
Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.
...----------------...
"Apa jadinya yah kalau foto seksi seorang gadis berhijab, viral di media sosial?" ucap Radit dengan nada suara yang sengaja ia keraskan.
"Dug".
Jantung Tania tiba-tiba berdebar sangat kencang. Perasaannya berubah jadi tidak enak. Ia jadi teringat akan sesuatu. Ia juga punya satu buah foto yang hanya mengenakan tank top. Foto itu ia ambil secara iseng dikamarnya, karena ia merasa fotonya bagus, ia pun menyimpan foto itu secara tersembunyi di handphonenya.
"Jangan-jangan itu... tapi ah, nggak mungkin dia tahu password handphoneku. Mungkin itu foto orang lain." batin Tania mencoba menepis prasangka buruknya.
"Nia. Apa kamu beneran nggak mau liat? Siapa tau kamu kenal dengan gadis nakal yang ada di foto ini." goda Radit membuat Tania semakin penasaran.
"Sebaiknya aku berbalik dan melihatnya. Nggak ada salahnya juga kan aku melihat foto itu. Aku harus memastikan kalau itu bukan aku. Iya, harus." pikir Tania. Ia pun memutar badannya melihat kearah Radit. Matanya terbelalak kaget melihat siapa gadis yang ada dilayar handphone itu.
Tania shock, ia menjatuhkan dirinya dan terduduk di lantai dengan kedua kakinya ditekuk kebelakang. Kedua tangannya menyangga badannya dipaha agar dirinya tidak sampai ambruk.
"Tidak mungkin! Aku nggak percaya ini. Kamu benar-benar licik Dit. Kamu melakukan cara kotor untuk menjebakku. Awas saja, akan aku balas kamu nanti." batin Tania gemetar sambil mencengkram kain yang menempel dipahanya.
"Bagaimana mungkin foto itu bisa ada di hp Radit? Bagaimana bisa Radit tahu password smartphoneku?" batin Tania lagi.
Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang hinggap dikepalanya.
Tania berusaha bangkit dari duduknya. Ia kembali menutup pintu kamar itu dan berjalan menghampiri Radit yang masih diduduk ditempatnya. Kali ini ia akan melakukan apapun yang Radit mau, termasuk menjadi pacar Radit. Asalkan Radit berjanji tidak menyebarkan fotonya di media sosial. Karena ia pasti akan sangat malu dan kehilangan muka kalau fotonya sampai tersebar.
Tania lalu duduk bersimpuh dihadapan Radit dan berkata, "Dit. Aku ... aku mau jadi pacar kamu." ucap Tania pasrah.
"Apa? Aku nggak denger?" tanya Radit pura-pura tidak dengar.
"Aku mau jadi pacar kamu." ucap Tania lagi lemas.
"Apa? Aku nggak denger? Lebih keras lagi." perintah Radit.
Tania mulai kesal. Ia pun lalu berteriak, "Radit. Aku mau jadi pacar kamu. Aku mau jadi pacar kamu. Aku mau ja ..." teriakannya terhenti saat Radit menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya.
"Sudah, cukup sayang. Aku tahu kalau kamu nggak mungkin menolak aku yang ganteng ini jadi pacar kamu." ucap Radit dengan percaya dirinya.
"Uweek. Pede gila nih orang." batin Tania.
"Tapi kamu harus janji nggak bakal nyebarin foto itu." ucap Tania setelah menurunkan tangan Radit yang menyentuh bibirnya.
"Dit. Bisa nggak foto itu kamu hapus aja. Aku mohon Dit hapus foto itu di hp kamu." pinta Tania dengan wajah memelas memohon didepan Radit sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Maaf Nia. Kalau soal itu, aku nggak bisa mengabulkan permohonan kamu." tolak Radit sambil membantu Tania berdiri dari posisinya.
Tania menunduk sedih karena kecewa. Ia tidak bisa membujuk Radit untuk menghapus fotonya.
"Aku tidak bisa menghapus foto itu Nia. Karena itu satu-satunya senjata yang aku punya untuk membuatmu tetap berada disisiku." batin Radit sambil menatap lekat wajah cantik Tania.
***
25 Menit kemudian, Hendra dan Tasya sudah sampai di depan kampus. Hendra menepikan mobilnya dipinggir jalan dekat jalan masuk kampus.
"Sayang. Mau aku antar kamu sampai di kelas?" tanya Hendra.
"Mm ... Terserah kamu sayang." jawab Tasya sembari melepas safety beltnya.
"Yah sudah. Aku antar yah sayang." lanjut Hendra sambil melepas safety beltnya pula.
Tasya hanya mengangguk sambil tersenyum tanda setuju.
"Cium dulu dong." Hendra menunjuk pipinya minta di cium sebelum mereka masuk.
Tasya tersenyum lalu mencium semua bagian wajah suaminya seperti biasanya. Hendra pun juga melakukan hal yang sama pada istrinya.
"Sayang. Aku pasti akan sangat merindukanmu nanti." ucap Hendra sambil memegang kedua pipi Tasya menatap lekat mata indah istrinya. Rasanya ia tidak ingin berpisah walau sebentar saja.
"Sayang. Aku kan cuma setengah hari disini. Tidak lama kok." balas Tasya sambil memegang kedua tangan Hendra yang menyentuh pipinya.
"Iya sayang. Aku tahu. Tapi ini pertama kalinya kita berpisah setelah kita menikah. Aku pasti akan kesepian nanti dirumah. Aku pasti akan sangat merindukan belaian darimu." ucap Hendra lalu memeluk Tasya.
"Sabar sayang. Cuma sebentar kok. Lagian ini cuma berlansung beberapa hari saja. Setelah itu kan kita akan punya banyak waktu lagi untuk bersama." balas Tasya mencoba menyemangati Hendra yang manja sambil mengelus-elus punggungnya.
"Yah sudah ayo kita masuk sayang. Nanti kamu terlambat." ujar Hendra seraya melepas pelukannya. Tasya membalas dengan mengangguk.
Mereka pun keluar dari mobil dan berjalan bersama menuju gedung perkuliahan. Hendra merangkul bahu Tasya sedangkan Tasya merangkul pinggang Hendra. Banyak pasang mata yang memperhatikan kemesraan mereka. Ada yang kagum karena mereka terlihat sangat serasi. Dan ada juga yang iri ingin berada diposisi salah satunya.
Roy adalah salah satunya yang memperhatikan kemesraan mereka dari tadi. Roy mengepalkan tangannya karena cemburu melihat Tasya berjalan dengan mesranya dengan Hendra. Meskipun waktu itu Hendra sudah memperingatinya untuk tidak mengganggu Tasya lagi tapi dia tidak peduli. Selama janur kuning belum melengkung, ia masih memiliki kesempatan, pikir Roy. Dikampus itu, tidak ada yang tahu kalau Tasya sudah menikah dengan Hendra, kecuali Wildan.
Wildan juga menyaksikan kemesraan mereka dari kejauhan. Tidak beda jauh dengan perasaan Roy, ia juga sangat cemburu melihat kemesraan pasangan suami istri tersebut. Bedanya adalah, Wildan tahu kalau Tasya sudah bersuami, sedangkan Roy belum mengetahuinya. Meskipun sudah tahu status Tasya tapi Wildan masih tetap menyukai Tasya.