
Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.
...----------------...
Kamar Radit.
Saat Radit semakin dekat dengan Tania, hingga hanya tersisa jarak kurang lebih 1,5 meter. Tania pun melancarkan aksinya. Ia pura-pura pingsan dan menjatuhkan dirinya ke lantai. Dan benar saja, Radit jadi panik dan khawatir melihat Tania jatuh pingsan dihadapannya. Ia segera menghampiri Tania dan menggendongnya naik ke kasurnya.
"Sialan. Dia menang banyak kalau begini. Bukannya memanggil bantuan malah menggendongku. Huh." batin Tania kesal yang sedang pura-pura pingsan.
"Nia, bangun Nia. Tania bangun." ucap Radit sambil menepuk pelan pipi Tania. Terlihat raut kekhawatiran melekat diwajahnya.
"Aku nggak mau bangun kalau kamu belum buka pintunya dan keluar minta bantuan." batin Tania.
"Nia. Aku minta maaf. Aku cuma mengerjai kamu tadi. Aku nggak mau macam-macam kok sama kamu. Aku cuma bercanda Nia, betulan. Ayo bangun Nia! Aku mohon." ucap Radit khawatir sambil terus menepuk-nepuk pipi Tania.
"Apa?? Sialan kamu Dit. Ayo sana, cepat keluar minta bantuan." batin Tania.
"Apa aku tadi bercandanya keterlaluan yah?" ucapnya sambil memikirkan kelakuannya sendiri.
"Tuh, udah tau. Masa bercandanya yang seperti itu sih. Nggak kapok apa tadi malam aku diemin. Bercandanya benar-benar kelewatan. Huh, dasar cowok menyebalkan." batin Tania kesal.
"Apa aku keluar minta bantuan aja yah?" ucap Radit seraya berpikir.
"Iyalah. Ayo sana, cepat keluar. Itu yang aku mau dari tadi." batin Tania.
"Ah, nggak bisa nggak bisa. Kalau aku sampai keluar, mama pasti berpikir yang enggak-nggak tentang aku dan Tania. Aku nggak mau kehilangan separuh 'senjataku'. Aku belum pernah memakainya sekali pun. Sayang sekali kan kalau harus dipotong." ucap Radit.
"Ih gimana sih plin-plan banget. Itu lagi, senjata apa coba maksudnya? Apa dia punya senjata tajam disini? Tapi dimana? Aku tidak melihat yang aneh-aneh tadi. Ah, mungkin dia menyimpan senjatanya itu di laci, atau mungkin didalam lemari. Tapi kira-kira senjata apa yah? Kok katanya mau dipotong. Dan sepertinya Radit sangat sayang pada senjatanya itu. Saking sayangnya, dia belum pernah pakai sekalipun, pasti karena takut lecet. Eh, ngapain sih aku mikirin senjatanya si Radit? Mending aku mikirin bagaimana caranya bisa keluar dari sini secepatnya." batin Tania. Dia masih sangat polos sehingga tidak mengerti maksud perkataan Radit.
"Ah, aku ingat. Di laci ada minyak angin yang ampuh menyadarkan orang pingsan." Radit segera membuka laci meja nakasnya dan mengambil minyak angin tersebut.
"Ih, bau apaan sih nih. Menyengat banget bikin hidung aku perih tau nggak. Mataku juga kok bisa ikut-ikutan perih begini sih?" batin Tania.
Radit mengernyitkan keningnya curiga melihat mata Tania yang berkedut-kedut seperti dipaksa terpejam.
"Jangan-jangan dia cuma pura-pura pingsan. Ck, aku punya ide. Aku punya cara terampuh membangunkan orang yang pura-pura pingsan." batin Radit senyam-senyum.
"Kenapa minyak angin ini nggak ampuh yah? Biasanya ini paling ampuh. Atau mungkin minyak anginnya udah kadaluarsa kali yah." ucap Radit sedikit mengeraskan suaranya dari yang tadi.
"Mungkin aku harus memakai cara lain untuk membangunkan Tania." imbuh Radit sambil mengulum tawanya.
"Ahha ... aku punya ide." Radit.
"Hei apa yang mau kamu lakukan? Jangan macam-macam, cepat panggil bantuan sana." Tania.
"Nia sayang. Bibir kamu sungguh cantik dan imut." ujar Radit sambil terus menahan tawanya. Ia yakin caranya kali ini pasti akan berhasil. Membangunkan Tania yang pura-pura pingsan.
"Bibirku? Hei Radit mes*m jangan macam-macam dengan bibirku. Aku tidak mau kamu mengambil ciuman pertamaku. Aku tidak mencintaimu. Dasar cowok menyebalkan." batin Tania marah dan kesal.
"Rasanya aku ingin sekali menciumnya. Aku mengambil ciuman pertamamu dan kamu mengambil ciuman pertamaku. Jadi, kita sama-sama impas kan? Kita sama-sama baru pertama kali melakukannya. Pasti akan sangat berkesan seumur hidup kita." ucap Radit.
"Hei kamu sudah gila yah. Apanya yang berkesan? Hanya kamu yang diuntungkan jika ini sampai benar-benar terjadi." batin Tania.
Radit pun mendekatkan wajahnya untuk menggoda Tania. Berharap Tania akan cepat-cepat bangun dari kepura-puraannya.
"Kamu menjadi berlipat-lipat kalu lebih cantik Nia saat dilihat dari jarak yang sangat dekat." batin Radit.
"Maaf Nia. Tadinya aku hanya ingin mengerjaimu. Tapi sekarang aku benar-benar menginginkanmu. Aku sangat mencintaimu Nia dan jadilah milikku." batin Radit sambil terus mendekatkan bibirnya pada bibir Tania.
Jelas saja, Radit itu laki-laki normal yang mempunyai nafsu. Apalagi gadis yang ada dihadapannya adalah gadis yang ia cintai.