
"Sa-sayang, tunggu sebentar. Biar aku liat dulu, siapa tau penting," ucap Tania.
"Hem." gumam Radit. Ia tidak berhenti bermain diatas tubuh istrinya.
"Kak Tasya," ujar Tania. Radit pun menghentikan gerakannya sejenak.
"Ada apa?" tanya Radit yang masih setia menindih tubuh mungil milik istrinya.
"Nggak tau, coba aku angkat sebentar." Tania pun menggeser gagang hijau di layar smartphonenya.
"Halo! ***-"
"Mana Radit?" Belum sempat Tania menyelesaikan salamnya, sudah terdengar suara laki-laki yang menyahut di seberang telepon. Tidak salah lagi, orang itu pasti Hendra. Ia memakai ponsel istrinya untuk menghubungi pengantin baru itu karena beberapa kali panggilannya tidak di jawab oleh Radit.
"Ini," Tania menyodorkan ponsel miliknya itu pada suaminya.
"Siapa?" tanya Radit penasaran.
"Kak Hendra," jawab Tania hanya dengan gerakan mulut tanpa suara.
"Ck, mau apa lagi sih?" gumam Radit sambil berdecak kesal karena lagi-lagi yang menelpon adalah kakak sepupunya itu.
"Halo! Kenapa, Kak?" tanya Radit.
"Kamu lagi ngapain? Kok aku telpon tidak kamu angkat," tanya Hendra.
"Aku lagi sibuk, Kak. Jadi nggak sempat jawab telponnya tadi," jawab Radit.
"Sibuk apa? Memangnya kamu sibuk ngapain ditempat tinggal baru kamu malam-malam begini?" tanya Hendra penasaran.
"Aish, Kak. Nggak usah sok-sok polos deh. Ganggu orang aja. Kayak, Kak Hendra nggak pernah pengantin baru aja." jelas Radit. Ia merasa kesal pada Hendra. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Radit segera memutuskan sambungan telponnya. Ia pun kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya.
"Dret dret." ponsel milik Tania yang tadinya diletakkan sembarangan oleh Radit kini kembali berdering. Radit menghentikan gerakannya lalu memeriksa siapa lagi yang menelpon.
"Ck, sepertinya Kak Hendra sengaja deh." ucap Radit sembari berdecak kesal. Ia pun lalu menjawab panggilan Hendra yang menggunakan nomor Tasya. Namun kali ini Hendra melakukan panggilan video bukan panggilan suara seperti sebelumnya. Sepertinya ia penasaran ingin melihat siaran langsung permainan pengantin baru itu.
"Ada apa lagi, Kaaaaak?" tanya Radit setengah berteriak sambil mengarahkan wajahnya hingga memenuhi satu layar. Kali ini nada suaranya sudah meninggi saking kesalnya karena acaranya terusik.
"Eh, itu kamu lagi ngapain? Kenapa kamu keringatan begitu? Mana istrimu? Atau jangan-jangan---" ujar Hendra memberikan pertanyaan beruntun pada Radit. Namun Radit memotong ucapannya sebelum ia selesai berbicara.
"INI, LAGI AKU BOR. PUAS?!"
"Tuuuut." Saking kesalnya karena aktifitasnya selalu diganggu, Radit kemudian menonaktifkan ponselnya dan ponsel istrinya. Dengan begitu mereka lebih leluasa melanjutkan aktifitas mereka tanpa adanya gangguan dari orang jail seperti Hendra.
***
Kamar Hendra dan Tasya
Hendra sedang duduk di sofa. Ia terkekeh sambil memandangi layar ponsel yang sambungannya baru saja diputus oleh Radit secara tiba-tiba. Kali ini ia benar-benar berhasil mengerjai pengantin baru itu, terutamanya Radit. Ia merasa sangat puas karena berhasil membuat adik sepupunya itu marah dan kesal. Tasya yang heran melihat tingkah suaminya yang tertawa sendiri memutuskan untuk menghampiri dan duduk disampingnya.
"Ada apa, sayang? Kenapa kamu ketawa sendiri?" tanya Tasya penasaran.
"Kalau tidak ada apa-apa, terus kenapa kamu ketawa-ketawa sendiri?" tanya Tasya dengan tatapan menyelidik.
"Tidak, aku hanya lagi membayangkan pasangan pengantin baru, Radit dan Tania. Kira-kira, apa yang sedang mereka lakukan sekarang," jawab Hendra.
"Ih, kamu kurang kerjaan sekali, sayang. Buat apa kamu memikirkan mereka? Terserah mereka lah mau melakukan apa saja. Toh, sekarang mereka juga sudah sah menjadi pasangan suami istri."
"Kamu benar, sayang. Mereka sama seperti kita yang bebas melakukan apa saja. Iya, kan sayang." ucap Hendra sambil menaik turunkan alisnya.
"Ih, dasar genit!"
"Genit sama istri sendiri kan tidak apa-apa, sayangku."
"Iya, memang." balas Tasya.
"Sayang, keluar yuk! Aku lagi kepingin makan gorengan," ajak Tasya.
"Gorengan tidak baik untuk kesehatan, sayang."
"Iya, aku tau. Tapi sekali-kali kan tidak apa-apa. Apalagi ini anak kamu yang mau makan," jelas Tasya beralasan. Kalau sudah seperti itu, Hendra tidak mungkin melarangnya.
"Mm, boleh. Tapi, setelah yang satu ini," ucap Hendra setelah berpikir sejenak. Ia kemudian menggendong tubuh istrinya menuju tempat tidur.
"Ih, dasar nakal!"
"Cup." Hendra mencium bibir Tasya yang masih dalam gendongannya.
Setelah selesai melakukan aktifitas malam mereka di tempat tidur, mereka berdua segera membersihkan diri. Setelah itu, mereka kemudian bersiap-siap hendak berangkat keluar mencari makanan yang diinginkan oleh si ibu hamil. Kebetulan malam itu malam minggu, jadi Miko meminta mereka untuk mengajak Tantri dan mereka pun menyetujuinya.
Di Perjalanan
"Kita mau kemana sih, Kak?" tanya Tantri yang baru beberapa saat lalu masuk kedalam mobil. Ia duduk didepan disamping Miko yang sedang mengemudi.
"Biasa, nyari makanan." jawab Tasya.
"Oh, kirain aku mau diajakin nonton karena malam ini kan malam minggu,"
"Kamu mau nonton?" tanya Miko. Tantri terdiam, kelihatannya ia sedang berpikir.
"Hend, Lo sama Tasya tidak keberatan, kan kalau nanti habis beli gorengan kita ke bioskop,"
"Tidak masalah. Iya, kan sayang?"
"Kalau aku sih setuju-setuju saja karena aku juga suka menonton film."
Mendengar Hendra dan Tasya setuju, Tantri merasa sangat senang sekali. Ia pun membentuk jari hati menggunakan jari jempol dan telunjuknya lalu menunjukkannya pada Miko tanpa sepengetahuan dua orang dibelakang mereka.
Seneng deh, kak Miko orangnya pengertian banget. Batin Tantri sambil masih tersenyum ke arah Miko.
Miko membalas senyuman gadis itu. Melihat gadis yang ia cintai itu bahagia, sudah cukup membuat Miko ikut merasakan kebahagiaan.