How To Love You

How To Love You
Bab 149



Radit punya ide untuk memancing emosi Tania semakin meluap-luap. Dan tentunya cara itu dijamin sangat ampuh untuk membuat gadis itu mau tidak mau terpaksa harus berbalik dari posisinya.


"Nia, boleh tidak aku ... memeluk dan mencium kamu untuk yang terakhir kalinya?" tanya Radit sambil kembali menarik lengan Tania untuk menghadap ke arahnya.


Radit yakin, cara ini pasti akan berhasil untuk membuat gadis kepala batu itu berbalik dan mengamuk padanya.


Dan jelas saja, mata Tania langsung terbelalak mendengar ucapan Radit. Emosinya sudah naik ke ubun-ubun mendengarkan permintaan Radit yang menurutnya sangat tidak sopan. Ia sangat marah dan jengkel pada Radit. Apalagi setahu Tania, sebentar lagi Radit akan menikah dengan wanita lain. Kenapa Radit masih berani meminta semua itu padanya? Pikirnya.


Dengan cepat Tania berbalik dan menghantam Radit menggunakan Tas yang ada di pangkuannya. Dia memang sudah menahan emosinya dari tadi.


"Dasar cowok bre***ek, ba**nga, an**ng, ba***at, kurang ajar! Kamu pikir aku ini cewek apaan hah?!" maki Tania sembari memukul kepala Radit menggunakan tasnya secara bertubi-tubi.


"Auwh, Tania sakit!" ucap Radit seraya menangkap kedua tangan Tania.


"Lepasin! Dasar cowok nggak bertanggung jawab, b*nci, pen*ecut, pecun*ang," ucap Tania tiada hentinya memaki Radit.


"Kamu bilang apa tadi? Aku nggak bertanggung jawab? Nggak salah tuh?" tanya Radit.


Radit tidak menyangka kalau Tania akan menganggapnya seperti itu.


"Iya. Kenapa, kamu keberatan, hah?!" jawab Tania menantang Radit.


"Iya, jelas lah aku keberatan, karena aku nggak merasa seperti itu. Aku harap kamu mau menarik kata-katamu kembali," ujar Radit.


"Lepasin!" kata Tania seraya menarik kedua tangannya yang ada di cengkraman Radit.


"Oh, jadi menurut kamu, selama ini aku laki-laki yang nggak bertanggung jawab, gitu?" tanya Radit ingin memastikan.


Tania hanya terdiam sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dadanya kembang kempis, napasnya juga cepat tak beraturan. Ia merasa sangat marah, kesal, jengkel, sekaligus sakit hati pada Radit. Ia mengarahkan pandangannya lurus ke depan.


"Nia, asal kamu tahu, yah. Aku ini laki-laki yang bertanggung jawab. Kamunya aja yang nggak mau menerima pertanggung jawaban dari aku. Apa lamaranku belum cukup untuk membuktikan semuanya sama kamu?"


"Dan kalau kamu menginginkan pertanggung jawaban dari aku, lalu kenapa kamu menolak mentah-mentah lamaranku waktu itu? Jawab!"


Tania tidak menjawab. Ia masih terdiam. Ia masih berusaha untuk menenangkan dirinya.


"Jawab aku Nia, kenapa kamu menolakku? Kurang apa lagi aku ini, hah?" tanya Radit.


"Oh, aku tau. Mungkin karena aku nggak setajir laki-laki dewasa itu, iya?"


"Jaga mulut kamu, Dit. Ini sama sekali nggak ada kaitannya dengan Kak Miko. Ini murni kesalahan kamu sendiri. Lagian kamu jangan selalu menyalah artikan kebaikan orang lain." balas Tania.


"Iya, aku tahu aku salah. Makanya aku mau bertanggung jawab. Aku mau nikahin kamu Nia." jelas Radit.


Tania kembali terdiam.


"Aku tuh nggak ngerti, mau kamu apa sih sebenarnya? Kamu menuduh aku nggak bertanggung jawab. Sedangkan aku mau mempertanggung jawabkan perbuatanku, tapi kamu malah nolak. Heran," ujar Radit.


Radit meluapkan segala kekesalannya yang ia pendam selama 2 minggu terakhir. Tania hanya terdiam, ia menyadari ucapan Radit memang ada benarnya. Keegoisan dan sifat keras kepalanya lah yang membuat hubungan diantara mereka berdua menjadi rumit. Andai saja Tania langsung mengiyakan lamaran Radit waktu itu, pasti semuanya akan menjadi mudah dan tidak ada yang tersakiti.


"Sebegitu nggak berharganya, yah aku dimata kamu." ujar Radit.


"Kamu tuh yang nggak ngehargai aku, Dit. Setelah semua yang pernah kamu lakukan ke aku, kamu malah mau nikahin cewek lain. Kamu pikirin dong perasaan aku, Dit. Jahat banget sih kamu, huhuhu."


Air mata Tania seketika tumpah. Ia tak kuasa lagi membendungnya. Menyadari kenyataan bahwa laki-laki yang ia cintai itu sebentar lagi akan menikah dengan wanita lain. Membayangkannya saja ia tidak sanggup. Apalagi jika itu sampai benar-benar terjadi.


Selama ini Tania terlalu gengsi untuk menyatakan perasaannya yang sebenarnya. Ia sangat menyukai kalau Radit selalu mengejar-ngejarnya. Sekali pun ia tidak pernah mengatakan bahwa ia juga mencintai pemuda itu.


"Jangan salahin aku, Nia. Salahin juga diri kamu sendiri. Kalau aja kamu nggak menolak, semua ini nggak bakalan terjadi. Sekarang kamu harus terima kenyataan kalau sebentar lagi aku akan menikah deng--"


"Yah udah, nikah aja sana. Aku nggak peduli!" bentak Tania memotong ucapan Radit sambil terus menangis.


"Kalau kamu nggak peduli, ngapain kamu nangis?" tanya Radit sambil mengulum tawanya.


"Nia, Nia. Ngegemesin banget sih. Seru juga yah ternyata ngerjain kamu sayang. Ini balasan buat kamu, karena kamu udah tega nyiksa aku selama 2 minggu ini. Ide Kak Hendra memang the best." batin Radit.


"Aku nggak nangis karena itu," bohong Tania.


Sekuat tenaga Tania mencoba untuk berhenti menangis di depan Radit. Ia mengambil kotak tissu yang ada di dash board mobil. Ia lalu mengambil isinya beberapa lembar untuk mengeringkan air mata yang sudah berseluncur membasahi pipinya.


"Aku harus kuat, aku harus kuat. Iya, aku nggak boleh lemah. Nggak boleh. Aku harus buktiin kalo aku juga bisa dapetin penggantinya dia." batin Tania sambil menarik napasnya dalam-dalam.


Setelah beberapa menit saling diam. Tania pun akhirnya bisa berhenti menangis juga. Setelah melitat Tania sudah cukup tenang, Radit pun kemudian meraih undangan yang terjatuh di dekat kaki Tania. Undangan itu terjatuh saat Tania mengamuk padanya tadi.


"Nih, simpan baik-baik. Aku harap kamu bisa hadir dihari bahagiaku?" ujar Radit sambil menarik sebelah tangan Tania, menengadahkannya lalu meletakkan undangan itu di atas tangan Tania.


Tania yang tadinya sudah sedikit tenang, kini emosinya kembali terpancing. Melihat undangan itu ada nama Radit dan perempuan lain, ia sudah tidak tahan lagi untuk tidak merobek-robeknya hingga hancur.


"Persetan dengan hari bahagiamu itu!" teriak Tania sembari menghamburkan sobekan-sobekan kertas bernama undangan itu ke wajah Radit. Ia merasa sangat marah sekali.