
Kediaman Keluarga Pak Rudi, Pukul 07:00 Malam
"Tok tok tok."
Tantri datang membukakan pintu.
"Assalamu'alaikum." sapa Pak Rahmat saat melihat pintu terbuka.
"Wa'alaikum salam. Eh Om Rahmat sama Kak Radit," jawab Tantri.
"Ayah dan Ibumu ada?" tanya Pak Rahmat.
"Iya, Om ada didalam. Silahkan masuk!" jawab Tantri.
"Iya. Terima kasih."
Pak Rahmat pun kemudian masuk dan duduk diruang tamu.
"Tantri! Sini! Aku mau bicara sebentar," panggil Radit seraya masih berdiri diteras.
Tantri pun segera keluar menghampiri Radit.
"Ada apa, Kak?" tanya Tantri.
"Tania mana?" tanya Radit.
"Ada dikamarnya, kenapa?" jawab Tantri.
"Bisa minta tolong panggilin nggak, aku mau bicara sebentar." ujar Radit.
"Mm, tapi aku nggak yakin Kak dia mau keluar apa nggak," kata Tantri.
"Kenapa?" tanya Radit pura-pura tidak tahu.
"Jangan pura-pura deh Kak. Kalian pasti lagi berantem, kan? Iya, kan? Ngaku aja." ujar Tantri seraya menuding Radit.
"Kok tau, apa Tania bilang sesuatu ke kamu?" tanya Radit.
"Iya, Kak Tania bilang ke aku, katanya kalo Kak Radit datang nyariin, aku disuruh bilang nggak ada. Oops keceplosan." jawab Tantri spontan menutup mulutnya.
Radit terdiam sejenak.
"Yah udah, kamu boleh masuk." ucap Radit.
"Masuk dulu, Kak!" ajak Tantri.
"Nggak, nggak usah, aku duduk disini aja." jawab Radit.
Setelah Tantri masuk, Radit duduk bersandar di kursi teras sambil termenung.
"Semoga cara ini bisa berhasil. Aku nggak sanggup kehilangan kamu sayang." batin Radit.
Flash Back On
Sepulang Radit dari mengantar Tasya dan Hendra ke minimarket. Ia segera meluncur pulang ke rumahnya. Setelah memikirkan jalan keluar untuk masalahnya. Ia pun mantap ingin menemui Papa dan Mamanya. Sesampainya dirumahnya, ia mengajak Papa dan Mamanya berbicara diruang keluarga.
"Pa, Ma, Radit mau bicara sesuatu yang sangat penting pada kalian berdua." kata Radit.
Pak Rahmat dan Bu Risna saling tatap. Mereka sangat penasaran, karena Radit terlihat begitu serius.
"Kamu mau bicara apa, Dit?" tanya Bu Risna penasaran.
"Pa, Ma, Radit ingin membahas mengenai permintaan Radit tempo hari, mengenai hubungan Radit sama, Tania." jelas Radit.
"Oh, mengenai rencana ajakan pertunangan kalian. Rencananya Papa mau kerumah Rudi nanti malam. Sepertinya dia sudah tidak sibuk lagi sekarang." ujar Pak Rahmat.
Radit terdiam sejenak. Ia sedang memikirkan cara untuk menyampaikan sesuatu yang mengejutkan pada kedua orang tuanya. Radit menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Ia memberanikan diri untuk mengungkapkan keputusan yang telah ia ambil tadi.
"Pa, Ma, Radit nggak mau tunangan sama Tania," ucap Radit.
Bu Risna tahu bahwa Radit sangat menyukai Tania. Ia tidak habis pikir, kenapa Radit tiba-tiba saja mengambil keputusan untuk membatalkan rencana ajakan pertunangan mereka.
"Iya, kenapa Nak? Padahal Papa sama Mama sudah sangat setuju dengan hubungan kalian." timpal Pak Rahmat.
Pak Rahmat juga tidak kalah terkejutnya. Mungkinkah Radit berpindah ke lain hati? Pikir Pak Rahmat.
"Radit, pikirkan kembali keputusanmu itu Nak. Mama juga sudah terlanjur sayang sama Tania. Mama juga sudah menganggap dia seperti anak perempuan Mama sendiri." sambung Bu Risna.
"Iya Radit. Apa kata Rudi dan Indah nanti?" lanjut Pak Rahmat.
"Papa sama mama dengerin Radit dulu. Radit belum selesai ngomong," jelas Radit.
Pak Rahmat dan Bu Risna terdiam. Mereka ingin mendengarkan penjelasan anak mereka sebelum mereka melanjutkan komentar mereka.
"Pa, Ma, Radit tidak mau bertunangan dengan Tania. Tapiiiii, Radit mau ... menikah saja sama Tania." jelas Radit pelan tidak ingin membuat Papa dan Mamanya terlalu shock.
"Apa?" tanya Pak Rahmat dan Bu Risna bersamaan.
Mereka sangat terkejut mendengarkan pernyataan anaknya. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan oleh anak laki-laki mereka satu-satunya.
"Ra Radit, jangan bercanda kamu Nak. Mama tidak salah dengar, kan?" ujar Bu Risna masih kurang percaya.
Bu Risna sangat terkejut mendengar pernyataan anaknya. Meskipun selama ini yang ia tahu, Radit memang sepertinya sudah tidak sabar untuk segera menikah. Hanya saja Bu Risna tidak menyangka kalau anaknya akan meminta dinikahkan secepat itu. Ia pikir Radit akan menunggu sampai ia lulus kuliah, nyatanya tidak.
"Dari mana kamu bisa mengambil keputusan seperti itu Radit? Nak, menikah itu bukan perkara main-main. Menikah itu bukan hanya tentang menyatukan dua insan saja. Tapi juga menyatukan dua keluarga besar. Papa tidak mau kamu menganggap pernikahan itu main-main Nak." jelas Pak Rahmat.
"Pa, Radit tidak bermaksud mempermainkan pernikahan ataupun bermain-main dengan pernikahan. Radit hanya ingin menikah satu kali seumur hidup. Dan, itu pun Radit hanya ingin dengan Tania saja. Radit tidak mau yang lain." tegas Radit.
Pak Rahmat dan Bu Risna tidak percaya dan tidak menyangka, anak pertama mereka meminta dinikahkan diusianya yang masih sangat muda.
"Dit, Mama kan sudah bilang. Kalau kamu mau minta dinikahkan, selesaiin dulu kuliah kamu Nak. Kamu ini masih sangat muda, anak seusiamu masih ingin menikmati masa muda mereka. Mereka masih ingin bebas mencari jati diri mereka. Mama tidak menyangka kamu malah berpikir untuk berumah tangga di usiamu yang masih 20 tahun. Apa kamu sanggup mengemban tugas sebagai kepala keluarga? Menjadi kepala keluarga itu tidaklah mudah Nak, kamu harus bisa menjadi pemimpin yang baik untuk istri dan anak-anakmu kelak. Apa kamu sanggup?" jelas Bu Risna panjang
lebar tidak ingin anaknya keliru dalam mengambil keputusan.
"In sha Allah, Radit pasti bisa Ma. Radit akan berusaha untuk bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik." jawab Radit mantap.
"Radit, kalau kamu mau menikah, bagaimana dengan kuliah kamu nanti, Nak?" tanya Bu Indah khawatir.
"Ma, Pa, rencananya Radit ingin cuti kuliah dulu. Sebenarnya kuliah itu penting nggak penting sih menurut Radit." jawab Radit.
"Apa kamu yakin?" tanya Pak Rahmat.
Setelah Radit meyakinkan Papa dan Mamanya, Pak Rahmat dan Bu Risna pun akhirnya menyetujui permintaan anaknya. Meskipun keduanya tidak begitu yakin lamaran mereka akan diterima mengingat Tania masih berusia 18 tahun. Mereka berdua masih tergolong sangat muda untuk mengarungi bahtera rumah tangga.
Flash Back Off
****
Setelah cukup lama berbincang-bincang sambil berbasa-basi. Pak Rahmat pun akhirnya mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah orang tua Tania.
"Begini Rud, aku kesini ingin membahas tentang pembicaraan kita yang sempat tertunda minggu lalu," jelas Pak Rahmat.
"Oh iya, aku baru ingat. Aku minta maaf Mat, akhir-akhir ini aku sibuk mengurus padi yang terlambat dipanen si sawah." balas Pak Rudi.
"Iya, aku mengerti." ucap Pak Rahmat maklum.
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Pak Rudi.
"Bukan hanya kamu, tapi, kalian berdua." jawab Pak Rahmat.
"Sepertinya sangat penting." kata Pak Rudi.
"Iya, ini mengenai anak-anak kita, Radit dan Tania. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya sebelumnya padamu," ujar Pak Rahmat.
"Oh iya, aku baru ingat. Maaf, maaf, akhir-akhir ini aku sangat sibuk dan banyak pikiran jadi aku gampang lupa. Maklumlah, kita juga sudah cukup berumur," lanjut Pak Rudi.
"Iya tidak apa-apa. Begini Rud, Indah, aku datang kemari untuk melamar anakmu, Tania untuk aku nikahkan dengan anakku, Radit." jelas Pak Rahmat.