How To Love You

How To Love You
Bab 80



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu ya.


...----------------...


"Tania. Tunggu Tania." panggil Yuda seraya menarik tangan Tania.


Rossa hanya mengeryitkan kening melihat pemandangan yang ada didepannya. Ia tidak marah sedikitpun atau mau ikut campur urusan pribadi Yuda. Karena ia sadar kalau Yuda dan dirinya barusan hanya bermain-main untuk melampiaskan nafsu birahi mereka yang sudah membuncah.


"Lepaskan tangan saya Kak Yuda, saya buru-buru. Dan maaf, tadi saya nggak liat kok. Beneran." ucap Tania seraya berusaha melepas tangannya dari cengkraman Yuda. Tapi Yuda mencengkram pergelangan tangan Tania dengan sangat kuat sehingga Tania sulit melepaskan diri.


"Nggak Tania. Aku bisa jelasin. Ini nggak seperti yang kamu kira." ujar Yuda berusaha membujuk Tania. Ia tidak rela kalau Tania membenci dan menjauhinya. Karena ia belum berhasil mengambil sesuatu yang sangat berharga milik gadis itu yang selama ini ia incar.


"Nggak usah. Kak Yuda nggak perlu jelasin apa-apa. Kita berdua kan juga nggak punya hubungan apa-apa. Jadi, nggak ada yang perlu dijelasin. Saya mohon, Kak Yuda tolong cepat lepasin tangan saya. Saya sedang buru-buru." tegas Tania.


"Nggak Tania. Nggak. Aku nggak mau lepasin tangan kamu sebelum kamu mendengar penjelasanku." Yuda tetap ngotot. Ia tetap tidak mau melepaskan tangan Tania.


Entah apa yang ingin Yuda jelaskan pada Tania. Jelas-jelas Tania sudah melihat sendiri secara langsung sifat asli dan kelakuan buruknya.


"Lepaskan Kak Yuda. Saya mohon. Tolong lepaskan tangan saya." ucap Tania seraya meronta berusaha melepaskan diri.


"Hei. Yuda brengs*k, jangan sentuh pacarku." teriak Radit yang tiba-tiba masuk ke dalam toilet itu.


"Bruk." Pukulan mendarat di pipi kanan Yuda. Yuda jatuh tersungkur di lantai karena Radit meninju pipinya dengan sangat keras. Darah segar mengalir di sudut bibir Yuda. Yuda tidak melawan dan tidak berkata apa-apa karena ia sadar Radit berada dipihak yang benar. Yang ia tahu Radit itu pacar Tania.


"Aargh ... baby kamu nggak apa-apa?" pekik Rossa seraya menghampiri Yuda dan membantunya bangun. Yuda mendorong Rossa dengan pelan ke belakang seraya memberikan isyarat untuk mundur.


"Dit. Sudah. Jangan bikin keributan disini. Ayo kita tinggalkan tempat ini." ajak Tania sambil menarik lengan Radit.


"Tunggu sebentar yah sayang. Aku masih ada urusan sama dia." ucap Radit seraya melepaskan tangan Tania yang melingkar di lengannya.


Radit mencengkram kerah baju Yuda. Yuda ingin melepaskan diri namun tidak sempat karena Radit dengan cepat melayangkan pukulannya.


"Bruk." Pukulan kedua Radit lancar mendarat di pipi kiri Yuda. Yuda terhuyung saat Radit mendorongnya kebelakang hingga akhirnya ia kembali terjatuh ke lantai.


Radit sangat marah dan emosi pada Yuda. Tapi ia lega karena kedok Yuda berhasil terbongkar di depan Tania tanpa perlu ia bersusah payah. Dan satu lagi, Radit juga sangat puas karena sudah menghajar Yuda yang telah berani menghinanya.


"Bagaimana rasanya dipukul sama banci? Hah? Enak?" ledek Radit sambil menyeringai sinis. Ia pun lalu menghampiri Tania yang berdiri didekat sudut ruangan.


"Pak, cepat tangkap pak! Itu dia orang yang berbuat mes*m di toilet." seru Liana pada dua orang petugas keamanan yang datang bersamanya. Tadi, saat Radit menguping keadaan didalam toilet, Liana pergi melapor pada petugas keamanan.


"Liana? Kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Yuda kaget saat Liana tiba-tiba muncul bersama dua orang petugas keamanan.


Liana tersenyum penuh kemenangan karena berhasil memberikan pelajaran pada mantan pacarnya yang sangat ia benci itu. Sedangkan sekarang Tania sudah berada disamping Radit. Radit merangkul bahu Tania dan membawanya keluar dari tempat itu.


Radit menoleh dan tersenyum ke arah Liana seolah-olah mengucapkan terima kasih. Liana membalasnya dengan tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Berkat Radit juga, Liana bisa memberi pelajaran pada Yuda. Jadi mereka berdua sama-sama diuntungkan dalam kejadian ini.


Yuda dan Rossa pun dibawa pergi ke pos keamanan oleh kedua petugas keamanan tersebut. Yuda tidak berani menuduh siapapun yang menjebaknya, karena ini memang murni kecerobohannya sendiri. Ia dan Rossa berani 'kikuk-kikuk' di toilet mall.


Yang Yuda pikirkan sekarang adalah, kenapa tiba-tiba Liana datang bersama kedua orang petugas keamanan yang membawanya itu. Apakah Liana memata-matainya? Bagaimana juga Radit bisa tahu kalau ia sudah menghinanya dengan menyebutnya banci? Apa Tania yang memberi tahukannya pada Radit? Hal itu masih menjadi misteri didalam pikiran Yuda saat ini. Apakah ini sebuah kebetulan? Pikir Yuda.


***


Setelah Radit membawa Tania pergi meninggalkan tempat itu. Mereka berjalan sambil Radit masih merangkul bahu Tania. Tania masih terlihat shock dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Dit. Kita pulang aja yah." ajak Tania sambil terus berjalan bersama Radit.


"Loh, kok pulang sih Nia? Masa kita ke mall cuma buat numpang pipis doang." balas Radit sambil terus menuntun Tania.


"Mm ... aku lagi nggak enak badan soalnya." ucap Tania mencari alasan agar Radit mau menuruti kemauannya.


"Perasaan tadi waktu kita masuk kesini kamu baik-baik aja." Radit tidak rela kalau harus pulang secepat itu. Ia masih mau menikmati waktunya berdua dengan gadis pujaan hatinya.


"Mm ... tiba-tiba aja aku merasa nggak enak badan. Dit, kita pulang aja yah." bujuk Tania pada Radit sambil melihat keatas menatap wajah Radit yang lebih tinggi darinya.


"Sudahlah Nia. Jangan banyak alasan. Aku yakin, ini pasti ada kaitannya dengan si Yuda brengs*k itu." ujar Radit sambil terus berjalan merangkul bahu Tania.


Tania terdiam. Ia sadar yang Radit ucapkan itu memang benar.