
Keesokan harinya, pukul 08:30 pagi.
Ini pertama kalinya Hendra dan Tasya kesiangan. Biasanya mereka bangun untuk shalat subuh berjamaah, namun kali ini tidak. Mungkin karena kelelahan bertempur sampai lewat tengah malam. Mereka jadi tidur dengan sangat nyenyak. Bahkan alarm yang berbunyi berkali-kali pun tak mampu membuat mereka terbangun dari tidurnya.
Saat ini Tasya baru terjaga dari tidurnya, ia melirik suaminya yang masih terlelap sambil memeluk dirinya. Perlahan ia melepas tangan Hendra dengan sangat hati-hati. Ia takut Hendra akan ikut terbangun akibat pergerakannya. Ia pun lalu memberikan morning kiss seperti biasanya pada suaminya sebelum ia beranjak dari tempat tidur. Hendra tidak bergeming dari tidurnya, pasti karena ia terlalu kelelahan menghabiskan banyak tenaga untuk permainan kuda-kudaannya tadi malam.
Pelan-pelan Tasya beranjak meninggalkan tempat tidur, berjalan terseok-seok menuju kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, ia mencuci wajah dan berkumur-kumur di wastafel. Tasya melihat pantulan dirinya di cermin. Ia melihat banyak sekali tanda merah di leher dan dadanya.
"Yah ampun. Untung aku pakai pakaian tertutup kalau keluar. Kalau tidak, pasti akan sangat memalukan." ucapnya sambil geleng-geleng kepala melihat ulah suaminya tadi malam.
"Aduh. Badanku sakit sekali. Pinggangku juga rasanya mau patah." ucapnya sambil memegangi pinggangnya yang sakit karena terlalu lama bermain tadi malam.
Tasya keluar dari kamar mandi untuk mengambil pakaian ganti. Setelah itu ia kembali masuk dan mengisi bathup dengan air hangat. Ia ingin berendam untuk mengurangi pegal-pegal pada sekujur tubuhnya. Setelah berendam air hangat selama 30 menit, ia pun mengguyur dirinya dengan air shower. Setelah itu, ia keluar setelah lengkap dengan pakaian ganti yang ia bawa tadi.
Tasya melihat suaminya yang masih belum juga terjaga dari tidurnya. Ia lalu memutuskan untuk melanjutkan rutinitas hariannya memoles make up tipis diwajah mulusnya.
15 Menit kemudian, Tasya sudah selesai dengan rutinitas hariannya, memoleskan make up natural di wajahnya. Tasya melirik suaminya yang masih saja belum terjaga dari tidurnya. Tiba-tiba muncul ide jail untuk mengerjai Hendra yang masih asyik bergelut dengan dunia mimpinya tersebut.
"Sekali-kali ngerjain suami nggak apa-apa kan. Biar seru aja gitu, biar ada sedikit hiburan. Anggap saja ini balasan karena telah membuatku kecapekan tadi malam." gumam Tasya.
Tasya lalu menghampiri suaminya dengan lipstick di tangannya, yang akan ia pakai untuk melukis diwajah sang suami. Tanpa menunggu lama, ia pun segera memulai aksinya. Ia mulai melukis wajah suaminya dengan lipstick. Pertama-tama ia menulis sesuatu di jidat sang suami. Yang punya wajah hanya menggeliat sedikit saat lipstick itu mulai di poleskan di jidatnya. Tasya mengulum tawanya saat tengah melakukan aksi jailnya tersebut. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan aksinya. Ia cekikikan saat melihat hasil karyanya sendiri. Entah akan seperti apa reaksi Hendra saat melihat wajahnya di cermin saat bangun tidur nanti.

Setelah puas menertawai Hendra tanpa disadari laki-laki itu. Tasya pun melangkahkan kakinya menuju dapur, ia ingin membuat sarapan sekaligus memasak makan siang untuk mereka berdua.
30 Menit kemudian
Hendra akhirnya terjaga dari tidurnya, ia melihat kesamping kirinya, namun ia sudah tidak mendapati sang istri tercinta.
"Pasti sekarang dia sedang memasak di dapur." batin Hendra.
Hendra menggeliatkan badannya pelan lalu bangun sambil mengucek-ngucek mata dengan kedua tangannya. Ia berjalan menuju kamar mandi hendak membasuh mukanya dengan air untuk menghilangkan rasa kantuknya. Betapa kagetnya ia saat melihat pantulan wajahnya di cermin.
"Astagfirullah." ucap Hendra kaget sambil mengucek-ngucek matanya mengecek apakah ia tidak sedang salah lihat.
"I love istriku." kata Hendra saat membaca tulisan dijidatnya.
"Yah ampun ... istriku sayang." ucapnya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat coretan-coretan lipstick yang ada diwajahnya.
"Tanpa kamu tulis pun aku sudah sangat mencintaimu sayang." ucap Hendra berbicara sendiri.
Hendra tidak jadi mencuci mukanya, ia memutuskan untuk turun menghampiri Tasya yang sudah berbuat iseng padanya. Ia ingin meminta pertanggung jawaban sang istri yang telah berani mengerjainya.
Di dapur, Tasya sedang bergelut dengan bahan makanan. Tanpa ia sadari, Hendra berjalan sambil mengendap-ngendap dibelakangnya seperti seorang pencuri. Tasya sedang mencuci sayuran menggunakan air di keran. Tiba-tiba Hendra memeluknya dari belakang.
"Kena kamu. Kamu tidak bisa lari lagi sayang." ucap Hendra sambil memeluk erat perut istrinya.
"Aah." pekik Tasya kaget karena suaminya tiba-tiba saja memeluknya dari belakang tanpa ia sadari kedatangannya.
"Kamu harus tanggung jawab." bisik Hendra di telinga istrinya.
"Kamu bikin kaget aja sayang." kata Tasya sambil mengelus dadanya.
"Kira-kira, istri jail itu enaknya dihukum apa yah?" tanya Hendra sambil menggigit pelan telinga istrinya yang ditutupi dengan hijab instan.
"Geli sayang." ucap Tasya seraya berbalik menatap wajah suaminya.
"Eh, malah ketawa lagi. Bener-bener kamu yah minta dihukum." ucap Hendra pura-pura marah.
Bukannya minta maaf, Tasya malah mencubit kedua pipi suaminya lalu mencium bibir Hendra dengan cepat.
"Aku sayang kamu, suamiku sayang." ucap Tasya sambil masih meletakkan kedua telapak tangannya dipipi suaminya.
Hendra tersenyum bahagia mendengar ucapan istrinya. Kali ini, ia benar-benar sangat bahagia mendengar penuturan sang istri.
"Aku juga sangat menyayangimu, istriku sayang. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu." ucap Hendra lalu memeluk erat tubuh istrinya. Mereka saling berpelukan erat didapur, seketika Hendra lupa dengan coretan lipstick diwajahnya.
"Sarapan dulu yuk sayang! Aku sudah membuat Roti bakar dan susu untuk kamu." ajak Tasya seraya melepas pelukan suaminya.
"Tunggu dulu sayang. Sekarang giliran aku yang membuatkan susu untuk kamu." ujar Hendra lalu mengecup sekilas bibir istrinya.
Tasya hanya mengangguk mendengar ucapan suaminya. Ia lalu duduk di meja makan sambil menunggu Hendra selesai membuatkan susu ibu hamil untuknya.
Tidak lama kemudian, Hendra ikut duduk disamping istrinya dengan sebuah gelas berisikan susu coklat ditangannya untuk sang istri.
"Minumlah sayang. Semoga disini cepat hadir Hendra junior ataupun Tasya junior." ucap Hendra seraya mengelus-elus perut istrinya yang langsing dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Selama kita berdo'a dan berikhtiar, in syaa Allah, Allah pasti akan kasih." balas Tasya sambil memegang gelas susu yang diberikan oleh Hendra tadi.
"Mm ... habis sarapan, kita ikhtiar lagi yah sayang." ajak Hendra.
Tasya melongo mendengar ajakan suaminya. Bagaimana tidak, rasa pegal disekujur tubuhnya saja belum hilang, ia sudah di ajak bermain lagi.
"Sayang. Aku kan mau masak dulu, kalau kita kelaparan nanti bagaimana? Kita jadi tidak punya tenaga kan untuk berikhtiar lagi." kata Tasya mencari alasan yang masuk akal untuk menolak ajakan suaminya secara halus.
"Kita makan diluar aja sayang." ujar Hendra.
"Terserah kamu aja deh, sayang." ucap Tasya pasrah. Ia sudah tidak bisa lagi menolak ajakan suaminya kalau sudah seperti ini karena ia tidak punya alasan lain lagi.
"Nah, begitu dong. Aku kan makin cinta dan makin sayang kalau kamu penurut." ucap Hendra sambil mengelus-elus puncak kepala istrinya.
Tasya hanya membalas suaminya dengan senyuman manisnya. Ia lalu segera menghabiskan susu yang dibuatkan oleh Hendra. Setelah itu, ia menyuapi suaminya yang manja dengan roti bakar yang dibuatnya tadi. Setelah selesai sarapan, Hendra mengajak istrinya untuk naik ke kamar melanjutkan ikhtiar mereka membuat anak.
Baru saja mereka hendak menaiki tangga, tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi.
"Sayang. Aku buka pintunya dulu yah." ucap Tasya.
"Jangan sayang. Biar aku saja yang buka." balas Hendra.
Tasya terkekeh, "Sayang. Kamu mau keluar dengan wajah seperti ini?" tanyanya sambil menunjuk wajah suaminya yang penuh dengan coretan lipstik.
"Oh iya, aku lupa sayang." balas Hendra seraya ikut terkekeh juga.
"Yah sudah, kamu naik dulu yah sayang. Entar aku nyusul." ucap Tasya.
"Iya sayang." balas Hendra lalu berjalan naik menyusuri anak tangga.
Setelah melihat suaminya naik, Tasya pun beranjak membuka pintu mengecek siapa yang datang. Setelah menarik gagang pintu, Tasya melihat dua sosok yang tidak asing dimatanya.
"Eh, Tania, Radit. Ayo masuk!" ajak Tasya. Ia baru mengingat kalau kemarin ia memanggil kedua pasangan sejoli itu untuk datang kerumahnya.