekerja dirumah saya. Mengerti!" tegas Hendra menekankan ucapannya.
"Ke kenapa, Tuan?" tanya Santi.
"Itu tadi saya bilang, karena kamu tidak memenuhi syarat untuk bekerja dirumah ini." jawab Hendra.
"Tolong katakan Tuan! Apa kekurangan saya? Saya akan memperbaikinya." ucap Santi penuh harap.
"Tidak, kamu tidak perlu memperbaikinya. Karena itu mustahil untuk kamu lakukan. Kamu tidak mungkin mengubah dirimu menjadi wanita berusia 40 tahun, bukan? Jadi sebaiknya kamu segera tinggalkan rumah ini." jawab Hendra.
"Tuan, tolong terima saya Tuan! Saya mohon! Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. Ibu saya sedang sakit keras dan saya butuh uang untuk biaya berobat ibu saya. Kalau saya tidak bekerja disini, saya tidak tau bagaimana nasib ibu saya nanti." jelas Santi memasang akting sedihnya sambil duduk bersimpuh memohon kepada Hendra. Ia pikir Hendra akan mau mengasihaninya dan membiarkannya tetap bekerja jika ia bersandiwara seperti itu.
"Oh, jadi kamu butuh uang, iya?" tanya Hendra ingin memastikan.
Santi hanya mengangguk sambil menunduk dan pura-pura menangis.
"Baik, tunggu sebentar!"
Hendra lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Tidak lama kemudian, ia turun dengan membawa sebuah amplop coklat berisi sejumlah uang didalamnya. Hendra lalu memberikan amplop itu pada Santi dan Santi menerimanya dengan bersorak kegirangan didalam hatinya.
Jelas-jelas Santi tahu kalau isi amplop tersebut adalah uang. Ia merasakan amplop itu lumayan tebal.
"Kamu butuh uang, kan? Pakailah uang itu untuk membiayai pengobatan ibumu." jawab Hendra.
"Terima kasih, Tuan. Terima kasih." ucap Santi sambil masih akting memasang wajah sendunya.
"Tidak perlu berterima kasih. Bisa kah sekarang kamu mengemasi barang-barangmu?" kata Hendra.
"Baik Tuan, saya akan segera pergi." balas Santi.
"Bagus! Setelah saya turun nanti, kamu sudah harus meninggalkan tempat ini. Awas saja kalau tidak!" tegas Hendra.
"Baik Tuan. Saya pastikan Anda tidak akan melihat saya lagi." ujar Santi.
"Bagus. Kalau perlu, jangan pernah muncul lagi kemari." tegas Hendra.
"I iya Tuan, saya akan pastikan itu." balas Santi.
Hendra pun lalu beranjak naik ke kamarnya.
"Hahaha, nggak apa-apa aku nggak jadi kerja dirumah ini, yang penting aku dapat uang secara cuma-cuma. Sepertinya sangat cukup untuk biaya ke salon dan membeli banyak pakaian baru." batin Santi senang.
Santi pun lalu mengecek berapa nominal uang yang telah diberikan Hendra padanya. Senyumnya mengembang melihat nominal uang yang tertera pada kertas kecil yang melingkar sebagai pengikat sejumlah uang tersebut.
"Gila, tajir bener tuh orang. Nggak salah nih, dia ngasih aku uang sebanyak ini. Kalo aku harus kerja jadi pembantu dirumah ini, 4 bulan lamanya baru aku bisa dapat uang sebanyak ini." ucap Santi dalam batinnya.
Santi pun lalu bangkit dari posisinya dan segera bergegas mengambil tas besarnya yang ia simpan di kamar Bi Ani tadi.
"Aku harus pergi dari tempat ini sekarang juga." batin Santi.
Tanpa berpikir panjang, Santi pun keluar dari rumah besar itu sambil membawa barang-barangnya. Ia terus berpikir, kemana lagi ia harus mencari orang kaya seperti Hendra yang bagus dan cocok dijadikan mangsa selanjutnya, pikirnya.
"Syukurlah, akhirnya perempuan itu pergi juga dari sini. Alhamdulillah yaa Allah, karena engkau masih melindungi keluarga ini." ucap Bi Ani.
Bi Ani benar-benar merasa sangat lega melihat kepergian Santi. Ia bersyukur karena Hendra tidak menerima perempuan itu sebagai partner kerjanya.
"Aku harus menghubungi Nani nanti. Aku harus bertanya padanya, kenapa dia tidak memberiku kabar dan malah mengirim si Santi tadi ke rumah ini untuk menggantikannya?" ucap Bi Ani berbicara sendiri.
***
Kamar Hendra dan Tasya
Hendra ingin segera menemui istrinya. Saat ia naik mengambil uang untuk Santi tadi, Tasya sedang berada dikamar mandi. Setelah beberapa saat menunggu, Tasya pun akhirnya keluar dari kamar sambil mengeringkan rambutnya.
"Sayang, kemari!" panggil Hendra.
"Ada apa sayang? Aku mau mengeringkan rambutku dulu." jawab Tasya.
"Sebentar saja, kemarilah!" ucap Hendra sembari menepuk sofa yang ada disampingnya.
"Ada apa sih sayang?" tanya Tasya penasaran.
"Sini duduk," titah Hendra sembari menarik sebelah tangan istrinya.
Tasya pun lalu duduk disamping suaminya.
"Kamu harus dihukum," ucap Hendra.