How To Love You

How To Love You
Bab 133



Pukul 08:00


Tania terjaga dari tidurnya. Setelah mencuci muka dan berkumur-kumur didalam kamar mandi, ia pun lalu beranjak keluar menuju dapur. Ia tidak melihat adanya tanda-tanda kehidupan dari penghuni lainnya. Setelah sampai di dapur ia langsung membuka kulkas, berharap ia bisa menemukan makanan didalam sana. Karena rumah itu sudah hampir 2 minggu ditinggal oleh pemiliknya.


Beruntunglah karena Tania mendapati kulkas itu sudah penuh dengan banyak sekali makanan dan bahan makanan yang masih segar. Itu karena Bu Arini yang sudah mengisi ulang kulkas itu setelah tahu anak dan menantunya akan pulang.


Tania mengambil segelas jus guava dan roti untuk menjadi sarapannya pagi itu. Setelah selesai sarapan, ia pun lalu memasak dan menyiapkan makanan untuk semua orang yang ada dirumah besar itu.


Setelah hampir 2 jam bergelut sendiri di dapur. Makanan pun siap dihidangkan di meja makan. Karena merasa pekerjaannya sudah selesai, Tania pun kembali ke kamar. Ia ingin mandi dan berganti pakaian disana. Sebelumnya ia memang sengaja menyimpan 2 pasang bajunya di dalam lemari dikamar tersebut. Jadi ia tidak perlu lagi repot-repot membawa pakaian ganti saat ia bermalam dirumah kakaknya.


Kamar Hendra dan Tasya, Pukul 10:30


Tasya baru terbangun dari tidurnya. Ia mendapati suaminya masih terlelap sambil memeluk dirinya dengan erat. Tasya mencoba melepaskan pelukan suaminya dengan pelan. Seperti biasa, Hendra sangat mudah sekali terjaga dari tidurnya.


"Sudah jam berapa sayang?" tanya Hendra dengan suara parau khas bangun tidur.


Tasya pun meraih ponselnya yang ia letakkan di meja nakas.


"Sudah jam setengah 11, sayang." jawab Tasya.


"Sudah hampir siang ternyata," ujar Hendra sembari melepas pelukannya lalu mengeliatkan tubuhnya yang terasa pegal dan kaku.


"Sayang, aku lapar," ujar Hendra lagi.


"Ayo bangun! Kita cari makanan di kulkas." ajak Tasya.


"Tapi aku maunya makan nasi goreng buatan kamu, sayang," ujar Hendra dengan nada sedikit merengek.


Tasya tersenyum. Ia lalu melakukan rutinitas bangun tidur mereka yang tidak pernah mereka lewatkan sekalipun setelah mereka menikah. Yaitu, saling mencium seluruh bagian wajah satu sama lain secara bergantian.


Mereka berdua turun menuju dapur sambil masih mengenakan pakaian tidur. Setelah sampai didapur, Tasya pun hendak mengambil semua bahan yang ia perlukan didalam kulkas. Langkahnya terhenti saat ia mendapati sudah ada makanan yang siap di meja makan.


"Pasti Tania yang masak. Aku ajak Kak Hendra makan ini aja," gumam Tasya.


Tasya pun lalu menghampiri suaminya yang berdiri didekat jendela.


"Sayang, Tania sudah menyiapkan makanan. Bagaimana kalau kita makan makanan yang sudah siap saja?" tanya Tasya meminta persetujuan suaminya.


"Aku tidak mau sayang. Aku maunya makan nasi goreng buatan kamu." tegas Hendra.


Entah mengapa Hendra merasa sedikit kesal karena istrinya mengajaknya memakan makanan yang ada. Padahal ia sedang ingin sekali memakan nasi goreng buatan istrinya. Ia juga sebenarnya merasa heran dengan sikapnya itu. Biasanya dia makan apa saja yang ada. Tidak tahu kenapa, sekarang rasanya ia tidak ingin makan apapun selain nasi goreng yang dibuat oleh istri tercintanya.


"Baiklah, tunggu sebentar yah sayang aku buatkan dulu." ujar Tasya.


Tasya pun kemudian segera membuka kulkas dan mengambil telur, jagung manis, cabe merah, mentimun, dan bahan lain yang ia perlukan. Setelah semua bahan siap, ia pun lalu mengupas kulit bawang merah dan bawang putih yang ingin ia jadikan bumbu nasi gorengnya.


Seperti biasa, Hendra selalu menghampiri dan memeluk istrinya dari belakang saat Tasya sedang memasak. Tasya diam saja sambil terus melakukan pekerjaannya saat Hendra menenggerkan dagunya dibahunya. Ia sudah terbiasa dengan perlakuan suaminya tersebut.


Saat Tasya tengah memotong-motong tipis bawang merahnya. Aroma bawang itu tercium di hidung Hendra. Tiba-tiba saja Hendra merasa mual dan ingin muntah mencium aroma tersebut.


"Uu, uweek,"


"Sayang, kamu kenapa? Kamu sakit," tanya Tasya.


Hendra hanya menggelengkan kepalanya. Rasa mualnya sudah tidak tertahankan lagi. Ia pun lalu memuntahkan isi perutnya di wastafel cuci piring yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Uweek uweeek,"


"Sayang, apa kamu sakit?" tanya Tasya seraya memijit tengkuk suaminya.


Setelah Hendra selesai memuntahkan isi perutnya dan berkumur-kumur, Tasya pun lalu membimbing suaminya untuk duduk di meja makan. Wajah Hendra terlihat pucat. Sepertinya perasaannya sangat tidak enak. Tasya menempelkan punggung tangannya di kening suaminya. Ia merasa suhu badan Hendra normal-normal saja.


"Sayang, kamu sakit? Apa kepalamu pusing? Aku panggilin dokter Desi, yah." ujar Tasya.


Dokter Desi adalah seorang dokter umum yang tinggal tidak jauh dari rumah mereka.


"Tidak usah sayang. Mungkin ini masih efek mabok udara kemarin." tolak Hendra.


"Benar kamu tidak apa-apa?" tanya Tasya ingin memastikan.


"Iya, sayang. Aku tidak apa-apa," jawab Hendra.


Tasya menatap suaminya. Seolah-olah ia tidak percaya dengan ucapan suaminya.


"Beneran, sayang. Aku tidak apa-apa. Lebih baik kamu lanjutkan pekerjaanmu, aku sudah kelaparan." ujar Hendra sudah tidak sabar untuk segera menyantap nasi gorengnya.


Tasya pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Setelah selesai memotong bawang dan bahan lainnya. Tasya pun menyalakan kompor lalu menuangkan sedikit minyak dan margarin di wajan. Setelah minyaknya panas dan menyatu dengan margarin, ia pun lalu memasukkan irisan bawang merah dan bawang putih kedalam minyak panas tersebut. Aroma harum khas tumisan bawang merah dan bawang putih memenuhi ruangan.


Hendra merasa sudah ada yang tidak beres dengan dirinya. Mencium aroma tersebut membuat perutnya kembali mual. Ia pun lalu memilih untuk meninggalkan ruang itu. Ia sudah tidak tahan lagi dengan aroma tumisan bawang tersebut yang terasa menusuk hidungnya. Membuat kepalanya pusing dan ingin muntah saja.


"Kenapa aku jadi aneh begini? Kalo cuma mabok udara, nggak mungkin separah ini, kan?Biasanya juga kalo aku mencium aroma harum masakan istriku, perutku jadi semakin lapar. Kenapa sekarang aku malah mau muntah? Aneh." batin Hendra bingung.


"Sayang, aku ke belakang sebentar, yah. Panggil aku kalau kamu sudah selesai." ucap Hendra.


"Iya, sayang." jawab Tasya.


Hendra pun lalu melangkah keluar ke halaman belakang melewati pintu dapur menuju sebuah kursi taman yang terletak dibawah pohon ketapang kencana yang rindang. Ia ingin mencari udara segar di halaman belakang rumahnya yang luas itu.


Didapur, Tasya masih belum selesai dengan pesanan suaminya. Tania keluar kamar dan menghampiri kakaknya. Ia heran melihat Tasya yang masih sibuk didapur. Padahal ia sendiri sudah menyiapkan makanan tadi.


"Kak Tasya! Kakak ngapain masak lagi, aku kan udah masak?" tanya Tania seraya menghampiri Tasya.


"Oh, ini Dek, kakak lagi buatin nasi goreng buat Kak Hendra. Katanya dia cuma mau makan nasi goreng buatan kakak, nggak mau yang lain." jelas Tasya sambil terus mengaduk masakannya.


"Oh, hehehe. Kak Hendra lucu yah kak. Kayak orang ngidam aja," ujar Tania.


Tania meraih toples besar berisi kerupuk yang ada diatas meja makan. Ia lalu duduk sambil memasukkan sepotong kerupuk bawang kedalam mulutnya.


"Ngidam?"


Tasya mengeryitkan keningnya mendengar kata ngidam. Setelah ia cerna baik-baik, kedua sudut bibirnya tiba-tiba terangkat. Ia pun lalu mematikan kompornya karena nasi gorengnya memang sudah matang. Seketika perasaan bahagia menyeruak didalam hatinya, membayangkan dirinya benar-benar hamil.


"Jangan-jangan, aku hamil! Tapi, tunggu dulu! Masa Kak Hendra yang ngidam, sih? Memangnya ada yah, laki-laki yang ngidam? Bukannya yang ngidam itu cuma perempuan hamil? Tau ah, aku juga kurang mengerti dengan yang begituan." batin Tasya bingung.


"Untuk memastikan aku benar-benar hamil atau nggak, aku harus mengetesnya sendiri. Tapi sebaiknya aku nggak usah cerita dulu sama Kak Hendra. Kalo seandainya aku benar-benar hamil, aku mau bikin kejutan buat dia." batin Tasya lagi.