
Setelah Hendra dan yang lainnya keluar dan sudah sampai di parkiran. Mereka terus mencari sosok Radit dan Tania tapi tidak ketemu-ketemu juga. Karena khawatir dan lelah mencari keduanya yang tidak kunjung ketemu. Hendra pun akhirnya kepikiran untuk menelepon Radit.
"Halo kak. Ini aku, Tania." Tania yang menjawab panggilan Hendra menggunakan ponsel Radit.
"Loh, Tania. Kalian dimana? Kenapa bukan Radit yang mengangkat telponnya." tanya Hendra semakin khawatir.
"Radit sakit kak. Dan maaf kami pulang duluan tanpa memberitahu kalian. Kami sedang naik taxi sekarang. Kalian jangan khawatir, sebentar lagi kami juga sampai di hotel." jelas Tania.
"Radit sakit? Dia sakit apa? Kok bisa? Bukannya dia baik-baik aja tadi." tanya Hendra panik.
"Radit cuma deman kak. Tadi dia kelamaan duduk diluar dan mungkin dia masuk angin." jelas Tania.
"Apa? Masuk angin? Yah ampun Radit, kenapa bosa sebodoh itu?" tanya Hendra sambil mengusap wajahnya.
"Aku aku juga nggak tau kak." jawab Tania. Ia tidak mau mengatakan kalau Radit cemburu pada Miko. Makanya ia tinggal diluar dan tidak mau masuk kedalam restoran lagi.
"Yah udah. Kalian hati-hati yah. Tania, aku minta tolong kamu jaga Radit yah." ucap Hendra.
"Iya kak. Pasti." ucap Tania sebelum akhirnya Hendra memutuskan panggilannya.
Semua terlihat panik saat mengetahui Radit sakit.
"Sayang. Radit sakit apa?" tanya Tasya.
"Kata Tania, badannya panas. Mungkin masuk angin katanya." jawab Hendra.
"Oh, kalau gitu. Kita cariin dia obat dulu yah sayang." ujar Tasya.
"Iya sayang." balas Hendra seraya mengangguk.
"Vin. Kita mampir di apotek dulu yah." ujar Hendra pada Kevin.
"Oke." jawab Kevin.
"Nak Miko. Ibu ikut di mobilnya Nak Kevin aja, soalnya Tania sama Radit sudah balik duluan." ujar Bu Indah pada Miko.
"Baik tante. Terserah tante saja." balas Miko.
***
Tania dan Radit sudah sampai di hotel. Dan mereka sudah masuk dikamar Radit. Tania membaringkan Radit ditempat tidurnya. Setelah itu, ia membantu Radit melepas sepatu, kaos kaki, dan membantu menyelimutinya sampai dada. Tania kembali memeriksa suhu badan Radit, ternyata semakin panas saja.
"Yah ampun Dit. Badan kamu panas banget. Apa kamu dibawa kerumah sakit aja kali yah?" tanya Tania khawatir dengan keadaan Radit.
"Nggak usah Nia. Aku nggak apa-apa kok." kata Radit.
"Badan kamu panas begini, kamu bilang nggak apa-apa?" ujar Tania sedikit meninggikan suaranya.
"Iya, beneran Nia. Itu karena AC dikamar ini suhunya dingin banget makanya suhu badan aku jadi naik. Coba kamu matiin sebentar, pasti nanti panasnya berangsur turun." jelas Radit.
"Oh, yah udah deh. Tapi kalau kamu nanti pengap bilang aja yah, biar aku nyalain lagi AC nya." kata Tania. Radit hanya mengangguk.
"Nia. Kamu temenin aku yah, sampai aku sembuh." pinta Radit.
"Tentu saja. Kamu jangan khawatir. Aku pasti ngerawat kamu sampai kamu benar-benar sembuh." ucap Tania sambil mengelus kepala Radit.
"Makasih." ucap Radit tersenyum.
"Oh iya. Kalau gitu aku cari alat kompres dulu yah." ujar Tania.
Setelah mengambil sapu tangan Radit. Tania pun masuk ke kamar mandi untuk merendam sapu tangan itu menggunakan air hangat. Setelah selesai, ia pun menempelkan sapu tangan hangat itu di jidat Radit.
"Tok tok tok."
"Eh, bentar yah Dit. Mungkin itu orang-orang yang udah pada sampai." ujar Tania seraya berjalan membuka pintu.
"Bagaimana keadaan Radit?" tanya Hendra setelah melihat Tania yang membukakannya pintu.
"Mm ... belum mendingan kak. Silahkan masuk." kata Tania.
Hendra beserta Tasya dan Bu Indah pun segera masuk kamar melihat keadaan Radit. Sedangkan Pak Gunawan beserta bu Arini pergi ke kamarnya sebentar.
"Radit. Kamu kenapa bisa jadi begini sih? Hah." tanya Hendra khawatir.
"Tadi aku cuma kelamaan diluar kok kak. Nggak apa-apa, Kak Hendra nggak usah khawatir. Bentar lagi juga sembuh." jawab Radit.
"Memangnya kamu tadi ngapain diluar lama-lama? Kenapa kamu nggak masuk?" tanya Hendra.
Radit terdiam. Tidak mungkin dia mengatakan pada Hendra kalau ia cemburu pada Miko.
"Kenapa kamu diam aja? Jawab pertanyaanku." seru Hendra.
"Udah ah kak. Aku lagi nggak enak badan. Aku mau istirahat. Aku mau tidur dulu." jawab Radit mengalihkan topik pembicaraan. Ia lalu berbalik dan membelakangi Hendra.
"Tidak biasanya Radit bersikap seperti ini. Apa jangan-jangan dia sudah tau kalau Miko naksir sama Tania? Aku yakin, ini pasti ada hubungannya dengan kejadian saat makan malam tadi." batin Hendra.
"Yah sudah, kamu istirahat dulu. Aku mau balik ke kamar. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku." ujar Hendra. Radit hanya membalasnya dengan anggukan kecil.
"Cepat sembuh yah." ucap Hendra lagi sambil menepuk pelan bahu Radit. Ia lalu beranjak menghampiri yang lainnya.
"Bu. Boleh tidak Hendra minta ijin sama ibu?" tanya Hendra pada ibu mertuanya.
"Apa itu nak Hendra?" tanya Bu Indah.
"Hendra mau meminta ijin ibu untuk Tania. Hendra mau, Tania menemani Radit disini bu malam ini. Saya harap ibu mau mengijinkannya." ujar Hendra penuh harap.
Terus terang Hendra sangat mengkhawatirkan Radit. Ditambah lagi ucapan Miko yang katanya mau merebut Tania dari tangan Radit. Hal itu semakin memberatkan pikirannya.
Bu Indah tidak tahu harus menjawab apa. Yang ada dipikiran Bu Indah sekarang adalah, tidak baik meninggalkan laki-laki dan perempuan yang sudah baligh didalam satu ruangan tertutup berdua apalagi mereka bukan muhrim.
Hendra mengerti kekhawatiran Bu Indah karena tersirat jelas dimata sang mertua.
"Bu. Hendra mohon Bu. Hendra berani jamin, kalau Radit tidak mungkin berani macam-macam pada Tania." bujuk Hendra.
"Tapi nak Hendra ..." ucap Bu Indah ragu.
"Tolonglah bu, setidaknya sampai Radit sembuh. Saya mohon bu." pinta Hendra sambil mengatupkan kedua tangannya.
Melihat suaminya yang memohon-mohon seperti itu pada ibunya. Tasya tahu, kenapa suaminya sampai melakukan hal seperti itu bukan berarti tanpa sebab. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya tersebut, pikir Tasya.
"Ijinkan saja bu, tidak apa-apa. Aku juga berani jamin, kalau Radit tidak mungkin macam-macam." kata Tasya membantu suaminya meyakinkan ibunya.
"Iya bu, nggak apa-apa. Tania akan tidur di sofa bu. Ibu nggak usah khawatir. Lagipula kalau Radit ditinggal sendiri kan kasihan." sambung Tania ikut meyakinkan Bu Indah.
"Kalau kalian berkata seperti itu, ibu bisa apa. Tania kamu bisa jaga diri kan nak?" ujar Bu Indah pasrah.
"Iya bu. Tania bisa jaga diri kok." jawab Tania yakin.