How To Love You

How To Love You
Bab 205



Tantri berjalan memasuki ruangan Miko sambil membawa nampan kecil berisi satu cangkir kopi. Gadis itu pun meletakkan kopi itu di atas meja atasannya dengan sopan dan hati-hati.


"Kenapa kamu lama sekali?" protes Miko.


"Saya ... saya tadi-"


"Apa yang Jonathan katakan padamu?" tanya Miko penasaran.


"Kok, Pak Miko bisa tau?" Miko hanya menjawab dengan menunjuk layar monitor yang ada didepannya.


"Haish. Aku udah kayak penjahat aja, selalu diawasi kemana pun aku pergi." batin Tantri.


"Kenapa kamu tidak menjawab?"


"Eh anu, Pak,"


"Anu apa? Hem?"


"Aish, Pak Miko. Itu masalah pribadi saya, Pak."


"Tri! Apa kamu lupa? Kalau selama kamu disini, kamu itu menjadi tanggung jawabku. Aku disini berperan sebagai orang tua sekaligus kakak untuk kamu. Jadi, ayo cepat katakan! Apa yang kamu bicarakan dengan Manajer itu tadi?" desak Miko.


"Huft. Iya iya. Saya akan jawab, Pak Bos. Pak Jonathan tadi mengajak saya jalan di hari minggu," jawab Tantri.


"APA?" Miko begitu terkejut mendengarkan jawaban gadis itu. Ia curiga kalau Jonathan juga menyukai Tantri sama seperti dirinya menyukai gadis itu.


"Tidak boleh, tidak boleh. Kamu tidak boleh jalan dengan lelaki mana pun selain denganku." Miko begitu tidak rela kalau Tantri berkencan dengan laki-laki mana pun. Baginya, ia harus menjadi laki-laki pertama dan terakhir yang mengisi hati dan kehidupan gadis itu.


"Loh, kenapa bisa begitu, Pak?" protes Tantri.


"Ya memang harusnya begitu. Bagaimana kalau Si Jonathan itu punya niat buruk padamu? Apa kamu tidak takut? Bukankah kamu baru mengenalnya belakangan ini. Kamu pasti belum tau sifat aslinya." jawab Miko memberikan alasan yang ia pikir masuk akal. Ia tidak mungkin mengatakan kalau ia cemburu pada manajernya itu.


"Pak Miko jangan berlebihan. Pak Jonathan itu sepertinya cowok baik-baik," bela Tantri.


"Tantri! Kamu jangan bandel, yah kalau dibilangin."


"Ck, iya iya, Pak Miko. Saya akan menurut apa kata, Pak Miko." ujar Tantri lalu duduk di kursinya.


"Ck, Kak Miko kalo di kantor, sumpah ngeselin banget. Mentang-mentang bos, seenaknya aja main ngelarang-larang. Ini itu nggak boleh. Bolehnya asal sama dia aja. Apa-apa dilarang, semuanya harus sama dia. Nasib, nasib, deritanya punya bos nyebelin." batin Tantri cemberut lalu duduk di kursinya. Miko tersenyum penuh kemenangan karena akhirnya gadis itu pun mau menurut padanya. Meskipun terlihat jelas kalau gadis itu sangat terpaksa menuruti perintahnya.


"Pak Miko serius?" tanya Tantri ingin memastikan. Seketika wajah cemberutnya berganti menjadi wajah sumringah.


"Selalu aja seperti ini. Tapi nggak apalah, karena kenyataannya tawaran Kak Miko selalu lebih menarik dari tawaran orang lain." batin Tantri senang.


"Buat apa juga aku bercanda?"


"Yeiiiy asyiiiik. Pak Miko! Siap-siap saja hari minggu nanti saya akan membuat Anda bangkrut. Isi rekening Bapak akan saya kuras sampai habis," ucap Tantri seraya tergelak. Ia begitu senang kalau diajak belanja. Meskipun ia sudah bisa menghasilkan uang sendiri, tapi jiwa materialismenya masih saja tetap ada.


"Kamu ini. Masih sempat-sempatnya bercanda di jam kerja. Ayo cepat! Lanjutkan pekerjaanmu,"


"Siap, Pak Bos!"


***


Hendra dan Tasya sedang menuju mall terdekat di daerah tempat tinggal mereka. Mereka ingin berbelanja perlengkapan bayi mengingat kandungan Tasya sudah menginjak usia 8 bulan. Tinggal beberapa minggu lagi bayi mereka akan segera terlahir ke dunia.


Mereka juga sudah mengetahui jenis kelamin anak pertama mereka. Jenis kelaminnya adalah perempuan. Tasya merasa sangat bahagia sekali karena ia memang sangat mendambakan anak perempuan. Pasti akan sangat menyenangkan bisa mendandaninya kelak, pikir Tasya.


"Sayang, kamu tidak lupa bawa catatannya, kan?" tanya Hendra sambil fokus menyetir.


"Tidak, sayang. Mana mungkin aku lupa," jawab Tasya. Ia tidak mungkin melupakan catatan itu karena ia yang begitu antusias ingin berbelanja untuk kebutuhan calon bayi mereka nantinya.


Setelah melajukan mobilnya beberapa saat, sampailah mereka di tempat tujuan. Tujuan utama mereka adalah toko yang menjual berbagai macam perlengkapan bayi. Setelah memasuki salah satu toko, mereka pun mulai memilah-memilih barang-barang satu per satu sesuai yang tertulis di catatan belanjanya.


"Sayang! Liat deh, baju ini lucu-lucu," ucap Tasya sambil menunjukkan beberapa baju yang lengkap dengan bando dan kaos kaki.


"Ambil saja kalau kamu suka, sayang."


Usai memilih banyak sekali baju, serta perlengkapan bayi baru lahir lainnya. Mereka pun kemudian mencari kasur bayi yang cocok untuk bayi perempuan mereka nantinya.


"Sayang! Liat deh, sepertinya ini bagus. Kasurnya sudah satu set dengan kelambu. Dan sepertinya bisa diletakkan diatas ranjang kita nanti karena ukurannya tidak terlalu besar," jelas Tasya sambil terus memeriksa kasur bayi tersebut.


Beberapa bulan yang lalu, Hendra sudah mengganti tempat tidur sempit mereka dengan tempat tidur ukuran king size. Karena sebentar lagi mereka tidak hanya tidur berdua, tapi bertiga dengan bayi mereka nantinya.


Dulu sebelum menikah, Hendra sengaja membeli ranjang sempit karena ia ingin tidur berdempet-dempetan dengan istri tercintanya. Tapi sekarang kasur sempit itu sudah tidak dibutuhkan lagi karena sekarang tanpa disuruh pun Tasya akan menempel dengan sendirinya pada sang suami ketika mereka sedang tertidur. Katanya ia tidak bisa tidur kalau tidak memeluk ataupun di peluk oleh suaminya.


"Iya, itu bagus, sayang. Tapi coba lihat yang ini juga, bentuknya sama persis seperti yang kamu pilih. Hanya beda warna dan motif saja. Menurutmu mana yang paling bagus?" tanya Hendra. Tasya melihat kasur bayi itu secara bergantian dan akhirnya pilihannya jatuh pada kasur yang ditunjukkan oleh Hendra karena warna dan motifnya terlihat lebih cantik, lebih lucu dan lebih menarik.