How To Love You

How To Love You
Bab 137



Flash Back On


Usai shalat zhuhur, Tasya masuk kedalam kamar mandi. Ia sudah tidak sabar untuk melakukan tes kehamilan. Setelah beberapa menit ia pun keluar. Tasya berjalan menghampiri suaminya yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Wajah Hendra tampak sangat kusut, pucat dan tidak bersemangat. Perasaan pusing dan mual yang tiba-tiba melanda membuatnya merasa sangat tersiksa dan tidak nyaman.


"Sayang!" panggil Tasya.


Tasya berjalan mendekati suaminya. Ia lalu berhenti setelah jarak di antara mereka hanya tersisa sekitar 2 meter saja.


"Iya sayang?" sahut Hendra.


"Kenapa wajahmu kusut begitu, sayang?" tanya Tasya.


"Perasaanku sedang tidak enak, sayang. Kepalaku juga terasa pusing, mungkin aku anemia." jawab Hendra.


Tasya tersenyum mendengar jawaban dari suaminya.


"Bukan karena anemia, sayang. Tapiiii," ucap Tasya menggantung.


"Lalu apa sayang kalau bukan anemia?" tanya Hendra bingung.


"Tapi karena ini," seru Tasya seraya mengacungkan test pack yang ia sembunyikan dibalik punggungnya tadi.


"Taraaaa, kejutaaaan!" seru Tasya.


Untuk beberapa saat Hendra sempat melongo melihat istrinya menunjukkan test pack itu. Ia pikir dirinya sedang bermimpi. Selama ini, ia memang sangat menginginkan istrinya untuk hamil anaknya secepatnya. Ternyata ikhtiarnya selama ini tidak sia-sia.


Pelan-pelan Hendra meraih test pack yang ditunjukkan oleh istrinya. Ia melihat ada dua garis di bagian control zone alat tersebut. Bibirnya terasa kaku, ia tidak bisa berkata apa-apa. Senyumnya terus mengembang, ia merasa sangat bahagia sekaligus terharu.


"Alhamdulillah Yaa Allah. Sebentar lagi aku akan jadi seorang ayah." batin Hendra.


Tidak terasa butiran kristal bening perlahan-lahan mengalir dipipi Hendra. Ia mengusap kedua ujung matanya yang basah secara bergantian sembari terus menatap benda kecil yang ada ditangannya. Kejutan kecil dari istri tercintanya mampu mengalihkan dunianya.


"Sayang, kenapa kamu menangis, hmm?" tanya Tasya.


"A a-ku sangat terharu sayang. Aku bahagiaaa sekali." jawab Hendra tersenyum sambil terus mengusap air matanya yang sempat lolos.


Tasya ikut terharu melihat suaminya yang begitu bahagia mengetahui dirinya hamil. Saat itu mereka merasa sangat bahagia sekali melebihi apapun. Tidak lama lagi rumah besar mereka akan dihiasi oleh tawa dan tangisan seorang anak kecil.


"Sini sayang," panggil Hendra seraya mengulurkan tangannya.


Tasya pun menghampiri suaminya seraya meraih uluran tangan sang suami. Hendra lalu mendekap istrinya dengan penuh cinta. Ia merasa sangat bahagia sekali melebihi apapun. Gadis cantik berbadan mungil itu sudah sudi mengandung anaknya. Hendra merasa rasa cintanya pada sang istri semakin bertambah berpuluh-puluh kali lipat.


"Terima kasih, sayang karena kamu mau mengandung anakku," ujar Hendra seraya memeluk istrinya dengan erat.


Tasya hanya mengangguk sambil membalas pelukan suaminya.


"Mulai detik ini, hingga 9 bulan kedepan. Aku akan ekstra menjaga dan memanjakanmu, sayangku." ucap Hendra lalu mencium puncak kepala istrinya.


Tiba-tiba, Hendra merasa ada yang aneh, ia merasa tidak suka dengan wangi shampo yang dipakai istrinya. Rasanya kepalanya agak pusing dan ia sedikit mual mencium aroma tersebut. Tapi ia mencoba menahannya, ia lalu memalingkan sedikit kepalanya agar hidungnya agak sedikit menjauh dari rambut sang istri. Ia tidak mau suasana bahagia yang mereka rasakan saat ini rusak hanya karena ia ingin memuntahkan isi perutnya di kamar mandi.


"Sayang, ngomong-ngomong, kamu pakai shampo apa?" tanya Hendra lembut tidak ingin istrinya tersinggung.


"Shampo yang biasa sayang. Memangnya kenapa?" tanya Tasya sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya.


"Mm, bisa tidak, mulai sekarang kamu tidak memakainya lagi?" kata Hendra.


"Kenapa sayang? Bukannya itu shampo favorit kamu." tanya Tasya sedikit bingung.


"Benarkah sayang?" tanya Tasya memastikan.


Hendra menjawabnya dengan sekali anggukan. Tasya lalu melepas pelukannya, ia tidak mau berlama-lama dipelukan suaminya meskipun sebenarnya ia masih ingin. Ia tidak mau suaminya merasa tidak nyaman karena mencium wangi shampo yang ia kenakan. Semenjak ia mengetahui dirinya positif hamil beberapa menit yang lalu, ia sudah menyimpulkan bahwa saat ini Hendra sedang mengidam. Ia mengingat hal yang diceritakan oleh Tania tentang ucapan Pak Yusuf.


"Baiklah sayang. Nanti aku akan mengganti shamponya dengan shampo merek lain." ujar Tasya.


"Iya, terima kasih istriku sayang. Kamu sangat pengertian," ucap Hendra seraya mencium tangan istrinya.


Lagi-lagi Hendra mencium wangi lotion yang dikenakan oleh Tasya. Ia merasa sekarang hidungnya sangat sensitif dengan bau-bauan. Ia merasa pusing dan mual mencium aroma lotion tersebut.


"Kenapa indera penciumanku jadi aneh begini? Tadi aroma bawang, sekarang aroma shampo dan lotion. Benar-benar aneh." batin Hendra bingung.


"Sama-sama, sayang." balas Tasya.


"Mm, sayang. Kalau kamu ganti shamponya, sekalian lotion yang kamu pakai juga kamu ganti, yah. Aku juga kurang suka dengan baunya." jelas Hendra.


"Eh, lotionnya juga diganti, sayang? Bukankah kamu paling suka dengan aroma lotion itu?" tanya Tasya bingung sambil mengernyitkan keningnya.


"Itu dulu sayang, sekarang tidak lagi." jawab Hendra.


Tasya tiba-tiba tergelak mendengarkan ucapan suaminya. Ia ingat kalau Hendra sekarang sedang mengidam.


"Hahaha."


"Kenapa kamu ketawa sayang, apanya yang lucu?" tanya Hendra yang bingung melihat istrinya yang tiba-tiba saja tertawa.


"Hahaha. Kamu lucu sekali, sayang. Katanya mau ekstra jagain aku selama 9 bulan. Eh, tau-taunya baru cium aroma gitu aja udah pusing," ujar Tasya sambil masih tertawa.


"Hehhe. Itu juga aku tidak tahu sayang. Belakangan ini aku merasakan ada sedikit perubahan aneh pada diriku sendiri." kata Hendra sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Itu karena kamu sedang ngidam, sayang." jelas Tasya.


"Hah! Aku ngidam? Masa sih?" tanya Hendra seolah tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


"Iya, sayang. Kamu yang ngidam, bukan aku," jawab Tasya sambil masih tertawa.


"Kok bisa? Kamu yang hamil kok aku yang ngidam," ucap Hendra bingung.


Ini pertama kalinya Hendra tahu kalau laki-laki juga bisa mengidam seperti layaknya ibu hamil.


"Yah bisa lah sayang. Ini kan anak kamu,"


Akhirnya Hendra mengerti, kenapa akhir-akhir ini ia merasa sedikit aneh dengan dirinya sendiri.


"Huft, pantas. Sayang, padahal sebelumnya aku sudah tidak sabar ingin memanjakan kamu saat kamu sedang hamil. Bahkan aku juga tidak sabar ingin melihat kamu minta ini itu padaku saat kamu sedang ngidam. Eh tau-taunya malah aku yang ngidam," jelas Hendra seraya menghembuskan napasnya kasar.


Tasya hanya tertawa mendengar pengakuan dari suaminya. Hendra tidak pernah menyangka kalau kejadiannya akan seperti ini. Semua yang ia bayangkan dulu dan semua yang ia rencanakan dulu, berbanding terbalik dengan kenyataannya. Sebelumnya ia ingin memanjakan dan memenuhi semua permintaan istrinya. Nyatanya sebaliknya, justru ia yang merasa ingin di manjakan oleh sang istri.


"Tapi, tidak apa-apa sayang, ibaratnya sekarang kita sedang bagi tugas. Kamu yang hamil dan aku yang ngidam." ujar Hendra seraya tersenyum.


Hendra merasa bersyukur karena dia yang merasakan ngidam, bukan istrinya. Ia membayangkan betapa tersiksanya sang istri jika harus merasakan semua itu. Cukuplah Tasya menanggung beban mengandung selama sembilan bulan. Ditambah lagi rasa tidak nyaman yang harus ditanggungnya apabila perutnya semakin hari semakin membesar. Hendra merasa tidak tega kalau istrinya harus menanggung semua itu. Ia merasa bersyukur karena setidaknya beban istrinya sedikit berkurang.


Flash Back Off