
"Mama ini ngomong apa sih? Siapa juga yang mau berbuat yang tidak-tidak. Tantri itu kesini cuma mau magang di restoran kita, Ma. Dia cuma ingin menimba ilmu. Bukan seperti yang, Mama pikirkan." jelas Miko.
"Magang? Sejak kapan kamu menerima anak magang? Sebelumnya, Mama tidak pernah dengar."
"Mm, baru kali ini sih. Pokoknya jangan usir, Tantri yah, Ma. Miko bakal ngelakuin apa aja asal, Mama nggak ngusir dia pergi dari sini."
"Serius? Kamu peduli sekali dengan perempuan itu. Apa dia pacar kamu?" tanya Bu Melda dengan sorot mata menyelidik.
"Bukan, Ma. Tantri bukan pacar Miko, tapi Miko peduli sama dia. Miko janji bakal ngelakuin apa aja asal Mama nggak ngusir dia pergi dari sini."
"Apa termasuk pulang dan tinggal kembali dirumah?" tanya Bu Melda. Ia sangat berharap anaknya itu akan mau tinggal kembali bersamanya. Mengingat kejadian hampir 5 tahun yang lalu, Miko minggat dari rumah karena Papa dan Mamanya menentang hubungannya dengan Lyvia. 2 Tahun kemudian, hubungan Miko dengan Lyvia kandas di tengah jalan. Tapi Miko juga masih enggan untuk kembali kerumah orang tuanya dengan alasan ia sudah nyaman hidup mandiri.
"Kalau aku kembali dan tinggal dirumah, lalu siapa yang akan menjaga, Tantri disini?" batin Miko. Ia tidak punya pilihan lain selain menolak keinginan mamanya meskipun sebelumnya ia sudah berjanji ingin melakukan apapun.
"Maaf, Ma." ucap Miko sembari menunduk.
"Ck, baik. Mama akan mengusir gadis itu sekarang juga," ancam Bu Melda sambil berdecak kesal. Ia menghentakkan tangannya hingga lepas dari genggaman Miko. Ia pun segera berjalan dengan cepat menuju pintu apartemen.
"Ma, Ma. Jangan, usir Tantri, Ma. Kalau, Mama mengusir dia, Miko nggak punya muka lagi di depan Om Rudi sama Tante Indah nanti," jelas Miko sambil kembali menarik tangan mamanya.
"Siapa mereka? Apa mereka kedua orang tua gadis itu?" tanya Bu Melda.
"Iya, Ma. Aku juga malu sama, Hendra dan istrinya nanti kalau Mama sampai mengusir Tantri pergi dari sini,"
"Hendra? Hendra sahabat kamu itu. Apa hubungan gadis itu dengan, Hendra?" tanya Bu Melda penasaran.
"Tantri itu adik iparnya, Hendra, Ma." Miko pun kemudian menceritakan semuanya pada Bu Melda. Dan Bu Melda pun akhirnya mengerti setelah mendengar semua penjelasan Miko. Tapi tetap saja ia tidak membenarkan kalau Miko dan Tantri harus tinggal satu atap berdua. Ia pun kemudian memikirkan jalan terbaik untuk mengatasi masalah tersebut.
"Baik. Mama tidak akan mengusirnya. Tapi sebelumnya, Mama ingin bertemu dengan gadis itu." ucap Bu Melda setelah bisa menerima penjelasan anaknya.
"Tapi, Mama beneran janji yah. Jangan sampai, Mama mengusir, Tantri."
"Kamu ini seperti tidak mengenal, Mama saja. Sejak kapan Mama ingkar janji?"
"Nggak pernah sih." ucap Miko sambil cengengesan lalu menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.
Mereka berdua pun kemudian masuk bersama kedalam apartemen. Tanpa banyak tanya, Bu Melda segera mencari sosok Tantri yang kata Miko sedang berada didapur.
Tantri tidak menyadari kehadiran keduanya. Ia masih asyik merapikan belanjaan mereka tadi yang jumlahnya lumayan banyak.
"Tri!" panggil Miko.
"Eh, iya Kak." sahut Tantri sambil menoleh ke arah sumber suara. Ia melihat Miko sedang berdiri dengan seorang wanita yang tidak ia kenal. Tapi melihat wajah keduanya, Tantri bisa memutuskan kalau wanita didepannya itu pasti mamanya Miko. Melihat wajah keduanya agak mirip.
"Tante pasti mamanya, Kak Miko, yah." tebak Tantri. Bu Melda hanya mengangguk sambil tersenyum ramah. Ia sedang memperhatikan gadis yang berdiri dihadapannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Sepertinya dia gadis baik-baik." batin Bu Melda.
"Tantri, Tante." ucap Tantri seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Bu Melda. Tak lupa pula ia menciumi tangan wanita paruh baya itu setelah uluran tangannya di balas.
"Melda." ucap Bu Melda balas memperkenalkan diri.
"Mari silahkan duduk, Tante!" ajak Tantri sambil menarik kursi meja makan yang ada dibelakangnya.
"Terima kasih." balas Bu Melda lalu duduk di kursi tersebut.
"Mau saya buatkan minum, tante," tawar Tantri.
"Boleh." jawab Bu Melda. Tantri pun segera beranjak menuju dapur untuk membuat 3 cangkir teh. Miko yang memperhatikan kedua wanita itu hanya bisa bernapas lega karena mamanya benar-benar tidak marah pada Tantri. Miko pun kemudian mengambil tempat duduk di seberang meja Bu Melda. Setelah teh yang dibuat oleh Tantri sudah siap, ia pun juga ikut duduk dan bergabung dengan ibu dan anak itu.
"Berapa usiamu?" tanya Bu Melda pada Tantri yang duduk disamping Miko.
"17 tahun, Tante."
"Oh. Kata Miko, kamu mau magang di restoran kami. Apa itu benar?" tanya Bu Melda lagi.
"Iya benar, Tante." jawab Tantri sembari mengangguk sopan.
"Begini, selama kamu disini, Tante tidak akan membiarkan kalian berdua tinggal bersama disini," jelas Bu Melda. Namun belum selesai ia berbicara Miko sudah memotong pembicaraannya.
"MA!" ucap Miko dengan nada tinggi sambil berdiri dari posisi duduknya.
"Duduk!" perintah Bu Melda pada anaknya. Tantri hanya memandang Miko dan Bu Melda secara bergantian. Sejujurnya ia juga bingung harus kemana kalau Bu Melda sampai mengusirnya pergi meninggalkan tempat itu. Tapi kelihatannya Bu Melda tidak sejahat itu, pikir Tantri.
"Tapi, Ma. Mama kan sudah janji---"
"Diam kamu, Miko! Mama bilang duduk!" seru Bu Melda. Tapi Miko tidak kunjung duduk juga.
"DUDUK!" perintah Bu Melda. Kali ini ia lebih meninggikan suaranya.
"Duduk, Kak." ucap Tantri lirih sambil menarik tangan Miko untuk duduk kembali di kursinya. Miko menatap gadis itu dengan tatapan sendu. Ia merasa sangat bersalah jika sampai gadis yang dicintainya itu sampai terlantar di kota besar tempat tinggalnya. Mengingat Tantri tidak mengenal siapa-siapa disana. Kalau sampai terjadi apa-apa pada Tantri, ia pasti tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Apalagi ia sudah berjanji pada semua anggota keluarga besar gadis itu untuk menjaganya dengan sangat baik selama gadis itu bersamanya.
"Sekarang, kemasi semua barang-barang kamu." perintah Bu Melda pada Tantri. Gadis itu begitu terkejut mendengar ucapan wanita paruh baya didepannya. Ia pikir wanita itu sedang mengusirnya.
"MA! Mama ini benar-benar," Miko kembali berdiri dari posisinya.
"Duduk, Kak." ucap Tantri lirih sembari kembali menarik tangan Miko.
"Aku harus kemana nanti setelah ini? Di kota besar ini aku nggak punya siapa-siapa? Kenapa, Tante Melda tega mengusirku dihari pertama aku berada disini." batin Tantri bingung. Mata gadis itu sudah mulai memerah dan berkaca-kaca. Sedikit lagi air matanya terjatuh meratapi nasibnya di tempat tinggal orang.
"Baiklah. Aku nggak boleh cengeng. Setelah ini aku harus mencari kost-kostan didekat sini. Aku akan menggunakan kartu debit yang diberikan oleh Kak Tasya untukku. Katanya isinya lumanyan banyak dan cukup untuk memenuhi kebutuhanku selama aku berada disini." batin Tantri mencoba menguatkan diri. Remas*n tangan Miko yang membuatnya tersadar dari lamunannya.
"Baik, Tante. Kalau itu yang tante mau. Permisi!" kata Tantri sambil berusaha melepaskan tangan Miko yang menggenggam erat tangannya. Ia pun kemudian beranjak menuju kamarnya. Miko menatap tajam ke arah mamanya. Ia begitu terkejut dengan keputusan Tantri yang menurutnya sangat gegabah.