How To Love You

How To Love You
Bab 157



Miko dan Santi sudah sampai di ruang makan.


"Bibi!" panggil Miko pada Bi Ani yang sedang melakukan pekerjaannya di dapur.


"Iya, Tuan. Ada apa?" tanya Bi Ani sambil membalikkan potongan ayam yang sedang ia goreng.


"Pembantu barunya sudah datang, Bi." jelas Miko.


"Oh, Nani sudah datang. Tunggu sebentar, Tuan." ucap Bi Ani.


"Nani? Bukannya perempuan tadi namanya Santi. Ah, mungkin Nani adalah nama aslinya dan Santi adalah nama panggilannya. Mungkin seperti itu." batin Miko.


"Saya permisi keluar dulu yah, Bi. Saya masih banyak kerjaan." pamit Miko.


"Iya, silahkan Tuan!" balas Bi Ani.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Bi Ani pun bermaksud untuk menyapa pembantu baru yang baru saja datang yang ia pikir adalah Nani, tetangganya.


"Astagfirullah!" Bi Ani terkejut melihat sosok yang sudah duduk manis di meja makan tanpa ada yang mempersilahkan.


"Kenapa kamu ada disini? Mana Nani?" tanya Bi Ani pada Santi sambil ia menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan mencari sosok Nani.


"Oh, Mba Nani lagi sakit, Bu. Jadi saya yang menggantikannya." jawab Santi.


"Apa? Nani sakit, dia sakit apa?" tanya Bi Ani.


"Mm, Mba Nani sakiiit, sakiiit, typus. Iya, dia sakit typus. Jadi dia nggak bisa bekerja dalam kurun waktu yang cukup lama. Dan dia yang menyuruh saya menggantikannya." jawab Santi.


"Oh yah, kasihan sekali si Nani. Kalau dia sakit, lalu siapa yang akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Anak-anaknya masih sekolah, sedangkan ibunya sudah tua." ujar Bi Ani sedih dan prihatin dengan nasib tetangganya.


Bi Ani pun berjalan menghampiri Santi.


"Kalau tidak salah, kamu Santi kan, anaknya Pak Tamrin?" tanya Bi Ani.


"Iya Bu." jawab Santi.


"Hmmm, kalau tidak salah, si Santi ini sepupunya si Nani. Dan kalau tidak salah juga, menurut gosip yang beredar, dia ini janda yang suka merusak rumah tangga orang." batin Bi Ani.


"Wah, bahaya ini. Ini tidak boleh dibiarkan, Tuan dan Nyonya harus waspada. Jangan sampai si Santi ini, mengganggu ketentraman rumah tangga mereka."


"Tapi kenapa Nani tidak menghubungiku dan mengatakan kalau dia sedang sakit? Kenapa dia malah menyuruh orang lain yang menggantikannya. Seharusnya dia bilang dulu padaku, bukan malah menunjuk orang lain seenaknya untuk menggantikannya."


Bi Ani kemudian memandang Santi dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Lihat saja gaya berpakaiannya. Sungguh tidak sopan. Pantas saja mengundang para laki-laki hidung belang untuk menggodanya."


Jika Bi Ani saat itu sedang menatap penampilan Santi, lain halnya dengan pembantu baru itu. Ia menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan melihat isi rumah majikan barunya.


"Wah, rumah ini besar sekali. Kalo aku berhasil menjadi nyonya besar dirumah ini, aku pasti bisa memiliki rumah ini dan seluruh harta kekayaan Tuan Hendra nanti." batin Santi.


"Masih ada dikamarnya, sebentar lagi juga turun." jawab Bi Ani.


"Ooh."


Beberapa saat kemudian, Tasya turun dari kamarnya. Sedangkan Hendra masih sibuk bergelut dengan selimut usai melakukan aktifitas rutin mereka setiap habis shalat subuh.


Santi menatap Tasya yang sedang berjalan menuruni anak tangga.


"Pasti gadis ini anak dari pemilik rumah ini." batin Santi.


Santi mengira kalau Tasya adalah anak dari majikan barunya. Karena ia melihat Tasya masih sangat muda.


"Selamat pagi, Nyonya!" sapa Bi Ani.


"Pagi Bi." balas Tasya seraya mengambil air minum di dispenser.


Setelah gelasnya penuh, ia pun mengambil tempat duduk di seberang Santi.


"Apa, Nyonya? Jangan bilang anak ini adalah nyonya besar dirumah ini. Ah, nggak mungkin. Mungkin dia cuma menantu dirumah ini." batin Santi.


Bibir Santi tersenyum dan kepalanya mengangguk sopan ke arah Tasya. Tapi hatinya berkata lain. Hatinya begitu busuk, berbanding terbalik dengan wajahnya yang cantik.


"Santi, perkenalkan, ini Nyonya Tasya, istri Tuan Hendra, majikan kita." jelas Bi Ani.


"Apa? Jadi benar dia nyonya di rumah ini." batin Santi terkejut.


"Kok namanya Santi sih Bi, bukannya yang kemarin kita telpon namanya Mba Nani?" tanya Tasya bingung.


"Eh, anu Nyonya, si Nani ---" Bi Ani tidak tahu harus menjawab apa. Ucapannya juga dipotong oleh Santi.


"Maaf Nyonya, terpaksa saya yang menggantikan Mba Nani. Karena saya lebih membutuhkan pekerjaan ini daripada dia. Ibu saya sakit keras, dan saya terpaksa bekerja disini untuk mencari uang untuk biaya berobat ibu saya." ucap Santi dengan wajah sendu agar Tasya kasihan padanya.


"Benarkah? Kasihan sekali Mba. Oh iya, semoga Mba Santi betah bekerja disini." kata Tasya prihatin.


Berbeda dengan Tasya, Bi Ani malah terkejut mendengarkan pernyataan Santi. Karena Santi tadi mengatakan pada Bi Ani kalau Nani yang sakit, bukan ibunya si Santi. Santi pasti berbohong, pikir Bi Ani.


"Loh, bukannya tadi kamu-"


Bi Ani ingin protes ucapan Santi. Tapi sayang, Hendra datang dan memotong ucapannya.


"Pagi, sayang!" sapa Hendra sembari mencium puncak kepala istrinya.


"Pagi juga, sayang." balas Tasya sembari tersenyum.


Oh, jadi ini yang namanya Tuan Hendra. Boleh juga, memang tipe suami idamanku. Tadinya aku pikir majikanku sudah berumur, ternyata aku salah. Dia masih muda, sangat tampan dan juga gagah. Mungkin dia cuma seumuran denganku. Aku nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Aku harus bisa membuat Tuan Hendra tergoda dan mau tidur denganku secepatnya. Aku sudah nggak sabar ingin mencicipinya. Dan aku juga sudah nggak sabar ingin menjadi nyonya di rumah ini. Setelah aku menguasai rumah ini, aku akan menendang gadis kecil ini beserta laki-laki sombong tadi keluar dari rumah ini. Batin Santi.