How To Love You

How To Love You
Bab 172



Tantri geleng-geleng kepala melihat kelakuan pasangan sejoli didepannya.


"Woi! Masih ada orang dibelakang woi. Jangan mesra-mesraan mulu. Tega banget sih kalian menganiaya mata dan telingaku yang masih suci ini."


"Ih, adik ipar, kamu ganggu orang pacaran aja. Bisa nggak sih kamu pura-pura jadi nyamuk aja disitu," canda Radit.


"Enak aja, mending aku keluar aja dari sini daripada aku cuma dianggap nyamuk oleh kalian berdua." jawab Tantri. Ia lalu benar-benar keluar dari mobil.


"Tantri lucu banget yah sayang." kata Radit setelah melihat Tantri benar-benar keluar dan meninggalkan mereka berdua didalam mobil.


"Wajar lah, dia kan masih polos." ucap Tania.


"Bagaimana? Kamu belum menjawab pertanyaanku barusan," tanya Radit.


"Mm, entar aku pikirin dulu deh." jawab Tania.


"Ih, sayang jangan kelamaan. Kamu nggak kasian apa sama aku?" tanya Radit dengan nada manja sembari merengek.


"Eh, Dit, sejak kapan kamu jadi manja kayak gini sih?" tanya Tania. Ia merasa gemas dengan sikap pacarnya itu.


"Sejak tadi. Aku udah nggak sabar pengen dimanjain sama istri sendiri." jawab Radit.


"Kamu dapat kata-kata dari mana sih? Perut aku mules tau dengernya." ledek Tania sambil tertawa.


"Saaayang, aku serius. Aku nggak lagi bercanda tau, kamunya malah ketawa. Apanya yang lucu coba?" kata Radit seraya memasang wajah cemberut.


Tania hanya tersenyum sambil menatap lekat wajah pemuda itu. Ia semakin gemas melihat wajah kekasihnya yang sedang pura-pura mengambek.


"Sayang, 1 minggu lagi kamu harus kasih jawaban ke aku, oke! Pokoknya aku nggak mau tau," ujar Radit.


"Emang aku setuju?" tanya Tania.


"Setuju atau nggak setuju, kalau udah lewat 1 minggu berarti jawaban kamu, iya. Titik!" ucap Radit.


"Ih, maksa banget. Kamu nggak sabaran banget sih, Dit jadi orang. Sabar dikit napa, orang sabar disayang Allah," kata Tania.


"Ngapain sih jawabannya ditunda-tunda mulu kalo akhirnya jawabannya sama aja." kata Radit.


"Kayaknya kamu yakin banget kalau lamaran kamu bakalan diterima." ujar Tania menyelidik.


"Yah iyalah sayang. Ngapain juga kamu masih mau jalan sama aku kalo akhirnya kamu mau nolak aku untuk yang kedua kalinya?" jelas Radit.


Tania hanya mengulum senyumnya mendengar ucapan Radit.


"Nia sayang, asal kamu tau, yah. Segala hal baik itu nggak baik kalo ditunda-tunda. Lebih cepat lebih baik. Mengerti!" jelas Radit.


"Elah, pintar banget nyari alasan." ucap Tania.


"Ck, kamu ini kalo dikasih tau malah ngeyel. Coba aja sana, tanya sama Pak Ustadz, pasti jawabannya sama kayak aku." ujar Radit.


"Terserah deh," ucap Tania pasrah.


"Berarti kita deal yah, 1 minggu lagi." kata Radit sambil menjabat tangan Tania.


"Hem." gumam Tania.


Radit merasa sangat senang sekali karena sebentar lagi ia akan mendapat jawaban dari Tania tentang kejelasan hubungan mereka kedepannya tanpa harus menunggu jawaban Tania lebih lama lagi.


***


Tantri berjongkok di pinggir teras depan mini market. Ia malas kembali ke dalam mobil karena ia tidak ingin mendengar atau bahkan menyaksikan Radit dan Tania bermesra-mesraan didalam sana.


Miko menarik pintu kaca mini market, ia heran melihat kenapa Tantri tiba-tiba saja berada disana. Ia pun segera menghampirinya lalu menyodorkan 1 bungkus cokelat di depan wajah Tantri.


Tantri terkejut. Ia segera mendongakkan kepalanya melihat dari mana benda itu berasal.


"Kak Miko!" ucap Tantri seraya berdiri dari posisinya.


"Ini, ambil! Kamu bilang mau makan ini, kan tadi," ujar Miko.


Tantri tersenyum lebar seraya mengangguk. Ia lalu menerima cokelat tersebut dari tangan Miko.


"Makasih yah, Kak!" seru Tantri.


"Iya, sama-sama. Ayo kita kembali ke mobil!" ajak Miko.


"Bentar dulu Kak. Kita tunggu Kak Tasya sama Kak Hendra disini aja dulu sampai mereka keluar." kata Tantri.


"Kenapa?" tanya Miko heran.


"Aku malas nyaksiin Kak Tania sama Kak Radit mesra-mesraan didalam sana." jawab Tantri seraya mengerucutkan bibirnya.


"Hahaha. Jangan bilang kamu juga mau seperti mereka tapi kamu tidak punya pasangan untuk diajak," canda Miko.


"Ih, Kak Miko apaan sih? Nyebelin banget." ucap Tantri seraya memukul lengan Miko karena kesal dengan tuduhan pria itu.


"Hahaha. Jangan marah, aku cuma bercanda." ucap Miko sembari mengelus kasar kepala Tantri.


"Yah sudah, ayo kita tunggu mereka keluar." kata Miko.


Setelah beberapa saat menunggu, Hendra dan Tasya pun akhirnya selesai berbelanja. Mereka berempat pun lalu sama-sama kembali kedalam mobil.


Diperjalanan pulang,


"Tantri!" panggil Tasya.


"Iya Kak, ada apa?" tanya Tantri.


"Kamu bermalam dirumah aja, yah Dek. Soalnya kita pulang kan nggak lewat depan rumah Ayah sama ibu," ujar Tasya.


"Terserah Kak Tasya aja deh. Terus, seragam sekolah aku gimana?" tanya Tantri.


"Besok kamu pulangnya pagi-pagi sekali buat siap-siap." jawab Tasya.


"Terserah Kak Tasya aja." balas Tantri.


Malam itu mereka semua bermalam dirumah Hendra dan Tasya. Tidak terkecuali Radit dan Tania. Tania memang sering bermalam disana, beda halnya dengan Tantri. Tantri jarang sekali bermalam disana karena ia harus ke sekolah pagi-pagi. Baru kali ini ia bermalam disana disaat bukan hari libur. Biasanya ia bermalam disana saat malam minggu saja. Itu pun sebenarnya sangat jarang sekali ia lakukan.