How To Love You

How To Love You
Bab 203



"Tok tok tok."


Miko mengetuk pintu kamar Tantri setelah ia selesai bersiap-siap. Tidak lama kemudian gadis itu pun muncul dari balik pintu. Tantri terpesona dengan penampilan Miko yang tidak seperti biasanya. Laki-laki itu terlihat sangat tampan dan keren dengan balutan pakaian formal yang ia kenakan. Tantri saja sampai melongo dibuatnya.


"Kamu kenapa?" tanya Miko saat ia melihat Tantri menatapnya tanpa berkedip sedikitpun. Sebenarnya ia ingin salah tingkah saat ditatap seperti itu oleh gadis pujaannya. Tapi sebisa mungkin ia bersikap biasa-biasa saja untuk menjaga image-nya agar tetap terlihat keren dimata gadis itu.


"Eh, iler kamu jatuh tuh," canda Miko. Sontak saja Tantri tersadar dari lamunannya sambil mengusap ujung bibirnya sendiri.


"Kak Miko ih, nyebelin banget." ucap Tantri sambil memukul lengan Miko. Ia baru sadar kalau laki-laki itu sedang mengerjainya.


"Maaf, maaf." ucap Miko sembari terkekeh geli.


"Jangan cemberut dong. Ayo jalan!" bujuk Miko sambil mengangkat sedikit ketiaknya memberi kode pada gadis disampingnya untuk segera menggandeng tangannya.


"Aku nggak bakalan nolak karena aku suka banget sama aroma parfum, Kak Miko." ujar Tantri sambil melingkarkan tangannya di lengan kekar milik pria itu.


"Jadi kalau aku tidak pakai parfum kamu tidak mau menggandeng tanganku. Begitu,"


"Iya." jawab Tantri singkat.


"Memang dasar kamu ini," ucap Miko sembari mencubit hidung gadis itu karena gemas.


"Auwh. Sakit, Kak. Kenapa sih, Kak Miko suka banget cubit hidung aku? Kalau hidung mancung aku bengkok ke samping bagaimana?" protes Tantri sembari memegangi hidungnya yang kesakitan.


"Ya itu deritamu." jawab Miko sembari terkekeh.


"Ih, dasar nyebelin." Tantri memukul lengan Miko saking jengkelnya. Mereka berdua pun berjalan sambil bergandengan tangan seperti sepasang kekasih menuju tempat dimana Miko memarkirkan mobilnya semalam.


***


Miko memarkirkan mobilnya didepan restoran. Setelah itu, mereka berdua masuk kedalam sana. Kali ini Tantri tidak mau melingkarkan tangannya di lengan Miko. Tumben-tumbennya ia merasa malu di liat oleh orang-orang. Padahal biasanya ia tidak peduli. Namun kali ini ia merasa malu pada karyawan-karyawan Miko di restoran. Apalagi selama 6 bulan ke depan ia akan menjadi salah satu bagian dari mereka.


Melihat gadis itu diam saja, Miko segera menarik tangan Tantri dan melingkarkannya di lengannya. Awalnya Tantri menolak, namun laki-laki itu tidak mau menerima penolakan.


"Aku malu, Kak." bisik Tantri.


"Tumben. Biasanya juga kalo ke mall main gandeng duluan,"


"Itu kan di mall, Kak. Nggak banyak yang kenal. Kalau disini kan restorannya, Kak Miko. Aku kan malu sama karyawan-karyawan disini, Kak. Bagaimana kalau mereka salah paham? Terus ada salah satu karyawan cewek yang naksir sama Kak Miko. Dan, selama aku PKL disini, orang itu selalu ngejahatin aku kayak di sinetron-sinetron. Gimana coba?" cerocos Tantri. Miko terkekeh geli mendengar ucapan gadis itu.


"Kebanyakan nonton sinetron kamu,"


"Bisa aja kan, Kak."


"Janji yah, Kak."


"Iya."


Miko dan Tantri pun berjalan sambil bergandengan memasuki gedung restoran. Siang itu restoran terlihat sangat ramai pengunjung. Biasanya jam istirahat begini banyak pelanggan yang makan siang di tempat itu.


Setiap pelayan yang mereka lewati, baik laki-laki maupun perempuan menundukkan kepalanya sopan ke arah atasan mereka. Miko sedang membawa Tantri menuju ke ruangannya. Setelah mereka berdua masuk kedalam ruangan yang dituju, para pelayan yang mereka lewati tadi saling berbisik-bisik mengenai gadis yang datang bersama bosnya itu. Pasalnya baru kali ini atasan mereka datang bersama seorang gadis. Sebelumnya tidak pernah sekalipun selama mereka bekerja di tempat itu.


Miko duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Tantri duduk di sofa yang ada diruangan itu. Tidak lama setelah mereka memasuki ruangan, seorang laki-laki berpakaian rapi, berperawakan tinggi, kulit putih bersih, berwajah oval dengan gaya rambut pompadour yang membuatnya terlihat semakin keren, muncul dari balik pintu. Dia adalah Jonathan, Manager handal kepercayaan Miko di restorannya itu. Usianya kira-kira 24 tahun. Lebih muda 3 tahun dari si empunya restoran.


"Ini salinan laporan keuangan yang, Pak Miko minta," ujar Jonathan sambil meletakkan sebuah map di meja kerja Miko. Miko hanya membalasnya dengan anggukan.


"Jo! Kenalkan, ini Tantri. Besok dia akan magang disini," jelas Miko. Jonathan mengeryitkan dahi heran mendengarkan ucapan atasannya. Sebab baru kali ini restoran mereka menerima siswa magang.


"Kenalkan, saya Jonathan. Manajer di restoran ini," ucap Jonathan memperkenalkan diri sambil tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya pada Tantri. Gadis itu pun kemudian berdiri hendak membalas uluran tangan Jonathan ingin memperkenalkan dirinya juga.


"Tantri."


"Kalau boleh tau, kamu ini siapanya, Pak Miko?" tanya Jonathan penasaran. Ia sangat penasaran siapa Tantri sebenarnya. Karena ia menyaksikan sendiri Miko dan Tantri datang sambil bergandengan masuk ke ruangan itu. Keduanya nampak sangat mesra sekali seperti pasangan kekasih. Ia tidak mau menerka-nerka lagi mengenai apa hubungan atasannya dengan gadis yang ada dihadapannya sekarang. Ia ingin mengetahui kejelasannya saat itu juga. Apalagi saat ia keluar nanti dari ruangan atasannya itu, pasti karyawan lainnya akan menyerbunya dan memberondonginya dengan banyak sekali pertanyaan mengenai gadis yang datang bersama bos mereka.


"Saya ... saya," Tantri bingung harus menjawab apa. Ia juga bingung mengenai hubungannya dengan Miko. Sebenarnya apa sih hubungan mereka sebenarnya. Mau dibilang keluarga, bukan. Mau di bilang teman, rasanya kurang tepat. Sepertinya hubungan mereka lebih dari sekedar teman. Tapi bukan pacar juga. Kalau mau dibilang sahabat kakak iparnya, kedengarannya juga aneh kalau mereka terlalu dekat. Entah siapa yang bisa menjawabnya? Tolong bantu aku, pikir Tantri.


"Tantri adik sepupu saya," Miko yang menjawab pertanyaan Jonathan karena ia melihat gadis yang sedang ditanyai itu sedang kebingungan tidak tahu harus menjawab apa.


Ya, sepertinya jawaban Miko lebih mendekati mengenai hubungan mereka. Hubungan kakak adik, kata itulah yang mewakili perasaan Tantri saat itu. Ia sudah menganggap Miko seperti kakaknya sendiri. Namun berbanding terbalik dengan laki-laki dewasa itu. Miko memandang Tantri sebagai seorang wanita. Gadis yang akan mendampinginya di masa yang akan datang. Kata itulah yang selalu muncul di benak Miko.


"Oh. Adik sepupunya Pak Miko, rupanya." ucap Jonathan seraya mengangguk pertanda mengerti.


"I-iya, Pak." jawab Tantri membenarkan kebohongan Miko. Daripada bingung harus menjawab apa, lebih baik ia mengiyakan saja ucapan Miko itu. Biar tidak ribet, pikirnya.


"Jo! Bawa 1 buah meja kerja beserta kursi ke ruanganku dan letakkan disini. Tepat disamping mejaku," titah Miko sambil menunjuk ke arah yang ia maksud.


"Baik, Pak. Apa, Bapak masih membutuhkan sesuatu yang lain?" tanya Jonathan sebelum beranjak meninggalkan ruangan Miko.


"Oh iya, masih ada. Bawakan makan siang untuk kami berdua ke ruangan ini. Menunya seperti biasa," jelas Miko.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi keluar dulu,"


"Iya, silahkan!"