
Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.
...----------------...
"Apa? Kamu bilang apa tadi? Aku nggak denger." tanya Tania. Ia benar-benar tidak mendengar ucapan Radit tadi.
"Nggak. Nggak ada apa-apa kok. Kalau kamu nggak percaya coba kamu cari sendiri harga iPh*ne XS Max Gold di internet. Itu tipe smartphone Kak Hendra sekarang." perintah Radit.
Tania penasaran, ia segera mengambil smartphonenya didalam tas kecilnya. Ia pun mencoba mencari tahu harga smartphone tersebut di google. Setelah mendapatkan yang ia cari, matanya terbelalak melihat nominal yang tertera di layar handphonenya.
"Gila. Jiwa miss queen ku meronta-ronta. Apakah Kakak iparku benar-benar sekaya itu hingga smartphonenya saja bisa semahal ini. Kalau uangnya mau dipake buat beli smartphone seperti punyaku sekarang bisa dapat sepuluh lebih." batin Tania.
"Bagaimana?" tanya Radit.
"Mau Kak Hendra sekaya apapun, aku tetap malu lah minta bantuan dia membiayai kuliahku. Aku masih punya harga diri. Aku akan tetap mencari pekerjaan nanti." Tania.
"Mm ... bagaimana kalau kamu kerja di toko papaku aja. Disana masih butuh satu orang karyawan. Karena karyawan yang kemarin menggantikan kakak ipar, dua bulan lagi dia akan menikah, jadi sebentar lagi dia akan berhenti bekerja. Kalau kamu mau, aku bisa ngomong ke papaku untuk tidak membuka lowongan pekerjaan pada orang lain." tawar Radit.
"Mm ... gimana yah. Nanti aku pikirin deh." jawab Tania berpikir.
"Oke. Aku tunggu yah. Nanti setelah lulus kamu bisa langsung kerja di toko kalau kamu mau." lanjut Radit.
"Semoga aja Tania mau kerja di toko. Aku jadi punya banyak kesempatan buat deketin dia." batin Radit sambil senyum-senyum sendiri.
Radit pun terus melajukan mobil Yaris putihnya melewati aspal mulus dengan kecepatan lumayan tinggi menuju tempat yang ingin mereka tuju.
...----------------...
Pukul 17:30 sore.
Andi dan Tantri sudah kembali ke kediaman Hendra dan Tasya. Mereka sudah selesai menyebar undangan di daerah yang mereka pilih tadi. Sedangkan Dewa dan Dewi sedang dalam perjalanan pulang.
Tasya sudah memasak makanan yang banyak untuk mereka. Sekarang mereka berempat, Hendra, Tasya, Tantri dan Andi duduk bersama di meja makan. Tasya menelpon Dewi untuk menanyakan dimana posisinya sekarang. Ia ingin meminta Dewi dan Dewa juga segera ikut bergabung dengan mereka.
"Halo. Assalamu'alaikum." ucap Dewi diseberang telepon.
"Wa'alaikum salam Dew, lagi dimana sekarang?" tanya Tasya.
"Ini aku udah ada didepan, tinggal nungguin Kak Dewa markirin mobilnya." jawab Dewi.
"Yah udah, kamu langsung masuk aja yah sama Kak Dewa. Kita udah nungguin kalian nih didalam." ujar Tasya.
"Oke." balas Dewi.
Tasya menutup sambungan telponnya dengan Dewi. Sekarang tinggal Tania dan Radit yang belum pulang. Tasya pun mencoba menghubungi Tania.
"Halo. Assalamu'alaikum Kak." suara Tania dibalik telepon.
"Wa'alaikum salam. Udah dimana dek?" tanya Tasya pada Tania.
"Ini kak masih di Jendral Sudirman. Sisa dua undangan lagi." jawab Tania.
"Yah udah. Kalian hati-hati yah. Abis itu cepat pulang. Entar keburu malem." pesan Tasya.
Radit menyambar handphone dari tangan Tania. Tania hanya bisa melotot melihat tindakan Radit yang tiba-tiba, ia tidak bisa berkata apa-apa.
"Halo kakak ipar." sapa Radit diseberang telpon.
"Iya Dit, ada apa?" tanya Tasya pada Radit.
"Jangan khawatirkan kami kakak ipar. Aku akan menjaga Tania. Dia akan baik-baik saja hingga pulang tanpa lecet sedikitpun." ucap Radit.
"Yah udah. Abis itu kalian langsung pulang yah." imbuh Tasya berpesan.
"Gimana ini kakak ipar? Padahal aku udah kelaperan banget nih dari tadi. Masa aku harus nunggu 2 jam lagi untuk ngisi perut. Perjalanan pulang kan butuh waktu kurang lebih 2 jam. Mana lagi ini masih ada 2 undangan yang belum bertuan." jelas Radit. Ia mencari alasan untuk berlama-lama dengan Tania.
"Oke. Kalau gitu kalian carilah tempat makan dulu. Setelah itu kalian langsung pulang yah. Jangan keluyuran, udah mau malem nih." pesan Tasya.
"Siap kakak ipar. Kakak ipar tenang saja kami akan sampai sebelum jam 8 malam." ujar Radit.
"Eh Dit. Rumah 2 orang yang mau dikasih undangan itu masih jauh nggak?" tanya Tasya.
"Ini kita udah sampe didepan rumahnya kak. Kebetulan 2 orang ini bertetangga, jadi bentar lagi kelar." jawab Radit.
"Syukurlah kalau begitu. Yah udah, kakak matiin telponnya dulu yah. Kalian hati-hati, jaga diri kalian. Oh iya, kakak titip Tania yah Dit, tolong jaga dia baik-baik. Jangan sampai terjadi apa-apa padanya." pesan Tasya sebelum menutup telponnya.
"Tentu kakak ipar. Kakak ipar tidak perlu khawatir. Ada aku disini." balas Radit.
Sambungan telpon terputus.
"Gimana sayang? Mereka sudah pulang?" tanya Hendra yang duduk dikursi paling atas.
"Belum sayang. Katanya mereka mau cari makan dulu." jawab Tasya yang duduk disamping kanan depan Hendra.
"Oh. Yah sudah, ayo kita mulai makannya saja sekarang!" ajak Hendra.
Mereka pun memulai makan bersama, Do'a makan dipimpin oleh Hendra. Dewi dan Dewa sudah bergabung tadi. Mereka makan tanpa bersuara sedikitpun, yang terdengar hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring keramik.
Tidak lama setelah mereka kenyang. Andi, Dewa dan Dewi pun berpamitan karena hari hampir maghrib. Tidak lama setelah itu, Tantri juga ikut berpamitan pada Tasya. Mereka masih duduk di ruang makan.
"Kak. Aku pulang dulu yah." pamit Tantri pada Tasya.
"Loh, kenapa dek? Kamu nggak mau nunggu Tania pulang dulu? Atau kamu sekalian bermalam aja dulu disini." tawar Tasya.
"Kayaknya nggak bisa deh kak. Kak Tania kan nanti pulangnya malem. Tadi aku baru ingat kalau aku ada PR yang belum selesai aku kerjakan. Besok diperiksa setelah upacara." jelas Tantri.
Hendra yang barusan dari luar berjalan masuk menghampiri mereka. Hendra baru saja mengantar kepulangan Andi, Dewa dan Dewi sampai di halaman rumah.
"Ada apa sayang?" tanya Hendra.
"Ini sayang. Tantri katanya mau pulang sekarang. Katanya ada PRnya yang belum selesai." jelas Tasya.
"Iya betul sekali kakak ipar." sambung Tantri.
"Yah sudah. Ayo aku antar kamu pulang yah?" ajak Hendra.
"Eh nggak usah kak. Biar aku aja yang bawa motornya pulang. Nanti Kak Tania aja yang diantar pulang." tolak Tantri.
"Yah sudah kamu hati-hati dijalan yah dek." pesan Tasya pada Tantri.
"Iya Kak. Aku balik dulu yah." ujar Tantri seraya mencium punggung tangan Tasya.
"Tunggu sebentar Tantri." cegah Hendra lalu berlari naik menuju kamarnya.
Tasya dan Tantri saling menatap heran. Mereka tidak tahu kenapa Hendra meminta Tantri menunggunya.
"Kak Hendra kenapa kak?" tanya Tantri pada Tasya.
"Kakak juga nggak tahu dek. Kamu tunggu aja sampe Kak Hendra turun." jawab Tasya.